Breaking News

Nahkoda Kadin Aceh 2019-2024, Inilah Ikhtiar H. Makmur Budiman Untuk Dunia Usaha Aceh

Nahkoda Kadin Aceh 2019-2024, Inilah Ikhtiar H. Makmur Budiman Untuk Dunia Usaha Aceh
H.Makmur Budiman bersama Wakil Ketua Bidang Organisasi Kadin Indonesia, Anindya Bakrie (Foto: Zubir Husein)
Rubrik

Dipastikan, H. Makmur Budiman terpilih secara aklamasi di Musyawarah Provinsi (Muprov) VI Kadin Aceh, 18-20 Juni 2019 di Banda Aceh. Lantas, apa yang akan dilakukan pengusaha konstruksi dan perkebunan ini? Berikut penuturannya pada media ini, Senin (17/6/2019) malam di Banda Aceh.

 MODUSACEH.CO | PERTAMA sekali saya berpikir bahwa, selama ini saya jarang mengabdi untuk kepentingan umum, lebih banyak pada kepentingan pribadi. Karena itu, melihat kondisi dunia usaha Aceh saat ini, saya terdorong untuk berbuat sesuatu, apalagi adanya dorongan kawan-kawan.

Niat saya ingin mencoba untuk membantu dan membina dunia usaha di Aceh. Tentu, semampu saya dan berdasarkan pengalaman yang saya punya selama ini. Saya mulai berbisnis sejak tahun 1981. Jadi, sudah 28 tahun. Saya berpikir, saatnya untuk membangun dunia usaha di Aceh, berdasarkan pengalaman saya, untuk kepentingan umum.

Tentu, saya tidak bisa sendiri, selain dorongan kawan-kawan, saya juga punya waktu untuk berpikir ke arah sana. Karena sudah lama sekali waktu saya untuk diri sendiri. Lalu, apa yang akan saya lakukan dalam mengemban amanah ini nantinya? Tahap pertama, saya membenahi internal organisasi Kadin. Mulai dari provinsi hingga seluruh tingkatan yaitu, kabupaten dan kota.

Kedua, membantu dan berusaha menggerakkan usaha kecil dan menengah (UKM), termasuk koperasi. Tujuannya, dunia usaha di Aceh bergerak ke industrialisasi. Karena memang tugas Kadin sebagai motivator, fasilitator, koordinator serta advokasi.

Selain itu, saya melihat bahwa generasi muda di Aceh juga kurang mendapat motivasi dalam dunia usaha, karena itu saya juga berfikir bagaimana caranya, generasi milenial Aceh bergerak dan termotivasi dalam dunia usaha.

Jadi, cara berpikir generasi milenial Aceh harus diubah. Saatnya, menentukan dan mengunakan waktu seefektif mungkin. Dan sudah tidak jamannya lagi,  waktu kita  di tentukan orang lain. Dalam hidup ini, hanya tiga yang tidak bisa dibeli. Pertama, orang tua, kedua waktu dan ketiga nyawa. Jadi, di sini kita harus berfikir bagaimana efektifnya dan efesiennya waktu.

Terkait potensi ekonomi Aceh, saya pikir sangat besar. Hanya saja, kurang marketing (pemasaran). Karena itu, saya sudah meminta kepada Pemerintah Aceh, agar setiap mahasiswa Aceh yang mendapat beasiswa di luar negeri, menjadi duta ekonomi Aceh. Mereka diwajibkan untuk memasarkan barang-barang hasil produksi dari Aceh.

Misal, memasarkan minyak nilam dan seri. Memasarkan pinang, kopi dan minyak kelapa sawit (CPO). Jadi, nantinya akan kami dibentuk pemasaran bersama antara Aceh, Medan, Jakarta hingga ke luar negeri. Nah, dari sanalah muncul pasar komuditas pertanian, perkebunan serta UKM Aceh. Disamping itu, saya lihat potensi pelabuhan juga cukup bagus, namun belum memberi nilai tambah bagi masyarakat dan pemerintah daerah. (selengkapnya baca edisi cetak, beredar Rabu,  19 Juni 2019).***

Komentar

Loading...