Menyoal Kelompok Kriminal Bersenjata Aceh

Menyoal Kelompok Kriminal Bersenjata Aceh
Foto: Humas Polda Aceh
Penulis
Rubrik

RAKYAT Aceh, Bumi Serambi Mekah tiba-tiba saja tersentak. Ini sejalan dengan tertangkapnya Nas (35) dan Sul alias Sal alias Ap (38), di Gampong Alue Ie Puteh, Kecamatan Baktia, Kabupaten Aceh Utara oleh Tim Gabungan Polda Aceh, Kamis, 14 Februari 2019 lalu.

Tentu, ini bukan tangkapan biasa. Tapi, ada kaitannya dengan pengunaan senjata api ilegal. Itu sebabnya, Polda Aceh mengklaim, kedua pria tersebut merupakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).

Sejauh ini, memang belum jelas terungkap untuk apa senjata tersebut digunakan dan miliki. Karena itu, tak elok pula jika kita meraba-raba, apalagi mengaitkan dengan modus operandi atau motif tertentu.  Misal, terorisme. Begitupun, peristiwa dan penangkapan ini menjadi “seksi” karena menjelang pesta demokrasi lima tahunan yakni, Pilpres dan Pileg, 17 April 2019 mendatang.

Tapi, dari barang bukti (BB) yang ditemukan yaitu, satu pucuk senjata api (senpi) jenis AK 56, 64 butir amunisi kaliber 7,56, baju jubah warna putih, kain surban warna hijau dan kain surban warna hitam. Dugaan polisi ada kaitannya dengan obsesi untuk mendirikan “Kerajaan Islam Aceh Darussalam”.

Itu sebabnya, muncul pula dugaan bahwa senjata api ilegal terus masuk ke Aceh melalui garis pantai yang menghubungkan Aceh dengan Malaysia serta Thailand. Diduga, jumlahnya ada ribuan dengan berbagai kepentingan.

“Saat ini, kedua tersangka dan barang bukti telah diamankan di Polres Aceh Timur, guna dilakukan penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut," ungkap Kabid Humas Polda Aceh Ery Apriyono melalui siaran persnya, pekan lalu.

Nah, munculnya kalimat “Kerajaan Islam Aceh Darussalam” ini, justeru melahirkan tafsir baru. Jika benar, dari kelompok mana mereka berasal? Kemana afiliasi “perjuangan” yang akan dilakukan? Benarkah menuntut kembali “Aceh Merdeka” dalam bingkai atau sistem kerajaan Islam? Atau menegakkan khilafah, yang merupakan bagian universal dari perjuangan kelompok yang diberi lebel sebagai terorisme global?

Sekali lagi, tentu butuh waktu dan bukti-bukti nyata dari berbagai dugaan tersebut. Sebab, bisa jadi “letupan” ini hanya semata-mata muncul karena menjelang Pilpres dan Pileg 2019. Sebaliknya, reaksi dari kelompok yang tidak puas dengan kondisi Aceh saat ini (paska MoU Damai), 15 Agustus 2005 silam, yang kemudian mencari dan membentuk sel baru dengan ISIS di Suriah? Semua kemungkinan bisa saja terjadi.

Sejumlah sumber media ini mengungkapkan. Nas (35) dan Sul alias Sal alias Ap (38) tidak sendiri. Mereka memiliki amir (pemimpin) yang disebut-sebut sebagai mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang tidak puas dengan kondisi Aceh saat ini. Makanya, dalam aksinya, disebut-sebut mereka memasang “target” para pejabat pemerintah serta elit maupun politisi, terutama dari  Partai Aceh (PA).

Tapi, keberadaan mereka ada tiga faksi. Satu dipimpin Tgk T alias AR, kedua Tgk N dan ketiga Tgk S. Nah, apakah ketiga memiliki satu garis komando atau tidak? Ini pun masih misteri.

Memang, dugaan bangkitnya jaringan teroris baru di Aceh sudah dibuka Staf Ahli Panglima Kodam (Pangdam) Iskandar Muda (IM), Kolonel CAJ Ahmad Husein. “Mereka bilang, para alumni yang berhasil melarikan diri telah mengatur strategi baru untuk kembali membuat gerakan teroris di Aceh,” ungkapnya.

Pengakuan itu disampaikan Ahmad Husein kepada wartawan media ini usai acara Lokakarya Bersinergi Menyukseskan Pileg dan Pilpres 2019 di Balai Kota Banda Aceh, Kamis, 7 Februari 2019.

Katanya, Aceh merupakan daerah yang nyaman untuk melakukan pelatihan militer dan sebagai tempat persembunyian para teroris. Kata mereka, Aceh adalah ladang yang empuk untuk melakukan persembunyian dan sebagai tempat pelatihan. Karena, kawasan Aceh banyak terdapat hutan dan laut yang saling berhubungan.

