Breaking News

Merasa Terbunuh oleh Media-media di Aceh (Zulfikar Akbar*)

Merasa Terbunuh oleh Media-media di Aceh (Zulfikar Akbar*)
Fb Zulfikar Akbar
Penulis
Rubrik
Sumber
Zulfikar Akbar

 

SEBULAN lalu, berbagai media mengangkat berita seputar kritikan saya atas seorang pemuka agama yang sedang naik daun. Di tengah keriuhan di media sosial, beberapa media arus utama pun turut menambah keriuhan itu.

Hasilnya, publik terpancing emosi, dan bahkan cenderung semakin memanaskarena beberapa media terkesan menambah panas situasi tersebut. Tak terkecuali di Aceh, ada beberapa media yang belakangan saya ketahui turut memperuncing polemik itu.

Ironis karena media-media di Aceh tersebut, seperti Serambi Indonesia dan AcehTren, terkesan turut menikmati suasana memanas itu. Mereka menyajikan berita yang hanya berdasarkan sumber sekunder, dan terkesan klimaks dan puas dengan sumber tersebut.

Akibatnya, keluarga saya di Jeuram, Nagan Raya, turut menjadi korban cibiran sampai berbagai fitnah. Mereka tertekan dan terintimidasi, hanya karena kritik-kritik saya di media sosial yang dipelintir dan turut dibesarkan oleh media-media di Aceh.Tidak terlihat iktikad untuk meminta konfirmasi, klarifikasi, atau penjelasan lebih jauh dari sekadar yang saya cuitkan di Twitter dan tuliskan di status Facebook. Media-media itu hanya mengutip berita tersebut dari sumber sekunder, dan terkesan membiarkan saja opini berkembang, berlanjut pada mispersepsi, dan berujung kepada aksi bullying secara massal.

Bullying itu memang tak hanya berasal dari Aceh, melainkan juga sayadapatkan dari banyak pemilik media sosial yang berasal dari luar Aceh. Dari luar Aceh tidak terlalu saya persoalkan karena saya dan jaringan saya di Jakarta sudah memetakan siapa saja mereka, dan apa motif mereka melakukan aksi tersebut; buzzer dan pendukung kekuatan politik tertentu dan tak lebih untuk kepentingan politik—dan ini yang kurang dipahami publik.Ya, ada yang menggulirkan isu seputar saya dengan memainkan narasi“penista ulama”.

Narasi itu dimainkan hanya merujuk pada cuitan saya di Twitter yang berisikan keluhan yang dapat dibahasakan sederhana; kok ya ada pemuka agama yang ditolak negara orang untuk datang malah bikin ribut di dalam negeri. Berita seputar penolakannya seperti hampir tak kenal henti.  Saya membahasakannya dengan “ulama rusuh”. Kalimat itu, dalam bahasa dialog sehari-hari di Jakarta, terutama kata “rusuh”, bukanlah menuduh adanya kerusuhan dilakukan ulama tersebut. Rusuh di sini, berdasarkan dialog sehari-hari masyarakat di Jakarta, hanya ungkapan untukmenunjukkan keributan, setara bising. Bahkan jika merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia pun, rusuh juga diartikan sebagai kacau, ribut, dan bisa juga huru-hara.

Sekali lagi, pernyataan “rusuh” yang saya maksud di cuitan saat itu cenderung mengarah pada keributan yang lahir setelah kunjungan pemuka agama yangsedang naik daun itu. Kenapa saya menyinggung itu, lantaran negara yang dituju pemuka agama tersebut—Hong Kong—adalah negara yang memang identik dengan etnik yang ada juga di Indonesia.

Jika isu itu terus dibiarkan bergulir dan bergulir, bukan tak mungkin akan beradu dengan narasi anti- etnis tertentu di dalam negeri yang bisa saja berujung pada kezaliman pada etnis tersebut. Maka itu saya memanfaatkan Twitter untuk menuliskan cuitan yang memang bernada sarkas, kemudian ditemukan oleh buzzer yang memang terafiliasi ke kelompok politik tertentu, dan di sana ia memainkan isu. Berawal dari sekadar hashtag #BoikotTopSkor, sebagai strategi mereka untuk menghantam saya lewat perusahaan media olahraga tempat saya bekerja. Kemudian hashtag itu diaduk lagi dengan narasi “penista ulama”, dan itulah yang kemudian terus digulirkan oleh buzzer tersebut secara bergantian.

Apa tujuan mereka dari memainkan hashtag itu hampir bisa saya pastikan karena selama ini mereka tak menemukan cara untuk membungkam saya berbicara di media sosial. Toh, sebelumnya saya juga mengalami bully berkali-kali karena memilih bersikap apa adanya di tengah berbagai isu yang berhubungan masalah sosial dan politik. Namun dalam bully yang terjadi sebelumnya tidak mempan, karena mereka menyerang saya pribadi lewat hujatan, caci maki, dan sejenisnya.

