Mengaku Dihajar Oknum Polantas Abdya

Murhazli Lapor ke Propam Polda Aceh

Murhazli Lapor ke Propam Polda Aceh
Brigadir Reza/Istimewa (MODUSACEH.CO)
Penulis
Rubrik
Sumber
Laporan Mirna (Banda Aceh)

Banda Aceh | Diduga, oknum Anggota Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Aceh Barat Daya, Brigadir Reza Bin Bahtiar, melakukan tindak pidana kekerasan terhadap Murhazli  seorang supir labi-labi di sana. Itu terjadi saat korban sedang duduku di salah satu warung Kopi di pangkalan terminal labi-labi trayek Blang Pidie-Babahrot, Abdya, 18 April 2017 lalu. Kini, kasus tersebut sudah dilaporkan ke Propam Polda Aceh. Laporam Murhazli, didampingi kuasa hukumnya Miswar dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) dan diterima Bripka Ridwansyah Mizan, SH, Bagian Propam Polda Aceh, sekitar pukul 11.00 WIB, Selasa (02/05/2017).

Murhazli mengatakan, sudah beberapa tahun Brigadir Reza membuat perkumpulan labi-labi dan setiap labi-labi dimintai uang iuran (kutipan) keamanan. Uang yang wajib disetorkan per bulan kepadanya Rp 70 ribu. Namun, beberapa bulan ini turun menjadi Rp 35 ribu. Dia mengatakan, uang iuaran tersebut untuk uang keamanan dan ketika ada kejadian ataupun terjaring razia kami tidak ditahan. Namun, pada saat adanya razia kami juga ikut terjaring apabila surat kendaraan tidak lengkap," ungkap Murhazli.

Lanjutnya, ia menceritakan kejadian pemukulan itu karena dirinya belum membayar uang iuaran pada bulan tersebut. Beberapa hari sebelum kejadian, Brigadir Reza menghubunginya untuk menagih uang. Namun, karena belum ada uang, ia memintanya untuk bersabar, sebab selama ini selalu dibayar setiap bulannya. "Saya belum ada uang bang, saya belum narik. Jangankan bayar iuaran untuk beras di rumah saja belum ada," katanya kepada Brigadir Reza.

Pada hari kejadian, Selasa pagi, 18 April 2017 lalu, Murhazli sedang berada di warung kopi. Saat itu Brigadir Reza menelpon dirinya dan bertanya dimana posisi korban.  "Saya mengatakan diwarung kopi. Dengan menggunakan seragam dinas tiba-tiba dia sudah dibelakang saya dan langsung memukul di kepala serta perut. Lalu, ia pergi sambil mengatakan 'ka preh beuh' (Kau tunggu ya). Karena merasa tidak bersalah saya tunggu. Nah, karena lama tidak kembali akhirnya saya mau pulang karena mulai sakit kepala," jelas korban.

Masih lanjut korban, ketika ia berada di jalan pulang, tiba-tiba menggunakan mobil patroli lalu lintas, Brigadir Reza memotong jalan dan menarik korban untuk ikut masuk ke dalam mobil patroli tersebut. Dalam mobil Reza mengatakan akan membawanya ke Polsek Susut untuk di tindaklanjuti. "Kerena tidak salah saya merasa tidak takut dan ikut. Namun setiba di Polsek saya tidak diizinkan turun dari dalam mobil dan mendengar Reza mengatakan kepada anggota Polsek tersebut kalau saya ditangkap karena berkelahi,".

Tidak lama di Polsek lalu korban dibawa ke Gardu Satlantas. "Saat dalam mobil kondisi saya sudah tidak baik, saya mulai sesak nafas, kepala dan perut saya sudah sakit, kaki dan tangan mulai kebas. Saat saya bilang ke Reza ia mengatakan kalau itu hanya alasan saja dan tidak mengizinkan saya untuk menelpon keluarga," cerita ayah dari dua anak tersebut.

Setibanya di Gardu Satlantas Abdya, Murhazli diminta untuk turun. Namun, ia sudah tidak sanggup berjalan dikarenakan kondisinya mulai memburuk. Tetapi, tetap dipaksa untuk turun. "Kepala saya pusing. Namun, tidak lama kemudian saya jatuh dan pingsan ditempat," ungkap Murhazli. Murhazli mengatakan, pihaknya akan menuntut keadilan atas kejadian tersebut. Karena, pihak pelaku tidak ada itikat baik untuk berdamai. "Reza sama sekali tidak menjenguk  saya di rumah sakit serta tidak meminta maaf untuk menyelesaikan masalah ini secara pribadi dan kekeluargaan. Maka dari itu kami menempuh jalur hukum," tegasnya.***                       

Komentar

Loading...