Terkait Penetapan Tersangka Meledaknya Sumur Minyak Ranto Peureulak

Muslim A Gani: Sebaiknya Tidak Ada Yang Dihukum

Muslim A Gani: Sebaiknya Tidak Ada Yang Dihukum
Direktur Eksekutif Aceh Legal Consult (ALC) Muslim A Gani SH

Aceh Timur | Insiden meledaknya sumur minyak di Gampong (Desa) Pasir Putih Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada Rabu (25/4/2018) lalu, masih menyisakan kesedihan dan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan korban meninggal dunia.

Terdapat 23 korban meninggal dan 40 lebih korban lainnya mengalami luka bakar serius akibat insiden meledaknya sumur minyak warga yang dianggap illegal itu.

Lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus meledaknya sumur minyak tersebut. Salah satunya adalah Geuchik (Kepala Desa) Pasir Putih Kecamatan Ranto Peereulak. Geuchik setempat, ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap melakukan pembiaran terhadap beroperasinya pengeboran sumur minyak yang dilakukan oleh warga. Meski begitu, belum ada aparat kepolisian atau Koramil setempat yang dijadikan tersangka.

Merespon penetapan Geuchik dan sejumlah warga sebagai tersangka, Direktur Eksekutif Aceh Legal Consult (ALC) Muslim A Gani SH angkat bicara.

Menurut Muslim A Gani, penetapan warga dan Geuchik setempat sebagai tersangka seharusnya tidak dilakukan.

"Tragedi meledaknya sumur minyak di Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, sebaiknya tidak ada pihak yang dihukum, terutama masyarakat dan aparat Gampong setempat. Sebaliknya, insiden meledaknya sumur minyak yang telah menelan 23 korban jiwa ini hendaknya dijadikan sebagai bencana daerah," ujar Muslim A Gani kepada media ini, Selasa (1/5/2018).

Dia bahkan menilai, seharusnya Bupati Aceh Timur sebagai orang utama paling bertanggung jawab dalam insiden tersebut.

"Saya cenderung berpikir begini. Semestinya ada intervensi Pemerintah Aceh Timur agar menjadikan peristiwa ini sebagai Bencana Daerah. Karena hari ini masyarakat butuh solusi agar kedepan lebih baik lagi, bukan malah menjadikan kelompok masyarakat dan perangkat gampong sebagai tersangka untuk diproses hukum,” jelas Muslim.

Muslim A Gani berpendapat, terjadinya bencana dapat disebabkan beberapa faktor; faktor alam, non alam, dan faktor manusia. "Karena itu, dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 juga telah mendefinisikan mengenai bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Jadi menurut saya dasar hukumnya juga sudah cukup, tinggal  Pemerintah apakah bersedia atau tidak menetapkan insiden itu sebagai bencana daerah," imbuhnya.

Konsultan Hukum Aceh Timur ini berpendapat, penetapan tersangka oleh kepolisian terhadap sejumlah warga kurang bijaksana. "Artinya pihak kepolisian terlalu dini melakukan proses hukum dan menetapkan status tersangka terhadap masyarakat dan perangkat Gampong. Sanksi pidana atas peristiwa terbakarnya sumur minyak  pengeboran warga ini sebaiknya tidak perlu dilakukan secara terburu-buru," harap putra Ranto Pereulak itu.

Dia meminta, semestinya dilakukan intervensi Pemerintah secara langsung atas peristiwa itu, karena jumlah korban meninggal dunia akibat insiden itu telah mencapai 23 orang, dan puluhan korban luka bakar serius juga masih dalam proses perawatan medis di berbagai rumah sakit.

"Kita berharap kasus itu tidak dijadikan perbuatan pidana terhadap warga oleh pihak kepolisian. Pemerintah Daerah harus berani dan sepakat menjadikan insiden itu sebagai Bencana Daerah. Saya rasa itulah solusi yang lebih baik dengan kondisi masyarakat yang sedang berduka seperti ini,” harapnya.

Sebelumnya, lima orang ditetapkan sebagai tersangka atas insiden meledaknya sumur minyak milik warga setempat oleh Polres Aceh Timur. Penetapan tersangka itu dilakukan usai penyelidikan terhadap 30 orang saksi oleh aparat kepolisian.

Komentar

Loading...