Breaking News

Peringatan 14 Tahun Tsunami Aceh (selesai)

Nazli Ismail, Ph.D: Bencana tak Hanya Gempa dan Tsunami

Nazli Ismail, Ph.D: Bencana tak Hanya Gempa dan Tsunami
Nazli Ismail. | Foto KBA ONE
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Pendidikan kebencanaan merupakan program berkelanjutan. Mengingat bukan hanya bencana tsunami yang menimpa Aceh. Tetapi bencana lainya seperti longsor, banjir dan gempa bumi sering melanda bumi Serambi Mekah ini.

“Bencana-bencana lain sering terjadi di Aceh. Dasarnya memang merupakan faktor alamiah. Tapi kita mesti tahu bagaimana cara menanggulanginya. Sehingga ketika terjadi bencana, kita tidak terpuruk dalam keadaan. Namun sekarang, mana ada lembaga yang gencar memberikan dana untuk banjir? Sangat jarang. Tetapi ketika proyek tsunami, baru gencar mencari bantuan. Padahal banjir adalah musibah yang sering terjadi di Aceh,” jelasnya.

Lanjutnya, Jika dihitung kerugian pasca bencana tsunami 2004 sangat besar. Tapi, kalau diakumulasi dari bencana-bencana lain juga besar.

“Jadi jangan hanya terpaku pada bencana tsunami saja. Bencana lain juga harus diprioritaskan. Dalam hal ini menurutnya, dapat ditempuh dengan jalur pendidikan. Mengajarkan pada setiap tingkat sekolah mengenai mitigasi bencana. Ketika ada musibah lain, kita (masyarakat Aceh) mampu mananganinya,” harapnya.

Nazli menilai, Pemerintah Aceh terlalu banyak menghabiskan energi untuk melakukan rehabilitasi dan rekontruksi pasca terjadi bencana. Padalah, berbicara mengenai bencana tentu ada siklus tersendiri yang harus diutamakan. Yaitu, sebelum terjadi bencana, saat terjadi bencana, saat pemulihan, dan sesudah terjadi bencana.

“Nah, kalau siklus itu diikuti, energi yang harus dikeluarkan pada saat terjadi bencana dan pada saat rehap rekon akan lebih sedikit,” lanjutnya.

Selain itu Nazli mengharapkan, Pemerintah Aceh harus sadar daerah ini paling beresiko terkena bencana. Sehingga pemerintah memberikan perhatian yang sama terhadap bencana yang terjadi.

“Pemerintah mengupayakan bagaimana caranya elemen masyarakat untuk dapat siaga bencana yang dialamai di daerah masing-masing. Bencana itu berulang, sehingga pengalaman menjadi pelajaran untuk kita”, ujarnya.

Sebab itu Nazli menghimbau, Pemerintah Aceh fokus terhadap peningkatan sumber daya manusia, dengan jalur pendidikan.

“Mempersiapkan manusia dengan ilmu pengetahuan. Kira-kira ketika terjadi bencana nanti sudah siap menghadapinya. Dan tahu apa yang akan dilakukan setelah terjadi bencana tersebut,” jelasnya.

Nazli mengungkapkan, kurikulum pendidikan tentang kebencanaan sebelumya sudah ada. Namun, tidak formal sampai saat ini. Hanya sebatas acara evaluasi kebencanaan. Itupun tidak sering dilakukan, hanya pada saat peringatan hari tsunami saja.

Siswa SD di lereng Merapi gelar simulasi. ©2014 Merdeka.com

 

“Nah, kita tidak ingin on-off berdasarkan dari keperluan saja. Hanya disaat memperingati hari tsunami. Tapi kita ingin menjadikan sistem yang dipatenkan. Siapa saja, kapan saja, harus terus berlangsung,” ungkap Nazli.

Selanjutnya Nazli berpendapat, dalam qanun pendidikan tentang kebencanan dapat dirancang tidak hanya bicara tentang kurikulum. Namun, ada hal hal yang mengatur terkait infrastruktur. Seperti, memiliki gedung sekolah yang ramah dengan bencana.

“Tidak mungkin kita ajarkan pengetahuan tentang bencana, tapi gedungnya tidak ramah dengan bencana. Ibarat kita mengejarkan ilmu agama, tapi praktek shalatnya tidak ada. Artinya harus sinergi,” harapnya.

Selain itu, dalam Qanun tentang kurikulum kebencanaan juga mengatur bagaimana Prefecture Building atau pembangunan. Kemudian, dalam kurikulum pendidikan kebencanaan juga mengatur tentang jalur evakuasi, kualitas bangunan, dan rehap bangunan pasca bencana.
Selanjutnya, dalam qanun kurikulum pendidikan kebencanaan juga mengatur tentang sekolah yang memiliki menajeman tentang penanganan bencana. SOP dan aturan aturan lainnya. Selain itu, kurikulum memasukkan mata pelajaran tentang materi-materi kebencanaan. Di buat juga ekstrakulikuler atau pramuka, dan juga relawan evaluasi bencana.

“Itu menjadi cukup menarik untuk di terapkan di sekolah-sekolah,” katanya. Selanjutnya Nazli berharap, Dayah dan Prasantren atau lembaga-lembaga pendidikan yang nonformal juga mengadakan pembelajaran kebencanaan.

“Dalam qanun nanti bukan hanya menyasar sekolah formal, tapi juga informal yang non formal,” tegasnya. “Karena tidak bisa kita pungkiri, warga Aceh sangat tegar ketika menghadapi bencana, karena memiliki imam yang masih kuat. Dengan memasrahkan diri kepada Allah SWT, ketika terjadi bencana. Untuk itu, dibutuhkan kerja sama Dayah dan Pasantren. Dengan memberikan kajian kajian ilmu agama, kepada korban bencana di Aceh. Sehingga, iman dan ketakwaan lebih kuat lagi,” lanjutnya.

Terakhir, dalam qanun diterapkan pemberian penghargaan bagi sekolah yang menjalankan kurikulum tersebut. “Mudah mudahan, kita berharap betul-betul terlaksana di tahun 2019. Karena tanpa itu, saya katakan tidak akan berjalan secara sempurna”, jelasnya mengakhiri pembicaraan sore itu.***

Komentar

Loading...