Analisis Menakar Kekalahan Jokowi-Ma’ruf di Aceh (bagian tiga)

Mualem dan Sandiaga Uno Efek

Mualem dan Sandiaga Uno Efek
Sandiaga bersama Mualem (Foto: Ist)

Kuatnya pesona Muzakir Manaf (Mualem) di jajaran mantan kombatan GAM dan sosok Sandiaga Uno yang menjadi idola kaum milenial, menjadi salah satu penyebab kekalahan Jokowi-Ma’ruf Amin di Aceh. Sebaliknya, dua tokoh ini menjadi daya rekat dan pikat bagi paslon Prabowo-Sandiaga di Bumi Serambi Mekah.

MODUSACEH.CO | SEPERTI  halnya Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Sosok Prabowo Subianto, juga tak lekang dari berbagai fitnah dan berita serta informasi hoax di Aceh. Misal, mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad itu, kerap dikaitkan dengan berbagai isu pelanggaran HAM masa lalu di Aceh. Padahal, kalau mau jujur, Prabowo hanya instrumen terkecil dari kebijakan besar yang dilakukan para pemimpin negeri ini saat itu.

Sebut saja operasi militer (DOM). Namun, isu miring tersebut, tak begitu mudah termakan bagi sebagian rakyat Aceh. Sebab, secara hirarkis, Prabowo adalah bagian kecil dari”operasi besar” yang terjadi saat itu atau sekitar 30-an tahun lebih konflik bersenjata antara GAM versus Pemerintah Indonesia di Aceh. Dan, kemudian berakhir damai di Helsinki, Finlandia, 15 Agustus 2005 silam.

Itu sebabnya, sejumlah jenderal yang menduduki jabatan penting saat itu,  juga dinilai ikut bertanggungjawab. Ada nama Jenderal LB. Moerdhani dan Faisal Tanjung (almarhum), Tri Sutrisno, Wiranto dan lainnya. Menariknya, dalam berbagai kesempatan di Aceh, Prabowo sudah meminta maaf atas perilaku anak buah dan kepemimpinanya tersebut. Berbeda dengan Tri Sutrisno dan Wiranto yang masih hidup. Hingga saat ini, tak satu patah kata pun menyatakan; maaf pada rakyat Aceh!

Sementara itu, posisi Megawati Soekarno Putri sebagai Presiden RI, juga tak lepas dari “gugatan” rakyat Aceh. Padahal, saat berkunjungan ke Aceh, Megawati sudah berikrar akan mengakhiri konflik dan memberi cinta kepada rakyat Aceh.

Hari itu, 29 Juli 1999, dari atas panggung sederhana di belakang podium kecil, di Kampus Unsyiah Darussalam Banda Aceh, Megawati berdiri membacakan naskah pidatonya. Belasan kamera wartawan dan ratusan pasang mata menyaksikan salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia ini.

Pidato ketua partai pemenang pemilihan umum pertama pasca-Orde Baru ini begitu mengelegar. Putri Sukarno itu menangis haru. Saat air mata mengalir di pipinya, ia berusaha melantangkan suara: “Kepada kalian, saya akan berikan cinta saya, saya akan berikan hasil 'Arun'-mu, agar rakyat dapat menikmati betapa indahnya Serambi Mekah bila dibangun dengan cinta dan tanggung jawab sesama warga bangsa Indonesia.”

Arun adalah kawasan ladang gas yang dieksplorasi sejak awal dekade 1970-an. Ucapan "saya akan berikan hasil 'Arun'-mu" adalah pengakuan terbuka bahwa Aceh tidak mendapatkan hak secara layak dan Megawati berjanji hak itu akan diberikan. Tapi nyatanya, ucapan Megawati tak sesuai harapan rakyat Aceh.

20190419-sandiaga

Entah itu sebabnya, sejak era reformasi bergulir di Aceh, PDIP kurang mendapat simpati dari rakyat Aceh. Ini ditandai dengan minusnya perolehan kursi di DPRK, DPRA dan DPR RI. Jika pun ada, hanya bisa dihitung dengan jari.

Kondisi ini, diakui atau tidak, ikut mempengaruhi dukungan dan perolehan suara bagi Joko Widodo-Jusuf Kalla sebagai calon Presiden dan Wakil Presiden RI 2014 lalu. Dan fakta tak elok tadi kembali terulang pada Pilpres 2019. Perolehan suara Jokowi-Ma’ruf Amin di Aceh justeru terjun bebas.

Lantas, mengapa paslon Prabowo-Sandiaga Uno meraih hampir 90 persen suara di Aceh pada Pilpres 2019? Diakui atau tidak, sosok Muzakir Manaf sebagai Panglima GAM, Ketua Partai Aceh (PA) dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA), masih memberi konstribusi besar.

Walau di sisi lain ada upaya Jakarta untuk memecahkannya dengan  menarik sejumlah mantan petinggi GAM dalam kubu 01 seperti Sofyan Daud, Irwansyah (Tgk Maksalmina) dan Kamaruddin Abu Bakar (Abu Razak). Ternyata, performance mereka belum mampu mengimbangi pengaruh Mualem di lapangan.

Militansi para mantan kombatan GAM, terutama di pedesaan, masih belum mampu ditembus secara massif oleh Sofyan Daud, Maksalmina dan Abu Razak. Meski ada upaya membangkitkan kembali sentimen anti Prabowo dengan isu masa lalu dan mem-framing Jokowi dengan pembangunan infrastruktur di Aceh. Namun, kampanye plus dan minus tersebut bisa dihalau Mualem.

Di sudut lain, munculnya Sandiaga Uno sebagai Capres RI 02, mendampinggi Prabowo. Dia telah mampu membuka cakrawala kaum muda (milenial) di Aceh untuk bersatu, memenangkan paslon ini. Sandiaga dinilai sebagai sosok anak muda yang bersih, cerdas, kaya dan regilius, sehingga pesonanya mampu menghipnotis kaum muda di Indonesia termasuk Aceh.

Menariknya, diam-diam, lokomotif dukungan milenial Aceh terhadap Prabowo melalui Sandiaga di Aceh, juga dilakukan para kaum muda Aceh terpelajar, baik pengusaha muda maupun mahasiswa, khususnya yang sedang menempuh pendidikan di Pulau Jawa dan luar negeri. Efeknya, paslon Prabowo-Sandiaga dengan mudah diterima kaum milenial Aceh yang memang relatif tidak bersentuhan langsung dengan konflik masa lalu.

Gagasan-gagasan Sandiaga tentang pemberdayaan dan peluang kerja kaum muda Indonesia (Aceh), disambut secara terbuka di seluruh nusantara dan Aceh. Itu sebabnya, Sandiaga dinilai telah mampu mencover berbagai kampanye negatif terhadap Prabowo.***

Komentar

Loading...