Peringatan 14 Tahun Tsunami Aceh (bagian tiga)

Nazli Ismail, Ph.D: Kurikulum Kebencanaan Harus Segera Disahkan

Nazli Ismail, Ph.D: Kurikulum Kebencanaan Harus Segera Disahkan
Siswa berlarian dari ruang kelas dalam simulasi bencana tsunami dan gempa bumi di sebuah Sekolah Dasar (SD) di Banda Aceh, 15 Desember 2014. (Getty Images)
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Nazli Ismail, Ph.D, Dekan Magister Fakultas Ilmu Kebencanaan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh meminta Pemerintah Aceh segera mensahkan qanun kurikulum kebencanaan pada semua jenjang pendidikan. Alasannya, Aceh masuk daerah rawan bencana dan untuk pengenalan mitigasi bencana. Berikut penuturan Nazli Ismail kepada wartawan MODUS ACEH.CO Cut Mery di Banda Aceh, Kamis pekan lalu.

Tanggal 26 Desember 2018, memasuki 14 tahun pasca terjadi gempa dan tsunami di Aceh. Sayangnya, hingga saat ini tidak ada inisiatif Pemerintah Aceh untuk membuat kurikulum pendidikan kebencanaan.

Barangkali hal tersebut dianggap tidak terlalu penting, atau Pemerintah Aceh tidak mau belajar dari pengalaman terdahulu. Padahal pengalaman merupakan pembelajaran untuk menjalani hidup yang lebih baik ke depan.

Berbeda dengan Jepang yang hampir sama dengan Aceh, potensi terjadi bencana sangat besar. Jepang pernah mengalami bencana gempa dan tsunami yang lebih dahsyat dari sisi banyaknya korban, yaitu gempa 7.9 SR atau lebih dikenal sebagai “The Great Kanto Earthquake” tahun 1923 silam.

Akibat bencana itu, menewaskan lebih dari 142.000 orang. Kemudian, tsunami akibat gempa berkekuatan 8,9 SR pada 11 Maret 2011 di Jepang, tercatat hanya sekitar 7000 orang korban yang meninggal. Sedangkan bencana tsunami akibat gempa 8,5 SR 26 Desember 2004 di Aceh, korban meninggal mencapai 200.000 orang lebih.

Jumlah korban berbeda jauh antara bencana gempa dan tsunami di Aceh pada tahun 2004, dan di Jepang pada tahun 2011. Perbedaan tersebut menunjukkan, Jepang lebih siap menghadapi bencana dibandingkan Aceh pada saat itu.

Pemerintah Jepang melakukan berbagai macam cara untuk mengurangi dampak bencana tersebut, termasuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bencana sejak dini. Dengan menerapkan kurikulum pendidikan kebencanaan pada setiap jejang sekolah.

Itu dilakukan agar ketika terjadi bencana lainnya, warga Jepang mampu mengatasi. Baik dari segi pemulihan infrastuktur dan juga pemulihan spikologis, apabila terjadi bencana lain dikemudian hari.

Menanggapi masalah itu, Dekan Magister Ilmu Kebencanaan (Master Program Of Disaster Science) Universitas Syiah Kuala, Hyogo Prefecture Building, Nazli Ismail, Ph.D mengakui. Hingga kini belum ada kurikulum tentang kebencanaan di Aceh. Menurutnya, qanun kurikulum pendidikan tentang kebencanaan perlu segera disahkan.

Nazli Ismail, Ph.D

 

Katanya, untuk mempercepat pengesahan Qanun Pendidikan Kebencanaan di sekolah-sekolah selain universitas. Supaya ketika berganti pemerintahan, anggaran untuk pelaksanaan mitigasi bencana terus berlanjut. Jika menjadi qanun, maka akan menjadi satu hal yang wajib dilakukan setiap sekolah”, ungkap Nazli.

Menurut Nazli, kurikulum pendidikan kebencanaan sangat penting diterapkan pada sekolah di Aceh. Kenapa? Karena Aceh daerah rentan terjadi bencana. Sehingga, generasi muda harus mampu mengetahui secara dini penanggulangan, ketika terjadi bencana dan sesudah terjadi bencana.

“Kita sangat berharap qanun Kulikulum Pendidikan Kebencanaan dapat disahkan tahun 2019. Sebab ada pengalaman, saat terjadi tsunami 2004, berdatangan negara donator dari luar seperti NJO (Non-Governmental Organization), banyak dibuat sekolah bencana. Misal, Sekolah Siaga Bencana, dan Desa Tangguh Bencana. Tapi, begitu NJO meninggalkan Aceh, semua kegiatan itupun hilang”, jelasnya.

Menurutnya, sekolah bencana yang pernah dibangun pacsa tsunami. Saat ini atau sudah 14 tahun tidak aktif lagi. Bisa jadi, karena kurangnya keperdulian Pemerintah Aceh terhadap bencana dan tidak ada keperdulian untuk membuat program–program berkelanjutan.

“Bisa jadi masalah bencana dianggap tidak terlalu penting pemerintah Aceh. Sehingga, tidak menjadi prioritas,” ungkapnya.***

Komentar

Loading...