Penulis adalah Pimpinan Redaksi MODUSACEH.CO

Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda.

Nova dan Kejar Tayang Film Aceh Hebat

Nova dan Kejar Tayang Film Aceh Hebat
Foto: Fb Hendri Yuzal

IBARAT produksi film layar lebar. Begitulah ikhtiar yang dilakukan Irwandi Yusuf-Nova Iriansyah, usai terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada Pilkada 2017 lalu. Film itu digarap, berdasarkan kisah nyata dari kehidupan rakyat Aceh paska 30-an tahun didera konflik bersenjata dan bencana gempa serta tsunami 2004 silam.

Alur ceritanya dirangkum dalam visi dan misi serta 15 program unggulan pembangunan Aceh selama lima tahun berjalan. Dari sanalah kemudian muncul judul atau tema; Aceh Hebat!

Irwandi bertugas sebagai sutradara, sementara Nova produser. Walau berbeda kata, namun makna dan fungsinya tak jauh beda.

Sutradara adalah orang yang bertugas mengarahkan sebuah film, sesuai dengan skenario. Digunakan untuk mengontrol aspek seni dan drama. Saat yang sama, sutradara juga harus mengawal kru film (misal, mulai dari Sekdaprov Aceh hingga para asisten) dan pemain pendukung (misal para kepala SKPA). Tujuannya, memenuhi wawasan pengarahannya.

Sutradara juga berperan dalam membimbing kru dan para pemeran film untuk merealisasikan kreativitas yang dimilikinya.

Tak hanya itu, sutradara bertanggung jawab pada aspek kreatif pembuatan film, baik interpretatif maupun teknis. Dia menduduki posisi tertinggi dari segi artistik sehingga film pemain tampak kompak serta ampu menghipnotis emosi penonton dari alur cerita yang disajikan.

Itu sebabnya, selain mengatur tingkah laku di depan kamera dan mengarahkan akting serta dialog. Sutradara juga mengontrol posisi gerak kamera, suara, pencahayaan, dan hal lain dari hasil akhir sebuah film.

Soal tanggung jawab, sutradara bekerjasama para kru film (misal, kabag dan kabid) maupun pemeran film seperti, penata fotografi, penata kostum, penata kamera dan sebagainya. Selain itu, ia juga turut terlibat dalam proses pembuatan film mulai dari pra-produksi, produksi, hingga pasca produksi.

Tentu, sutradara tidak hanya harus mengerti soal kamera dan pencahayaan, namun harus bisa mengarahkan orang banyak. Bahkan berinteraksi langsung dengan para talent agar hasil filmnya bisa maksimal. Itulah sebagian dari tugas seorang sutradara, dari tahap pra produksi hingga pasca produksi.

Misal, kepada pemain utama, sutradara menyampaikan visi dan misinya terhadap penokohan yang ada dalam skenario. Lalu, mendiskusikannya dengan tujuan untuk membangun kesamaan persepsi karakter tokoh antara sutradara dan pemain utama.

Sutradara juga melakukan pembacaan skenario (reading) bersama seluruh pemain, dari dialog dan action para masing-masing pemain. Termasuk, melakukan latihan peran dengan pemain utama.

Selanjutnya, sutradara melakukan evaluasi terhadap hasil latihan peran yang telah direkam sebelumnya. Dilanjutkan dengan pra dan paska produksi satu film. Begitulah sekilas tugas dan fungsi seorang sutradara.

Lantas, bagaimana dengan produser? Seorang produser film harus mengawasi dan menyalurkan sebuah proyek film kepada seluruh pihak yang terlibat, sambil mempertahankan integritas, suara dan visi film tersebut. Itu dilakukan, selama periode pra-produksi.

Produser juga terlibat aktif dalam semua tahapan proses pembuatan film. Mulai dari pemunculan ide dan pengembangan hingga penyaluran proyek film tersebut. Namun, suatu ide atau konsep film dapat muncul dari siapapun, termasuk penulis naskah, sutradara atau produser.

Ini dimaksudkan adalah, baik dari para tim sukses, relawan serta partai politik, pendukung Irwandi-Nova. Bahkan dari lingkaran keluarga. Tapi ingat, dari draft naskah pertama, hingga semua tahap produksi, sampai pengisian suara terakhir, keberhasilan atau kegagalan berada di tangan produser.

