Sambut Milad GAM Ke-42, 4 Desember 2018

Mualem: Sekecil Apapun Janji Jika tak Dipenuhi Akan Jadi Bara Api

Mualem: Sekecil Apapun Janji Jika tak Dipenuhi Akan Jadi Bara Api
Foto: dok.MODUSACEH.CO

Banda Aceh | Kesejahteraan dalam bentuk pemberdayaan ekonomi bagi kombatan GAM, masih menjadi masalah dan belum tuntas dalam proses reintegrasi, paska lahirnya perjanjian damai (MoU) antara GAM dengan Pemerintah Indonesia, 15 Agustus 2005 silam di Helsinki, Finlandia.

Itu sebabnya, Panglima GAM yang juga Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) dan Ketua DPA Partai Aceh (PA) H. Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem ini, meminta Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Aceh, untuk lebih jernih melihat kondisi nyata tersebut. Ini dimaksudkan agar perjanjian damai dapat abadi, tanpa membuka ruang munculnya konflik baru.

Pendapat itu disampaikan Mualem, Senin sore (3/12/2018)  di Banda Aceh, saat diminta pendapatnya, menyambut Milad GAM Ke-42 yang jatuh besok, Selasa, 4 Desember 2018.

20181203-mualem-bersama-almarhum-wali-neugara-aceh-dr.-muhammad-hasan-ditiro

“Dalam perjanjian MoU Helsinki jelas diamanahkan, untuk mereintergrasikan mantan kombatan dalam masyarakat, diberikan bantuan kemudahan ekonomi, tanah pertanian dan jaminan sosial lainnya, sebagai upaya untuk memberikan kesejahteraan bagi mantan kombatan. Tapi apa yang terjadi, hingga kini belum diberikan,” tegas Mualem.

Akibatnya sebut Mualem, secara ekonomi, kondisi mantan kombatan GAM masih belum sejahtera dan hidup di bawah garis kemiskinan. Kalau pun ada, sebagian besar tidak bekerja, dan sebagian kecil lainnya sudah memiliki pekerjaan, meskipun bukan pekerjaan tetap (serabutan). Selain itu, jaminan status sosial ekonomi yang sudah tertuang dalam MoU Helsinki, juga belum diterima mantan kombatan GAM.

“Masih banyak ditemukan hambatan dan permasalahan di lapangan. Termasuk upaya mengiring para mantan kombatan GAM agar terjerat hukum. Tujuannya, membunuh karakter GAM. Saya minta, hentikan semua itu, sebab dapat memicu munculnya konflik baru,” ajak Mualem.

Ungkap Mualem, usai kesepakatan damai antara GAM dan Pemerintah RI. Para pejuangnya hanya menerima Rp 25 juta per orang. Jika dikalikan tiga ribu mantan kombatan GAM, jumlahnya sekitar Rp 7,5 miliar. “Selama 30 tahun kami berjuang, kemudian damai, apakah cukup membayar nyawa, darah dan air mata dengan Rp 25 juta per orang,” gugat Mualem, serius.

Khusus menghadapi pesta demokrasi Pileg dan Pilpres, 17 April 2019, Mualem menyebutkan adanya perintah komando darinya kepada seluruh jajaran GAM. Mulai dari gampong hingga pusat untuk memenangkan dan merebut kursi di DPRK dan DPRA sebanyak-banyaknya.

“Jangan ada lagi rasa iri dan dengki. Buang dan hilangkan berbagai perbedaan yang ada selama ini jauh-jauh. Jaga kekompakan dan silaturrahmi dalam satu jamaah bersama rakyat. Sebab, rakyat Aceh masih mengharapkan perjuangan kepada GAM,” ujarnya.

Sebagai manusia, di akui Mualem tak luput dari berbagai kesalahan. “Karena itu, atas nama Panglima GAM, saya mohon maaf,” harapnya. Selanjutnya, Mualem mengajak seluruh elemen GAM dan rakyat Aceh, menatap masa depan Aceh lebih baik.

“Jangan pernah segan dan malu untuk meminta maaf kepada rakyat Aceh. Rebut hati dan simpati rakyat, agar mereka tetap memberi kepercayaan kepada Partai Aceh,” seru Mualem.

Terkait Milad GAM Ke-42 ( 4 Desember 1976-4 Desember 2018), merupakan hari bersejarah lahirnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang didirikan Paduka Yang Mulia, almukaram Tgk Dr. Muhammad Hasan Ditiro, Wali Neugara Aceh.

GAM lahir, bertujuan menjadikan Bangsa Aceh berdaulat, adil dan makmur, sebagai pemilik sah atas berbagai kekayaan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM). “Jangan lupa sejarah panjang Bangsa Aceh, sebagai satu bangsa yang berdaulat di dunia.  Bangsa Aceh, merupakan bagian tak terpisahkan dari bangsa-bangsa di dunia, yang berdiri tegak dan sejajar. Itu sebabnya, pecah perang bersenjata antara GAM dengan Pemerintah Indonesia,” ulas Mualem.

Konflik Aceh, telah mengorbankan harta, darah dan nyawa para syuhada yang telah syahid dalam medan perjuangan, dengan  meninggalkan ribuan anak yatim serta janda korban konflik, yang saat ini sangat membutuhkan perhatian dan pemberdayaan dari semua pihak.

“Karena itu, saya perintahkan kepada seluruh wakil rakyat (DPRK dan DPRA) serta Bupati dan Walikota dari kader GAM. Kembalilah pada program pembangunan yang pro rakyat, untuk tercapainya kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat Aceh. Jangan lupa dan tinggalkan para anak yatim dan janda konflik, mereka adalah titipan dari rekan seperjuangan yang telah syahid”.

Kepada Pemerintah Indonesia, Mualem meminta agar konsisten dalam menjalankan dan melaksanakan berbagai point dalam kesepakatan damai (MoU) Helsinki dan turunannya, UUPA. “Satu janji saja yang tak dipenuhi, ibarat menghidupkan bara api yang siap membakar rumput ilalang kering. Kita tidak mengharapkan itu terjadi lagi. Karenanya saya tegaskan, jangan sekali-kali mengusik perdamaian Aceh dan mari kita jaga seluruh point-point MoU Helsinki serta UUPA. Sebaliknya, tetap memperjuangkan point-point tersebut, yang hingga kini belum sepenuhnya terealisasi, sebagai amanah dari perjanjian damai tersebut,” ujar Mualem.

Itu sebabnya, Milad GAM Ke-42, 4 Desember 2018, dijadikan sebagai cermin terhadap berbagai  regulasi yang telah disapakati dan tertuang dalam MoU Helsinki serta UUPA. Evaluasi ini perlu terus dilakukan bersama seluruh elemen rakyat Aceh. Sebab, MoU Helsinki dan UUPA, tak hanya menjadi milik GAM. Tapi, juga rakyat Aceh.

“MoU damai Helsinki merupakan “pengorbanan ideologi” dari kami pejuang GAM, menuju perdamaian abadi bagi rakyat Aceh.  Hasilnya, telah dirasakan seluruh rakyat Aceh. Jika hari ini ada yang belum sesuai, maka tidak benar dibebankan seluruhnya kepada GAM. Tapi, menjadi tanggungjawab Pemerintah Indonesia dan seluruh elemen rakyat Aceh,” ungkap Mualem. "Bek wate manggat peugah atra droe, wate saket dan meunjepit, ka peusalah GAM (jangan ketika enak menyatakan hasil usaha sendiri, begitu sakit dan terjepit, menyalahkan GAM)," kata Mualem, mengakhiri pendapatnya.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - tentukan pilihan Anda! -

Komentar

Loading...