Tak mempan karena bagi saya siapa pun yang hanya bisa menghujat dan mencaci tapi tak bisa diajak berdialog, maka ia hanya sedang meluapkan insting hewaninya saja. Sebagai manusia beradab, dalam prinsip saya silakan kritik sekeras-kerasnya jika ada yang keliru, tapi tak perlu meniru cara-cara hewani, sehingga acap tidak saya gubris. Jadi, ketika mereka menemukan cuitan saya yang memang bernada keras atas figur yang sedang naik daun, mereka menemukan momen yang dilengkapi dengan framing penistaan ulama, di situlah makin banyak orang terpancing emosi dan mengikuti framing tersebut begitu saja.

Dapat saya katakan, sebagian besar yang melakukan bully atas saya itu hanya berangkat dari sentimen politik, dan sebagian lainnya termakan hasutan. Bahwa ada yang mungkin murni membela ulama, saya yakini tak ada yang berada dalam barisan itu. Kenapa saya meyakini begitu, sebab yang memuliakan ulama yang sebenarnya juga tak ingin menjatuhkan nama ulamanya dengan menghina dan mem-bully sesama manusia secara melampaui batas.

Terlahir di Aceh, menempuh pendidikan di tanah endatu ini juga, saya memahami ulama bukanlah mereka yang berburu panggung untuk dipuja dan dipuji. Ulama-ulama Aceh seperti Abu Muda Wali, Nasir Wali, Abu Tanoh Mirah, Abu Tanoh Abee, dan banyak ulama lainnya di tanah kelahiran saya tersebut mendidik, membina, dan terkenal mampu menciptakan banyak murid-murid yang mampu menyebar kebaikan hingga ke berbagai belahan dunia.Ulama-ulama Aceh tersebut mengajarkan kebaikan dengan cara baik dan memang mampu melahirkan figur-figur yang baik. Sementara figur yang sedang naik daun yang saya sorot sampai berujung bully dan terhentinya karier saya di media saya bekerja, jadi sasaran kritik saya karena menyimak orang ini rajin muncul di depan publik, rajin berbicara agama, punya banyak pengikut, tapi kenapa banyak di antara mereka memamerkan arogansi, keangkuhan, dan bahkan kezaliman.

Buktinya? Reaksi mereka atas kritikan saya saja cukup menjadi bukti.Maka itu dalam cuitan lainnya saya juga mengkritik figur publik yang belakangan disebut sebagai ulama itu, jangan-jangan bukannya mendekatkan umat kepada Tuhan melainkan justru mendekatkan mereka kepada setan.

Saya akui, kritikan saya itu keras, dan mungkin terlalu pedas, tapi saya mempertimbangkan harus menyampaikan begitu agar lebih terdengar. Ada impian saya sebagai seorang Aceh, agar agama tak dijadikan “recehan”, tak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan popularitas, sekadar mengejar pengikut, melainkan agar figur yang telah dianggap sebagai ulamabisa membawa manfaat yang lebih besar kepada pengikutnya.

Sepemahaman saya sebagai ureueng Aceh, ulama tidak menjadikan murid-murid sebagai pembelanya, tapi ia menciptakan murid-murid yang mau membela kemanusiaan, membela kebaikan, dengan cara-cara baik.

Di Aceh kita telah membuktikan itu,  buah dari pendidikan baik dari ulama-ulama yang terbukti baik. Bagaimana di Peunayong masyarakat Tionghoa dapat hidup damai, rumah ibadah mereka dapat berdiri tanpa gangguan, bahkan di berbagai gampong mereka dapat hidup tanpa terusik. Itu sebuah bukti, sekaligus pelajaran bagi saya, bagaimana ulama di Aceh mendidik masyarakat Muslim di sini untuk menghargai perbedaan dan menghargai kemanusiaan.

Bagi ulama-ulama yang dari kecil saya ikuti riwayat hidup mereka di Aceh, peran ulama memperbaiki yang buruk agar lebih baik, mengubah akhlak buruk menjadi akhlak baik, mengubah kegelapan pikiran dan hati menjadi terang. Itu yang justru tidak saya temukan dari figur yang tengah naik daun di pentas nasional, sehingga saya memilih “lancang” mengkritiknya.

Saya melihat figur itu cenderung menikmati puja-puji, merasa puas dengan banyak pengikut, dan terkesan nyaris tanpa “muhasabah” seberapa besar kebaikan telah ia bawa untuk pengikutnya? Jika para pencaci-maki, pelaku fitnah, bully, adalah murid-muridnya, apakah murid seperti itu yang ingin dihasilkan oleh seorang ulama? Maka itu saya menggugat keulamaan figur tersebut, terlepas ia aktif diorganisasi keislaman dan juga di Majelis Ulama Indonesia. Sebab, ulama yang saya pahami itu pewaris nabi, dan nabi identik dengan kebaikan, dan sulit dicerna akal sehat jika seseorang rajin menampilkan kesan sebagai ulama sementara pengikutnya justru menunjukkan akhlak bertolak belakang.

