Penulis adalah Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

Di Balik Pengakuan Ismayadi (bagian satu)

Oknum AP dan Wartawan “Kaleng-Kaleng”

Oknum AP dan Wartawan “Kaleng-Kaleng”
dok.MODUSACEH.CO

“Astaufirullah, kok tega ya,” begitulah ucap sejumlah rekan di Meja Kopi 87, Solong, Ule Kareng, Banda Aceh, Selasa pekan lalu. Ucapan itu terlontar,  ketika mereka mengetahui dan melihat rekaman pengakuan Ismayadi alias Adi, pelaku perusakan Kantor Redaksi Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, Selasa malam, 11 September 2018 lalu.

Kini, Adi terpaksa mempertangungjawabkan perbuatan keduanya itu sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh.

Sebelumnya, 24 Juni 2017 lalu, Adi juga melakukan perusakan serupa. Saat ditanya, Adi mengaku tersinggung dengan pemberitaan media ini, terkait status kasus mantan korupsi yang melekat pada TM. Nurlif, Ketua DPD Partai Golkar Aceh. Pengakuan ini pun sempat terlontar pada motif keduanya.

Begitupun, pengakuan pada aksi keduanya itu, sungguh membuat banyak pihak, terutama para jurnalis profesional di Banda Aceh, Aceh Besar serta Aceh umumnya, tak percaya. Sebab, Adi mengaku disuruh (provokasi) oleh oknum AP (yang mengaku sebagai wartawan) juga pimpinan perusahaan salah satu media online di Banda Aceh.

Pengakuan Adi juga termuat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), penyidik Polresta Banda Aceh. Dan saat persidangan perdana, kepada majelis hakim, Adi juga tak membantah keterangannya. “Sesuai BAP Bu Hakim,” kata Adi berulang kali.

Yang jadi soal adalah, benarkah oknum AP layak disebut; jurnalis atau hanya mengaku sebagai wartawan? Sepihak, pengakuan status profesi seorang wartawan, memang berasal dari perusahaan pers dimana seseorang bekerja (karyawan internal perusahaan media pers). Namun, secara ketentuan lain, ada aturan yang mengikat dan melekat pada dari seseorang yang mengaku; wartawan! Baik ketentuan dari organisasi wartawan maupun Dewan Pers, sebagai satu-satunya pemegang mandat dari negara, untuk mengawasi wartawan dan perusahaan media pers di Indonesia.

***

Menjadi seorang wartawan, setidaknya harus memenuhi dua unsur. Pertama, dedikasinya pada masyarakat umum. Itu sebabnya, karakteristik profesi tadi menuntut adanya pengetahuan yang tinggi, meskipun benar adanya. Tapi, harus dipertanyakan lebih jauh karena ada juga wartawan yang minus pengetahuan dan beretika rendah. Inilah yang kemudian membuat perbedaan antara wartawan profesional dan wartawan asal-asalan alias “kaleng-kaleng”.

Ada beberapa pengertian wartawan profesional. Menurut wartawan senior, almarhum Budiman S Hartoyo. Wartawan profesional ialah, memahami tugasnya, memiliki skill (ketrampilan), seperti melakukan reportase, wawancara, dan menulis berita atau feature yang bagus dan akurat, dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Penulis blog romelteamagazines.wordpress.com menguraikan, wartawan profesional memiliki beberapa karakteristik. Pertama, menguasai keterampilan jurnalistik. Memiliki keahlian (expertise) dalam menulis berita sesuai kaidah-kaidah jurnalistik.

Tak hanya itu, juga harus menguasai teknik menulis berita, juga feature dan artikel. Untuk itu, seorang wartawan mestilah orang yang setidaknya pernah mengikuti pelatihan dasar jurnalistik. Ia harus terlatih dengan baik serta lulus uji kompetensi (UKW) sesuai tingkatan; pemula, madya dan utama.

Yang jadi soal adalah, sudah oknum AP yang mengaku sebagai wartawan dan pimpinan perusahaan media online tadi, memenuhi semua kreteria tersebut, terutama mengikuti pelatihan jurnalistik dan uji kompetensi sebagai wartawan? Idealnya, pimpinan redaksi media online, tempat oknum AP berkiprah perlu melakukan kaji ulang tentang status ini. Misal, tidak melepas secara liar oknum AP sebagai jurnalis. Ini menjadi penting agar dimasa datang tak terjerat dalam proses hukum, karena ulahnya yang tidak memahami dunia kewartawanan.

20190103-ismayadi

Tersangka penyerangan kantor Tabloid Modus Aceh diamankan di Mapolresta Banda Aceh, Rabu (12/9/2018). (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Keterampilan jurnalistik meliputi antara lain teknik pencarian berita dan penulisannya, di samping pemahaman yang baik tentang makna sebuah berita. Ia harus memahami apa itu berita, nilai berita, macam-macam berita, bagaimana mencarinya, dan kaidah umum penulisan berita.

Kedua, menguasai bidang liputan (beat). Idealnya, wartawan menjadi seorang “generalis”, memahami dan menguasai segala hal, sehingga mampu menulis dengan baik dan cermat apa saja. Namun, yang terpenting ia harus menguasai bidang liputan dengan baik. Wartawan olahraga misalnya, harus menguasai istilah-istilah atau bahasa dunia olahraga. Wartawan ekonomi harus memahami teori-teori dan istilah ekonomi. Demikian seterusnya.

Ketiga, memahami serta mematuhi etika jurnalistik. Wartawan yang profesional memegang teguh etika jurnalistik. Untuk wartawan Indonesia, etika itu terangkum dalam Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI) yang sudah ditetapkan Dewan Pers sebagai Kode Etik Jurnalistik bagi para wartawan di Indonesia.

Masalahnya adalah; bagaimana seseorang yang mengaku sebagai wartawan dalam memahami serta mematuhi etika jurnalistik, profesi dan statusnya saja tidak jelas alias "kaleng-kaleng".  Besar suara, sok tahu dan merasa lebih paham dan profesional!

Kepatuhan pada kode etik merupakan salah satu ciri profesionalisme, di samping keahlian, keterikatan, dan kebebasan. Dengan pedoman kode etik itu, seorang wartawan tidak akan mencampuradukkan antara fakta dan opini dalam menulis berita.

Adapun secara umum kita kerap kali mendefinisikan wartawan profesional sebagai wartawan yang memegang teguh 9 elemen jurnalisme Bill Kovach. Sembilan elemen jurnalisme tersebut antara lain: Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran. Loyalitas utama jurnalisme adalah pada warga negara. Esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Jurnalis harus menjaga independensi dari obyek liputannya. Jurnalis harus membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan. Jurnalis harus memberi forum bagi publik untuk saling-kritik dan menemukan kompromi. Jurnalis harus berusaha membuat hal penting menjadi menarik dan relevan. Jurnalis harus membuat berita yang komprehensif dan proporsional. Jurnalis harus diperbolehkan mendengarkan hati nurani personalnya.

Jadi, wartawan profesional adalah yang memahami tugasnya, memiliki keterampilan untuk melakukan reportase dan mengolah karya-karya jurnalistik sesuai dengan nilai yang berlaku, memiliki independensi dari objek liputan dan kekuasaan, memiliki hati nurani serta memegang teguh kode etik jurnalistik yang diatur oleh organisasi profesi yang diikutinya.  Sekali lagi, bukan mengaku sebagai wartawan, apalagi berstatus; “kaleng-kaleng”.***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...