Sebab itu, dia menduga para alumni teroris yang sempat melarikan diri Pengakuan itu disampaikan Ahmad Husein kepada wartawan media ini usai acara Lokakarya Bersinergi Menyukseskan Pileg dan Pilpres 2019 di Balai Kota Banda Aceh, Kamis, 7 Februari 2019.

Selain itu, Aceh merupakan daerah yang nyaman untuk melakukan pelatihan militer dan sebagai tempat persembunyian para teroris. “Saya mendengar pengakuan dari para teroris yang tertangkap ketika melakukan pelatihan di Gunung Jalin, Jantho, 2010 silam. Kata mereka, Aceh adalah ladang yang empuk untuk melakukan persembunyian dan sebagai tempat pelatihan. Karena, kawasan Aceh banyak terdapat hutan dan laut yang saling berhubungan,” kata Ahmad.

Itu sebabnya dia menduga para alumni teroris yang sempat melarikan diri tahun 2010 silam, akan kembali melakukan aksinya di wilayah Aceh. “Mereka bilang, para alumni yang berhasil melarikan diri telah mengatur strategi baru untuk kembali membuat gerakan teroris di Aceh,” ungkap Ahmad Husein.

Lepas benar atau tidak dugaan ini, data yang dimiliki media ini menyebutkan. Dari sekitar 70-an peserta pelatihan teroris di Bukit Jalin, Kabupaten Aceh Besar, 2010 silam. Ada 40 diantaranya berasal dari Aceh. Mereka berasal dari PNS, mantan kombatan GAM serta para santri.

Dari jumlah tersebut, ada yang tewas serta ditangkap Densus 88 saat itu dan menjalani hukuman diberbagai lembaga pemasyarakatan (Lapas), baik di Aceh maupun Pulau Jawa. Kini, sebagian dari mereka pun telah menghirup udara bebas, berkumpul bersama keluarga serta menjalan usaha secara mandiri. Itu sebabnya, berbagai dugaan dan prediksi bisa saja terjadi.

Berkacalah pada kasus tertangkapnya Harry Kuncoro (41) alias Wahyu Nugroho alias Uceng oleh tim Detasemen Khusus 88 anti teror Mabes Polri di Bandara Soekarno-Hatta, saat hendak terbang ke Suriah, 3 Januari 2019 lalu. Peristiwa ini  tak boleh dianggap sesuatu yang biasa. Sebab, Harry pernah divonis Pengadilan Negeri Jakarta Barat, 15 Maret 2012 dengan pidana penjara selama enam tahun.

Dalilnya, dia telah menyembunyikan terpidana kasus terorisme Dulmatin. Selain itu Harry didakwa terlibat dalam distribusi senjata dan amunisi untuk kelompok Dulmatin di wilayah Jawa Tengah. "HK ditangkap di Bandara Soetta 3 Januari 2019. Kenapa baru diungkap setelah satu bulan karena memang proses investigasi butuh penguatan alat bukti lainnya untuk mentersangkakan," papar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta, Senin, 11 Februari 2019.

Pada Maret 2016, Harry mendapat pembebasan murni dari hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pasir Putih, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Harry juga termasuk teroris senior di jaringannya lantaran memiliki koneksi langsung dengan jaringan ISIS di Suriah yakni dengan Abdul Wahid, yang dikenal sebagai salah satu algojo ISIS.

Tidak hanya itu Harry juga sebagai donatur bagi jaringannya yang hendak berjihad ke Suriah. “Rekam jejak HK ini cukup panjang, dalam kasus teror mulai kegiatan kelompok Jamaah Islamiyah (JI) zamannya Noordin M Top, tersangka juga sudah keluar masuk dua kali terkait terlibat di kelompok Noordin M Tip dan Dr Azhari,” urai Dedi.

Saat ditangkap polisi, Harry menggunakan identitas palsu agar lolos dari screening petugas. Kepolisian menjerat Harry dengan pasal 12 A ayat 1 UU 5/2018 tentang tindak pidana teror. Pasal 15 jo pasal 7 UU 15/2003 dan atau pasal 13 huruf c, pasal 263 KUHP karena memalsukan dokumen. "Tersangka akan terus dikembangkan. Prinsipnya Densus dan Satgas Antiteror melakukan upaya masif sistematis untuk mitigasi dan mengantisipasi semaksimal mungkin serangan teror di Indonesia," jelas Dedi.

Nah, adakah hubungan dengan dugaan bangkitnya kembali aksi terorisme di Aceh, terutama sebagai ladang subur untuk latihan? (selengkapnya baca edisi cetak).***

Komentar

Loading...