Breaking News

Diduga Enam Boat Gunakan Pukat Trawl Sudah Diamankan (Bagian Dua)

Nelayan Ucapkan Terimakasih

Nelayan Ucapkan Terimakasih
Ikan Hasil Tangkapan Diduga Gunakan Pukat Trawl, Kamis (23/03)/Foto IST
Penulis
Rubrik

Meulaboh | Beberapa nelayan Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, yang mereka tidak mau nama mereka disebutkan, Jumat malam, 24 Maret 2017 mengaku berterimakasih dan memberi apresiasi pada Polisi Perairan Polres Aceh Barat.

Sebab, aktivitas boat yang menggunakan alat tangkap pukat trawl itu, diakui mereka sudah berlangsung lama di Kabupaten Aceh Barat. “Kami mengucapkan terimakasih pada penegakan hukum,” ujar para nelayan, Kecamatan Meureubo, di Pelabuhan Desa Ujong Drien, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat.

Menurut para nelayan itu, boat yang menggunakan pukat trawl di Aceh Barat, diperkirakan mencapai lebih dari 300 unit dan beroperasi di perairan laut Aceh Barat.

Bahkan, aktivitas penangkapannya bahkan bisa disebut tak ramah lingkungan dan sudah berlangsung sejak tahun 2002 silam. Sehingga, keberadaan alat tangkap ikan yaitu pukat trawl  sangat meresahkan nelayan. Karena mengacam masa depan ikan sebagai pendapatan nelayan di Aceh Barat.

Alasan mereka, menangkap ikan dengan menggunakan pukat trawl, menyapu bersih ikan yang ada di laut. Sebab, ikan-ikan kecil ikut terjaring dalam pukat trawl tersebut.

Bukan hanya ikan kecil saja yang terancam punah, tapi juga terumbu karang dan runyam atau sarang ikan buatan dari daun-daun kayu, seperti daun pinang yang dibuat para nelayan ikut terancam. "Kalau menggunakan pukat trawl, udang kelong, bawal putih, tenggiri, dan nelayan teumanggok juga terancam, generasi ke depan juga ikut terancam,” kata mereka, Jumat malam (24/03).

Dampak yang dirasakan para nelayan dengan adanya pukat trawl, diakui mereka telah membuat penghasilan mereka berkuranh atau rezeki berdasarkan tanggapan ikan. "Jika dulu pergi ke luat hanya berjarak sekitar setengah mil, sudah bisa membawa pulang ikan. Tapi sekarang tidak lagi, 15 mil belum tentu cukup untuk biaya minyak boat," ungkap mereka.

Realita itu terjadi, setelah maraknya penggunaan pukat trawl, jarak melaut kini mencapai 15 mil lebih. Itu pun belum tentu bisa membawa pulang ikan.

Sebab, alat tangkap yang digunakan nelayan Kecamatan Meureubo, bukan pukat trawl. Karena pengunaan pukat trawl atau pukat harimau diakui warga nelayan Kecamatan Meureubo, sangat meresahkan.

Yang tidak mau menggunakan pukat trawl di Aceh Barat, hanya nelayan Kecamatan Meureubo.

Itulaj sebabnya, nelayan Kecamatan Meureubo mengaku, keresahan mereka terhadap boat yang menggunakan pukat trawl, sudah lama mereka suarakan pada Pemerintahan Aceh Barat, baik pada era Bupati Ramli. MS Periode 2007-2012 maupun pada Pemerintahan H. T. Alaidinsyah (Tito).

Bahkan, sekitar tahun 2015 lalu, para nelayan pernah berdemontrasi ke Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat, untuk meminta agar pukat trawl bisa ditertibkan. “Dari dulu sudah kami suarakan,” ujar nelayan.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - pilihan Anda sangat menentukan -

Komentar

Loading...