Terlepas benar, bahwa sikap murid atau pengikut tak sepenuhnya mewakili siapa yang digugu, tapi bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya tak hanya berlaku bagi orang tua dan anak, tapi juga untuk guru dan murid. Lagi-lagi itu adalah alasan di balik kritikan-kritikan saya, sebab sejak kecil belajar Islam, mendatangkan saya pada kesimpulan bahwa ulama itu bukan sekadar seseorang mendapatkan titel dari negara Timur Tengah dan sekitarnya, atau sekadar rajin tampil di berbagai media, tapi mereka yang memang mampu mendidik umatnya untuk menjadi lebih baik; dari cara berpikir sampai bersikap.

Nah, motif-motif itu yang sejauh ini jarang dilirik oleh publik, terutama di Aceh, terlebih setelah media di sini pun latah mengutip media nasional yang sama sekali tidak mengonfirmasikan ke saya atau meminta klarifikasi.

Alhasil, imbas dari sana, saya bahkan merasakan semacam trial by press lantaran beberapa media di Aceh yang mengutip kabar tentang saya hanya dari sumber sekunder, dan tak terlihat iktikad untuk menyampaikan yang benar. Patut saya garisbawahi, media nasional yang langsung mengontak saya dan meminta klarifikasi hanyalah CNN Indonesia, Tempo, Suara.com, Tirto dan terakhir MODUSACEH.CO. Salah satu media online di Aceh.

Selebihnya, hanya mengambil dari sumber sekunder, cenderung “main comot”, dan menafikan efek yang ditimbulkan, hingga berujung kebencian tanpa henti dari publik. Apakah saya ingin menyalahkan media-media ini? Tidak. Hanya saja, berharap agar ke depan mereka dapat lebih dewasa sebagai pekerja media, dan memerhatikan impact dari pemberitaan tanpa cross-check secara mendalam. Sebab, sekadar mengandalkan framing, mengejar mana yang paling menarik saja, menafikan cover both sides, mungkin mereka akan mendapatkan berita besar tapi juga bisa melahirkan bahaya besar. Bahaya itu bukan sekadar tentang korban trial by press melainkan juga terkorbankannya nalar publik, tersesatkan oleh kemalasan insan pers sendiri.

Secara etika jurnalistik, jelas dalam Kode Etik Jurnalistik ada kewajiban untuk menghasilkan berita akurat, berimbang, selain professional dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Sementara dalam berita yang mereka keluarkan di Aceh tersebut cenderung mengarah ke trial by press karena yang dipublikasikan lebih mirip layaknya sebuah keputusan pengadilan di mana “tersangka” bahkan tidak tahu apa-apa saat berita diturunkan.

Berita yang diturunkan cenderung bias. KONTRAS pernah mencatat pada 2012, betapa efek trial by press pernah memakan korban di Aceh, saat seorang remaja disangka pelacur hanya karena ditangkap oleh Polisi Syariat dan media mem-blow up hingga berujung bunuh diri. Ya, itu hanya sebuah efek di antara gunung es yang sekilas kecil di permukaan, tapi sejatinya memang menyimpan dampak besar di bawah permukaan.

Dalam kasus saya, meskipun hanya kasus yang berawal dari sebuah kritik sosial, tapi efek di mana hingga keluarga besar dipermalukan pun menjadi imbasnya. Sebab pihak-pihak yang berseberangan secara politik telah menjadikan itu sebagai amunisi untuk menghantam keluarga yang tidak tahu apa-apa.Lantas apa ekspektasi saya? Ya, media-media sekelas Serambi Indonesia dan AcehTren yang sedang memburu pembaca lebih besar, sebaiknya berusaha tetap mempertimbangkan risiko-risiko besar.

Jadilah pekerja pers professional yang tak hanya memburu “news value”, tapi juga lebih jeli  mempertimbangkan impact atau dampak. Terlebih publik memang masih membutuhkan pemahaman dan edukasi lebih baik bagaimana berdemokrasi dan berpendapat. Jangan sampai publik tergiring pada pemahaman bahwa caci maki hingga intimidasi justru boleh, dan kritik dianggap tabu. Dalam demokrasi, kritik itu justru menjadi salah satu cirinya, tapi caci maki sampai dengan bully dan intimidasi berikut hasutan, bahkan dalam agama pun hal-hal itu terlarang.

Harapan saya media di Aceh dapat menjadi corong pencerahan publik, bukan penyesatan publik. Sementara bagi masyarakat di Aceh, kita di sini masih memiliki banyak ulama yang teruji danilmu yang mumpuni, dan akrablah dengan mereka. Ulama bukanlah mereka yang dipopulerkan tivi, tapi ulama adalah mereka yang mampu membagi semangat kebaikan dari Ilahi.***

 * Jurnalis, tinggal di Jakarta

Komentar

Loading...