Disebut Terima Aliran Dana Rp 700 Juta

Muhammad Nazar: Kok Bisa Segampang Itu Berikan Uang!

Muhammad Nazar: Kok Bisa Segampang Itu Berikan Uang!
Mantan Wagub Aceh Muhammad Nazar (Foto: Antara)
Rubrik

Banda Aceh | Mantan Wakil Gubernur (Wagub) Aceh Muhammad Nazar menepis ada menerima dana Rp 700 juta dari fee proyek di BPKS Sabang tahun 2011 lalu. “Ya, saya juga heran setelah membaca berita di media. Kok bisa segampang itu memberi uang Rp 700 juta kepada seseorang, tanpa pemberitahuan dan konfirmasi. Saya tegaskan, saya tidak terima uang itu,” tegas Muhammad Nazar yang dikonfirmasi media ini, Rabu siang (27/2/2019).

Penjelasan ini disampaikan Ketua Partai SIRA tersebut, terkait pengakuan Bayu Ardhianto (karyawan PT Nindya Karya) yang menjadi saksi pada persidangan dugaan korupsi Irwandi Yusuf di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin, 25 Februari 2019.

Bayu mengaku turut memberikan uang kepada Izil, tetapi peruntukannya disebut untuk Muhammad Nazar, selaku Wakil Gubernur Aceh saat itu. "Iya sesuai catatan, ada (nama Muhammad Nazar menerima uang)," kata Bayu dalam persidangan.

Irwandi dan Nazar memang pernah memimpin Aceh pada Periode 2007-2012. Sedangkan proyek dermaga Sabang dibangun pada 2006 hingga 2011, yang memakan biaya Rp 700 miliar bersumber dari APBN. "Saya pernah dikasih catatan dari Pak Taufik atau Pak Sabir (Sabir Said, karyawan Nindya Karya), kadang kalau untuk gubernur kan NAD-1, Wagub NAD-2 kodenya," ucap Bayu.

Namun, Bayu mengaku tidak ingat siapa yang menyerahkan uang kepada Muhammad Nazar. Namun jumlah uang diterima Muhammad Nazar tercatat dalam buku pengeluaran Rp 700 juta. “Biasanya jika seseorang ada memberi uang, apalagi dalam jumlah yang besar, pasti dikonfirmasi kepada si penerima. Tapi, saya tidak ada pemberitahuan apaun baik dari PT. Nindya maupun Izil Azhar atau Ayah Merin,” ungkap Nazar.

Ulang Muhammad Nazar, saat itu posisinya sebagai Wagub Aceh hanya mempromosikan Sabang ke dalam dan luar negeri. Tujuannya, menarik investor ke Aceh. Selebihnya atau terkait proyek, dia tidak terlibat dan dilibatkan sama sekali. “Saya inikan Wagub dan tidak masuk sebagai Dewan Kawasan Sabang (DKS). Jadi, tidak ada akses saya untuk melihat apalagi mengatur proyek,” jelas Nazar.

Terkait pengakuan Bayu ada menyerahkan melalui Ayah Merin. Menurut Nazar, dia tak memiliki hubungan khusus dengan Ayah Merin, walau dia tim sukses utama dirinya bersama Irwandi Yusuf saat maju sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada Pilkada 2007 silam. “Mereka lebih dekat dengan Bang Wandi (Irwandi Yusuf),” sebut Nazar.

Karena itu dia menduga, ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, Ayah Merin memang ada meminta dan menerima atas nama dirinya. Kedua, pihak perusahaan yang mencatut dirinya untuk mengeluarkan dana tersebut. Apalagi tanpa pemberitahuan kepada dirinya, baik yang diserahkan Izil Azhar atau pihak perusahaan sendiri.

“Tapi saya pastikan, dari kedua-duanya saya tidak menerima. Andai pun diberikan kepada saya saat itu, tentu sedikit sekali, hanya Rp 700 juta, sementara dari catatan dan pengakuan saksi, ada mengalir puluhan miliar,” ujar Nazar sambil tertawa.

Hal lain sebut Nazar, menurut pengakuan saksi, peristiwa itu terjadi tahun 2011. Nah, saat itu dirinya sudah mulai ada pergesekan dengan Irwandi Yusuf, karena dia juga maju sebagai calon Gubernur Aceh, sehingga banyak peran, tugas dan fungsinya sebagai Wagub Aceh mulai dibatasi.

“Bayangkan, hanya karena sama-sama maju sebagai calon Gubernur Aceh. Kepala dinas saja takut dan tak mau bertemu saya, apalagi pengusaha sekelas BUMN,” sebut Nazar. Karena itu, sesuai dengan pengakuan Bayu yang telah memberi melalui Ayah Merin.

Nazar menyarankan.  “Sebaiknya ditanyakan kepada Ayah Merin, kapan dan dimana dia menyerahkan uang Rp 700 juta. Saya juga sudah beberapa kali menghubungi Ayah Merin dan ingin bertanya, namun telpon selulernya sudah tidak aktif,” ujar Muhammad Nazar.***

Komentar

Loading...