Iklan HUT 16 TAHUN MODUS ACEH

Terkait Demontrasi Mahasiswa Terhadap Izin PT. EMM

Mutawalli: Rektor Unsyiah Cabut Pertanyaan Aksi Kami Ditunggangi!

Mutawalli: Rektor Unsyiah Cabut Pertanyaan Aksi Kami Ditunggangi!
PLT GUBERNUR ACEH NOVA IRIANSYAH MENANDATANGANI TUNTUTAN MAHASISWA JIKA DIRINYA SIAP MENGUPAYAKAN PENCABUTAN IZIN PT EMM, KAMIS (11/04/19). FOTO: GEUNTA.COM/FAHZIA
Rubrik

Banda Aceh | Usai aksi demontrasi mahasiswa se-Aceh, yang tergabung dalam Korps Barisan Pemuda Aceh (BPA),  menolak izin operasional PT. Emas Mineral Murni (EMM), di Banda Aceh, 9-11 Maret 2019, berbagai pendapat muncul.

Salah satunya dari Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Prof. Dr Samsul Rijal. Melalui Portal Berita Dialeksis.com, Kamis, 11 April 2019 lalu, guru besar ini meminta mahasiswa untuk cerdas dan tidak ditunggangi oleh berbagai kepentingan.

“Saya berkewajiban mendidik mahasiswa untuk cerdas, bukan mahasiswa yang tidak pandai membaca keadaan. Bukan mahasiswa yang bisa dimanfaatkan pihak lain untuk kepentingannya,” sebut Samsul Rizal.

Masih kata Samsul Rizal. “Aceh baru dibalut konflik, mahasiswa itu harus mengetahui dulu seluk beluk apa yang mau mereka demo. Jangan sampai membela kepentingan orang lain, kita menjadi korban. Demo sudah anarkis, saya tidak mendidik seperti itu,” sebutnya.

Nah, entah itu sebabnya, Korps Barisan Pemuda Aceh (BPA) melalui Koordinator BPA, Mutawalli (Kamis, 15 April 2019), mengeluarkan pernyataan sikap melalui siaran pers, yang juga dikirim ke media ini. Isinya, pertama. Korps BPA akan terus mengawal pernyataan Plt Gubernur Nova Iriansyah sejak di tanda tangani, 11 April 2019 hingga 14 hari selanjutnya.

Kedua, Korps BPA tidak akan masuk dalam Pansus yang dibentuk Plt Gubernur Aceh dan akan terus mengawal komitmen Plt Gubernur Aceh, untuk memastikan PT. EMM angkat kaki dari Aceh, baik secara fisik bangunan maupun izinya harus dicabut oleh pemberi izin.

Ketiga, Korps BPA mengecam sikap dan perbuatan aparatur sipil negara (ASN) yang melakukan ujaran kebencian untuk segera terhadap aksi ini. “Mereka harus minta Maaf ke publik dengan membuat video permohonan maaf kepada mahasiswa dan aliansi serta tag akun @tolaktambang, atau akan mencari dengan cara kami dan menindak lanjuti hingga ke proses hukum,” tegas Mutawalli.

Keempat, Korps BPA akan melakukan upaya hukum sebagai bentuk pembelaan terhadap korban mahasiswa yang jatuh akibat tindakan represif oknum melalui advokat hukum, agar oknum tersebut dapat diproses. Kelima, Korps BPA mengecam tindak represif oknum aparat dalam menghadapi mahasiswa yang sedang berunjuk rasa. “Dan kami minta kepada Bapak Kapolda Aceh untuk menindaklanjuti oknum tersebut. Bersama kami ada bukti-bukti sebagai pertimbangan,” desak Mutawalli.

Keenam, Korps BPA mengecam oknum yang mengatasnamakan aksi untuk kepentingan kelompok, mengaitkan dengan peristiwa politik, serta menyatakan aksi mahasiswa ditunggangi. Itu sebabnya, kepada semua oknum untuk berhenti melakukan pelabelan terhadap aksi mahasiswa, dan mencabut statement yang mengarah kepada kepentingan politik sesaat. “Kami, Korps BPA meminta kepada Rektor Unsyiah untuk mencabut pernyataan bahwa “Aksi mahasiswa ditunggangi,” tegas Mutawalli.

