Dianggap Ringan Tuntut Terdakwa

Oknum Jaksa Kejari Jantho Dilapor ke Komisi Kejaksaan

Oknum Jaksa Kejari Jantho Dilapor ke Komisi Kejaksaan
Kakak korban.

Aceh Besar | Keluarga korban pemukulan melaporkan oknum Jaksa Penuntut Umum (JPU) berinisial A dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Jantho ke Komisi Kejaksaan, Selasa (7/11/18).

Laporan itu dibuat Susi Susanni karena kecewa terhadap kinerja A, yang menuntut ringan tersangka pemukulan adiknya, Muhammad Rafsanjani.

Susi menjelaskan, ia berinisiatif melaporkan A karena terkesan ada permainan dalam tuntutan JPU terhadap tersangka, karena hanya menuntut 1,6 tahun penjara. Sebaliknya, adiknya yang diduga sebagai korban pemukulan tersangka telah lumpuh atau cedera permanen.

"Saya melaporkan oknum jaksa tersebut karena terkesan seperti adanya permainan dalam tuntutan adik saya," jelas Susi pada media ini, Selasa malam.

Dalam laman SIPP Pengadilan Negeri Jantho, JPU menjerat para terdakwa dengan pasal 170 Ayat (2) Ke 2 KUHP dengan menjatuhi hukuman 1 tahun 6 bulan.

"Sungguh kami sangat kecewa atas tuntutan jaksa tersebut, adik kami yang dianiaya para terdakwa yang sekarang cacat permanen namun tuntutannya hanya segitu," tambah Susi.

Susi juga menjelaskan, saat persidangan pemerikasaan saksi, juga sudah pernah dilaporkan ke Kejati Aceh dan Komnas HAM, namun rasa kecewa atas tuntutan jaksa seperti tidak memberikan keadilan bagi adiknya.

"Sebelumnya juga sudah pernah kami laporkan ke Kejati Aceh dan Ke Komnas HAM. Bahkan salah satu dari orang Kejati menelpon dan meminta jaksa tersebut jangan ada kongkalikong (permainan-red) dalam kasus ini. Kami juga berharap ketika tuntutan adanya keadilan bagi adik kami yang telah dianiaya oleh tersangka yang telah cacat permanen," ungkapnya.

Susi mengharapkan, dalam kasus ini agar majelis hakim dapat melihat fakta yang sebenarnya, sehingga kasus yang diputuskan pun bisa memberi keadilan bagi keluarganya.

"Kami mengharap, agar majelis hakim yang menyidangkan perkara adik kami, dapat memberikan keadilan bagi kami sesuai fakta persidangan serta efek dari perbuatan terdakwa yang telah membuat adik kami cacat permanen," harapnya.

Dalam kasus ini, Muhammad Rafsanjani menjadi korban penganiayaan oleh pemilik usaha fotocopy di kawasan Ingin Jaya, Aceh Besar, tempatnya bekerja. Muhammad Rafsanjani dituduh mencuri sejumlah uang oleh majikannya. Namun, akhirnya tuduhan itu tidak dapat dibuktikan.

Dalam penganiaya itu, seluruh badan Muhammad Rafsanjani dipukul menggunakan besi bulat. Sehingga, sejumlah tulang patah. Lebih parahnya lagi, kedua belah paha juga patah dan mengakibatkan lumpuh permanen.

Polisi akhirnya menangkap dan langsung menjadikan tersangka majikan Muhammad Rafsanjani. Namun, saat disidang dalam agenda tuntutan, keluarga korban menilai JPU Kejari Jantho ringan menuntut terdakwa. Sebaliknya, kondisi Muhammad Rafsanjani sangat memperhatikan dan hingga kini masih dirawat di satu Rumah Sakit (RS) di Banda Aceh.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - tentukan pilihan Anda! -

Komentar

Loading...