Pengalaman dalam bidang ini tidak selesai dalam satu malam. Tapi, lahir dari pengetahuan kreatif dan teknis selama bertahun-tahun, dan tentang kecintaan terhadap pekerjaan dan segala yang seiring dengannya, disertai kemampuan memilih bakat yang tepat serta mampu dari orang-orang mengelilingi dirinya.

Seperti sutradara, produser juga memiliki tugas dan tanggungjawab. Misal,   mencari dan mendapatkan ide cerita untuk produksi.   Membuat proposal produksi berdasarkan ide atau skenario film. Menyusun rancangan produksi. Menyusun rencana pemasaran. Mengupayakan anggaran-dana untuk produksi serta mengawasi pelaksanaan produksi melalui laporan yang diterima dari semua departemen.

Termasuk bertanggung jawab atas kontrak kerja  secara hukum dengan berbagai pihak dalam produksi yang dikelola maupun bertanggung jawab atas seluruh produksi.

Terkadang banyak orang sulit untuk membedakan fungsi antara produser dan sutradara, karena memang beda tipis. Sebenarnya fungsi produser dan sutradara hampir sama. Hanya saja yang membedakan ialah, seorang produser lebih terlibat saat pra produksi dan sutradara saat pelaksanaan produksi.

Itu sebabnya, tak mudah memang tugas dan tanggung sebagai produser. Laku atau tidaknya film (drama, komedi, action, romantis). Termasuk diminati atau tidak, adalah resiko yang harus ditanggung produser. Apa pun jabatan dalam sebuah film, produser memiliki peranan penting agar film itu dapat diterima oleh masyarakat atau penonton.

***

IBARAT film layar lebar bertema; Aceh Hebat! Tiba-tiba saja sempat terhenti. Ini bukan karena kekurangan dana atau pemain yang tak lulus casting. Sebaliknya, di tengah jalan muncul pemain figuran yang kemudian menjadi pemeran utama; Fanny Steffy Burase. Mantan pramugari dan model yang memang cukup mengoda.

Kehadirannya, tak hanya mengeser pemain utama yaitu, kepala dinas. Tapi juga, merubah alur cerita. Dari Aceh Hebat, menjadi “Aceh Sekarat”. Dan sempat diramu dengan adengan romantis, tentang kisah cinta segi tiga sang sutradara hingga akhirnya Irwandi terjerat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta.

Akibatnya, Nova Iriansyah yang semula sebagai produser, terpaksa (atau memang suka) mengambil alih semua tugas dan fungsi sutradara.

20190119-plt-gubernur-aceh1

Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah (Foto: habadaily)

Langkah cepat ini diperlukan Nova, karena tema dan cerita film Aceh Hebat sudah kadung dipromosi media (pers maupun medis sosial). Termasuk beredarnya trailer di berbagai media sosial. Bahkan, sudah ada pula kontak pemutaran di sejumlah Bioskop XXI dalam waktu dekat.

Nah, bisa jadi karena desakan penonton dan pengusaha bioskop, suka atau tidak, Nova terpaksa melakukan kejar tayang terhadap Film Aceh Hebat, yang sempat macet di tengah jalan.

Sayangnya, atas berbagai dalih dan alasan, beberapa pemain berbakat justeru harus diganti dengan pelaksana tugas (Plt). Apakah semua itu disesuaikan dengan selera penonton atau bukan mustahil, sejalan dengan “selera” dirinya juga.

Karena itu, film Aceh Hebat dengan sutradara dan produser di tangan Nova Iriansyah, sepertinya akan terus berproduksi secara berseri atau bersambung. Dimulai dari tema; Plt Direktur PDPA dengan bintang utama Zubir Sahim (mantan Kepala BPKS Sabang), disusul Ketua Dewan Pengawasan PDPA dr. Taqwallah, merangkap pemeran utama; calon Sekdaprov Aceh hingga Plt Kepala dan Wakil Kepala BPKS, Razuardi Ibrahim serta Islamuddin.

Kabarnya, tahun ini juga akan muncul produksi film terbaru dibawah tema besar; Aceh Hebat dengan alur cerita pergantian pemeran utama dan figuran untuk film Wakil Gubernur Aceh, film Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun, film Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) serta film pergantian kepala SKPA. Skenarionya sedang disusun, sambil menunggu kasus yang menjerat Irwandi Yusuf di KPK inkrah atau memiliki kekuatan hukum tetap. Alamak!***

Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi!
Rubrik

Komentar

Loading...