Breaking News

Mirip Anak Punk, Tujuh Pengamen Jalanan Ditahan

Mirip Anak Punk, Tujuh Pengamen Jalanan Ditahan
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Dinas Sosial Kota Banda Aceh telah menahan tujuh pengamen jalanan dari Pulau Jawa di Rumah Singgah Lamjabat, Banda Aceh. Mereka ditahan karena dianggap menyalahi aturan syariat, dengan berpenampilan layaknya anak punk.

Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Banda Aceh, T. M. Syukri yang ditemui di Rumah Singgah Lamjabat, Banda Aceh membenarkan penangkapan tersebut.

Katanya, para pengamen yang ditangkap berasal dari daerah Pulau Jawa. Mereka ditahan, karena dianggap telah menyalahi aturan syariat.

“Mereka ditangkap Satuan Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Kota Banda Aceh. Sabtu sore (24/2/2019) lalu. Mereka dibawa ke Rumah Singgah untuk dibina kembali. Dari segi pakaian dan penampilan sudah seperti anak punk, makanya kita tertibkan. Nanti kita beri bimbingan dan kita lepaskan kembali,” ujarnya.

T. M. Syukri

 

Sebenarnya, tak ada larangan untuk seseorang mencari rezeki seperti mengamen. Namun, kawasan Aceh adalah daerah yang bersyariat Islam, sehingga penampilan  yang dikenakan harus sesuai.

“Kami tidak melarang masyarakat untuk mencari pekerjaan seperti mengamen. Tapi, mengamen pun punya aturan. Sopan dan sesuai syariat. Sehingga masyarakat dapat menikmati waktu santai saat berada di kafe atau warung-warung,” jelas Kabid itu.

Syukri mengaku, bukan hanya pengamen luar yang ditangkap. Bahkan, di Rumah Singgah Lamjabat terdapat satu orang pengamen yang berasal dari Banda Aceh.

“Pengemis dari luar ada 5, ada juga satu orang dari Banda Aceh. Yang dari Banda Aceh kita lihat nanti kemampuannya. Kalau memang punya usaha maka akan kita berikan Disperindag dan Dinas Sisoal untuk membantu fakir miskin,” ungkapnya. 

Rahmad (23) salah satu penghuni atau seorang dari anak komunitas vespa, hanya bisa pasrah ketika dirinya dan enam sahabat harus berada di Rumah Singgah Lamjabat.

Dia mengaku, tak ada niat untuk membuat kericuhan di Kota Banda Aceh. Mereka terpaksa mengamen malam itu, karena kehabisan uang untuk pulang ke kampung halamannya.

“Kami dari komunitas vespa. Barusan aja pulang dari nol kilometer (Sabang). Saat itu kehabisan uang. Mau gak mau, kami ngamenlah. Eh tiba-tiba ditanggkap,” ujarnya Rahmad pada wartawan media ini saat dijumpai, Senin (25/2/2019). 

Katanya, dia dan enam kawan lainnya memang sudah sering mendengar tentang Banda Aceh yang tidak memperbolehkan ada pengamen serta memiliki hukum syariat. Namun, keterbatasan membuat mereka memberanikan diri singgah ke Banda Aceh.

“Udah sering denger sih sama temen-temen kalau di Aceh ada hukum syariat. Ya, tapi mau gimana. Kita cuma punya baju seadanya,” ungkap Rahmat dengan logat Jawa.

“Kami berasal dari daerah yang berbeda Mbak. Jawa, Medan, Pekan Baru, Bumi Ayu, Bangka Belitung, dan Jakarta. Satu kesatuannlah, pusing juga ditanggkap gini. Biasanya dah ngopi,” lanjutnya sambil tertawa.***

Komentar

Loading...