Terakhir, Korps BPA meminta kepada seluruh rakyat Aceh agar senantiasa mendukung dan memantau perjuangan mahasiswa, karena jika PT EMM masih beroperasi, maka pihaknya akan melakukan aksi besar-besaran bersama seluruh rakyat Aceh.

Lepas dari pernyataan tersebut, sebelumnya  Rektor Unsyiah, Prof. DR. Ir. Samsul Rizal M.Eng, justeru menilai berbeda. “Kalau untuk kepentingan Aceh, kalau untuk kepentingan nasional, saya akan berdiri di depan mahasiswa untuk melakukan protes. Namun kita harus cerdas menyikapi apa yang kita mau demo itu,” jelasnya.

Soal demo PT EMM, menurut Rektor, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah di depan mahasiswa Unsyiah sudah menjelaskan, bukan pihaknya yang berwenang untuk membatalkan izin pertambangan itu. Aturan hukumnya jelas. “Kalau sudah ada ijin ya sudah, aturan hukumnya seperti itu. Tentunya pemerintah yang mengeluarkan ijin sudah melakukan pengkajian. Yang enggak ada ijin akan diperiksa pemerintah. Jadi semuanya ada kepastian hukum, bukan seperti ini caranya,” sebut Samsul.

Tak hanya itu, Samsul Rizal juga menuding bahwa aksi demontrasi mahasiswa tadi telah anarkis. “Demo sudah anarkis, pot dipecah, beton dihancurin, ini kan sudah cara barbar. Saya tidak ijinkan mahasiswa Unsyiah untuk berdemo, karena demonya tidak ada ijin. Saya tidak pernah ajarkan mahasiswa saya seperti ini,” jelasnya.

Namun, pendapat Samsul Rizal dibantah Koordinator BPA, Mutawalli. “Kami Korps Barisan Pemuda Aceh (Korps BPA) merupakan aliansi gerakan mahasiswa, baik lembaga Internal kampus maupun eksternal kampus. Berdiri sejak awal September 2018, atas keresahan terhadap keluhan masyarakat Aceh Tengah dan Nagan Raya. Bentuk kepedulian dan partisipasi kami tunjukkan dengan membuat aliansi ini, bertujuan melakukan advokasi bersama masyarakat dalam penolakan tambang PT. EMM seluas 10 ribu hektar,” jelas Mutawalli dalam siaran persnya yang diterima MODUSACEH.CO hari ini.

Menurut Mutawalli, sebelum aksi 9 sampai 11 April 2019, pihaknya telah melakukan berbagai kegiatan advokasi penolakan. Mulai dari kajian, pengumpulan data, diskusi dengan pihak-pihak terkait dan sebagainya. “Aksi dalam bentuk mengemukakan pendapat juga sudah beberapa kali kami lakukan baik di Kantor Gubernur, DPRA maupun tempat lainnya. Terhadap DPRA kita minta komitmen secara kelembagaan untuk menolak PT. EMM dan disambuti dengan Sidang Paripurna yang merumuskan beberapa poin, diantaranya; meminta Gubernur Aceh membuat Pansus bersama DPRA untuk menuntaskan persoalan PT EMM,” urai dia.

Karena itulah, BPA meminta kepada Gubernur Aceh untuk berdiri bersama rakyat Aceh dengan melakukan upaya secara pemerintahan, menolak beroperasinya PT. EMM di Aceh. “Hingga pada 11 April 2019 lalu, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah telah menyatakan kepada kami dan rakyat Aceh bahwa dia bersedia bersama rakyat Aceh dan sepakat menolak PT. EMM dan akan menindaklanjuti dalam 14 hari selanjutnya,” ungkap Mutawalli. (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...