Dibalik Penangkapan BNN Aceh Terhadap Pengedar dan Sita 17 Kilogram Sabu

Nyata ‘Barang Haram’ Made In China Rambah Aceh

Nyata ‘Barang Haram’ Made In China Rambah Aceh
detik.com

 

Banda Aceh | Masih ingat petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Aceh menangkap tiga orang pengedar sabu seberat 17 kilogram, Minggu (27/11) di Lhokseumawe? Nah, barang haram itu ternyata berasal dari China. Itu sebabnya, jika selama ini berhembus kabar narkotika (sabu-sabu) yang dipasok ke Aceh dari para bandar berasal dari negeri jiran Malaysia dan Thailand. Kini, jaringan Tiongkok, ternyata sudah memiliki ‘kaki tangan’ di Aceh. Gawat!

Dari operasi BNNP Aceh tersebut, berhasil diciduk dua tersangka saat bertransaksi di halaman masjid di Kecamatan Samudera, Aceh Utara. Dua orang pengedar sabu yang ditangkap itu AM alias U (65), berperan sebagai kurir dan F (34) anggota TNI berpangkat Praka. Saat itu, AM hendak menyerahkan sabu seberat 6 kilogram yang dimasukkan dalam tas ransel kepada F. Transaksi dilakukan di halaman Masjid Geudong Pasee, Desa Meunasah Mancang, Kecamatan Samudera Aceh Utara. "Saat sedang transaksi itulah mereka ditangkap.

Usai diciduk, kepada petugas AM "bernyanyi". Dia mengaku jumlah sabu yang dibawanya seberat 17 kilogram. Sedangkan 11 kilogram lagi dimasukkan dalam sebuah koper dan hendak diserahkan kepada Z (43). Petugas bergerak menindaklanjuti informasi tersebut dan berhasil menangkap Z sekitar 30 menit kemudian di Kecamatan Muara Dua Cunda, Kota Lhokseumawe. Penangkapan ketiga pengedar sabu ini dilakukan pada Minggu (27/11). Ketiganya bersama barang bukti selanjutnya diboyong ke BNNP untuk dilakukan pengembangan. Dari keterangan, pelaku Z membenarkan akan mengambil paket narkotika jenis sabu dari pelaku AM. Khusus Praka F, sudah diserahkan ke penyidik Polisi Militer Kodam Iskandar Muda. Sementara dua pelaku lain mendekam di sel tahanan BNNP.

Sumber MODUSACEH.CO mengungkapkan, walau barang itu terbungkus dalam Bahasa Mandarin dan berasal dari China. Namun, pemasokkannya juga dilakukan melalui jalur laut, khususnya di perairan Selat Malaka. Jalurnya dari China, Malaysia dan Aceh serta Tanjung Balai, Sumatera Utara. Bahkan di Batam, Kepulauan Riau. Selain itu, tak tertutup kemungkinan dipasok melalui jalan darat dari Jakarta. “Yang mengkhawatirkan adalah, jaringan bandar narkoba asal China sudah merambah Aceh. Ini sangat berbahaya,” ungkap sumber tak mau ditulis namanya itu.***

Komentar

Loading...