Breaking News

PT Semen Indonesia Aceh dan Nelangsa Warga Laweung (bagian dua)

Oki Kurniawan: Dari Aspek Hidrologi Menganggu Sistem Air di Permukaan dan Tanah!

Oki Kurniawan: Dari Aspek Hidrologi Menganggu Sistem Air di Permukaan dan Tanah!
sumber foto Oki
Rubrik

Melalui akun media sosial facebook, M. Oki Kurniawan, seorang aktivis lingkungan (hidrologi, geologi dan biologi) serta  sempat bergelut dalam dunia jurnalis ini menulis surat terbuka dengan tema: Kepada yang (Bakal) Duduk di Singgasana.  Tulisan ini mengundang perhatian awak redaksi MODUSACEH.CO dan MODUS ACEH (Kelompok Media), sehingga mengundangnya untuk dan berdiskusi, pekan lalu. Berikut penuturannya.

***

Seperti tulisan saya di Fb, dari hasil amatan dan evaluasi yang saya lakukan diketahui, lokasi kegiatan penambangan dan industri PT. Semen Indonesia Aceh (SIA) di Laweung, Kabupaten Pidie, berada pada anggota batu gamping Lam Kabeue berumur Quarter hingga Miosen. Dari sisi geomorfologi terlihat, bentukan lahan ini saya yakini merupakan bentangan alam karst type plateau (berasal dari bahasa Prancis yang artinya berbentuk cenderung dataran bergelombang), ditandai dengan keterdapatan permukaan yang terbuka tampak kasar, berlubang-lubang dan runcing serta adanya beberapa gua dan aliran atau drainase yang hilang/terputus. Namun pada ujung aliran yang sama ditemukan kemunculan air yang di klaim warga setempat berupa mata air.

Berkaitan dengan kawasan Karst, saya tertarik untuk sedikit mengevaluasi dampak dari kerusakan bentang alam karst di sana. Walau di lihat dari permukaan gersang/ kering, namun kawasan karst memiliki peran sangat penting, diantaranya dalam sistem hidrologi dan biologi sebagai pengimbuh air bawah permukaan dan hunian bagi satwa mamalia berupa kelelawar. Dari hasil amatan saya di lapangan, terlihat adanya beberapa penciri sistem hidrologi seperti saya jelaskan tadi, berupa drainase kering namun ada kemunculan sumber air di hilirnya. Selain itu terdapat hunian kelelawar jenis rhinolophus. Satwa mamalia jenis ini merupakan predator (pemakan) serangga/hama serta membantu petani dalam sistem penyerbukan tanaman hingga radius 20 kilometer dari huniannya.

Dari hasil evaluasi dampak yang saya lakukan, diketahui bahwa aspek hidrologi terganggunya sistem air permukaan dan air tanah akibat kegiatan penambangan yang berdampak pada 15 desa dalam dua kecamatan di Kabupaten Pidie. Kondisi ini dapat berisiko menurunnya kualitas hidup masyarakat setempat atas ketersediaan air sebesar 15.662 jiwa yang terdiri dari 7.662 (laki-laki) dan 8.000 (perempuan) atau sekitar 3.419 KK. Berdasarkan data BPS, pada umumnya masyarakat setempat masih menggunakan sumur sebagai sumber air bersih yang tersebar di 1.955 titik. Selain itu berdampak pula pada ancaman ketidak-tersediaan air untuk persawahan seluas 809 hektar.

Lantas, bagaimana dengan aspek biologi? Menurut saya, bermigrasinya habitat kelelawar jenis rhinolophus yang menghuni Guha Tujoh dan sekitarnya akibat kegiatan penambangan. Kondisi ini akan berdampak pada meningkatnya risiko serangan hama pada pertanian dan perkebunan serta terganggunya proses penyerbukan tanaman seluas lebih kurang 35.580,01 hektar, berupa sawah 13.609,97 hektar serta tanaman lahan kering berupa palawija, sayuran dan buah seluas 21.970,04 hektar. Kondisi ini juga sangat rentan terhadap merosotnya pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar 176.474 jiwa yang terdiri dari 86.513 (laki-laki) dan 89.961 (perempuan) atau berkisar sekitar 50.190 KK yang tersebar di 313 desa dalam 13 kecamatan pada dua kabupaten yaitu Pidie dan Aceh Besar.***

Komentar

Loading...