Palsukan Dokumen, 3,9 Ton Bawang Ilegal Disita Polisi

Palsukan Dokumen, 3,9 Ton Bawang Ilegal Disita Polisi
Kasar Reskrim Polres Pidie AKP Mahliadi dan anggota polisi saat mengawal dua pelaku pengangkut bawang merah ilegal, di Mapolres Pidie, Sabtu, 25/5/2019 (Foto: Amiruddin/Pidie dan Pidie Jaya)
Penulis
Sumber
Amiruddin/Reporter Pidie dan Pidie Jaya

Sigli | Satuan Reserse Kriminal (Sat Reskrim) Polres Pidie, menciduk dua pelaku pemasok bawang merah ilegal dari India, Jumat (24/5/2019). Jumlahnya 400 karung seberat 9 kilogram atau setara 3,9 ton. Pelaku juga mengantongi foto copy sertifikat pelepasan karantina tumbuhan/keamanan pangan segar asal tumbuhan (PSAT) dari Bidang Karantina Pertanian Medan, 13 Maret 2019. Nah, ternyata dokumen tersebut palsu.

Kedua pelaku adalah, Amri Bin Ismail (46) warga Gampong Jeurat Manyang, Kecamatan Mutiara Timur dan Anwar Bin M.Yusuf (36) warga Gampong Sagoe Teumpuen, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie. Keduanya saat ini harus mendekam di sel Mapolres Pidie.

Kasat Reskrim Polres Pidie AKP Mahliadi kepada MODUSACEH.CO, Sabtu (25/5/2019) menjelaskan. Jum’at (24/5/2019), sekira pukul 09.30 WIB pihaknya menangkap dua pelaku pengangkut dan pembawa bawang ilegal asal India di Jalan Banda Aceh-Medan, Pasar Beureunun Kecamatan Mutiara Pidie.

Setelah dilakukan pengecekan pangan di wilayah Pasar Bereeunuen dan saat dilakukan pemeriksaan oleh Resmob Sat Reskrim Polres Pidie, muncul curigai terhadap satu truck yang berada di jalan dan ditemukan bawang ilegal yang sudah dibungkus karung. "Jadi pelakunya dua orang," jelas dia.

Masih kata Mahliadi, saat dilakukan pemeriksaan kedua pelaku tidak dilengkapi dengan sertifikat kesehatan serta tidak melalui proses karantina dan tidak memiliki izin perdagangan, sehingga kedua pelaku dan barang bukti diboyong ke Sat Reskrim Polres Pidie untuk menjalani pemeriksaan. "Mereka sudah kita tahan," tegasnya.

Menurut Mahliadi, mereka berdua melanggar Pasal 31 Ayat 1 UURI, Nomor 16 Tahun 1992, tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan Jo, Pasal 106 jo Pasal 109 jo Pasal 110 UURI, Nomor 7 Tahun 2014, tentang Perdagangan Jo Pasal 263 ayat 1 jo pasal 55 ayat 1 ke 1e dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun.

Diduga, barang tersebut diambil di Kuala Ceurape, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten  Bireuen dan hendak dipasarkan di Kabupaten Pidie. "Kita akan segera meminta ahli untuk memeriksa," jelas dia.

Selanjutnya, Rabu, (28/5/2019) akan diperiksa oleh Ahli Badan Karangtina Kelas 1 Banda Aceh. Pihaknya sudah menyurati ahli tersebut. "Kita lihat nanti setelah diperiksa ahli pertanian," ucap Mahliadi.***

Komentar

Loading...