Mengoreng “Selera” Tuan

Mengoreng “Selera” Tuan
Mengoreng (Foto: Ilustrasi

Secara umum, menggoreng merupakan aktifitas mencelupkan/meletakan suatu bahan makanan ke dalam minyak panas. Tapi awas, jika tak cakap justeru akan hangus dan gosong.

MODUSACEH.CO | Secara teknis, menggoreng merupakan aktifitas untuk mengeluarkan kandungan air dari bahan yang di goreng (umumnya makanan) ke dalam zat yang suhunya lebih tinggi dari titik didih air dan berlangsung cepat.

Tapi,  bahan yang kering akibat terkena matahari bukan termasuk penggorengan. Karena itu, pada proses penggorengan terjadi perubahan kimia pada bahan yang digoreng. Mulai dari warna, tekstur, rasa maupun aroma.

Pertanyaannya,  apakah menggoreng harus selalu mengunakan minyak goreng?  Sebab, bahan minyak dipilih karena memiliki titik didih yang tinggi dan tidak berbahaya bagi tubuh maupun lingkungan.

Panas minyak goreng ketika mendidih umumnya memiliki suhu 300 derajat hingga 400 derajat celcius. Sedangkan suhu air maksimal 100 derajat celcius. Jadi, seketika itu juga air yang terkandung dari bahan yang digoreng berubah menjadi uap.

Namun bukan berarti kita tidak bisa mengganti minyak dengan bahan lain. Kita bisa saja menggantinya dengan pasir.

Pernahkah mendengar istilah kerupuk pasir? Itu juga termasuk proses penggorengan, hanya saja tidak semua bahan makanan bisa di goreng melalui pasir yang dipanaskan ini.

Tak hanya itu, kenapa ketika menggoreng suka terdengar bunyi? Kembali lagi, tujuan menggoreng adalah, mengeluarkan kandungan air dari dalam bahan. Pada proses menggoreng titik didih air hanya 100 derajat celcius sedangkan minyak sekitar 300 derajat celcius sehingga air yang terdapat dalam bahan itu, seketika berubah menjadi gas akibat perbedaan suhu ekstrim tersebut.

Dalam perubahannya, air membentuk gelembung-gelembung gas yang biasa jumlahnya banyak, tergantung seberapa banyak kandungan air dari bahan yang di goreng, dari situlah bunyi-bunyi itu berasal.

Bayangkan saja jika Anda meniup plastik, lalu plastiknya diikat dan ditepukkan, maka plastik itu akan meledak dan menghasilkan bunyi. Sekali lagi, dan berhati-hatilah ketika kita ingin menggoreng. Perhatikan kandungan air dalam bahannya, sebab jika kita terkena cipratan minyak, maka tangan kita akan melepuh akibat suhu minyak goreng yang tinggi.

***

Kini, istilah menggoreng bukan hanya dalam dunia kuliner. Trend istilah ini, juga mulai merambah dunia jurnalistik. Intinya, mengarah pada sebuah karya jurnalistik yang diduga sudah sarat dengan framing (membingkai) sebuah informasi atau berita, untuk membela sang tuan atau pengorder berita tersebut.

Syahdan, istilah mengoreng muncul kembali, terkait pemberitaan tentang pergantian kursi Ketua DPR Aceh dari Muharuddin kepada Muhammad Sulaiman. Ini berdasarkan surat keputusan DPA Partai Aceh yang ditandatangani Muzakir Manaf (Ketua) dan Sekretaris Jenderal, Kamaruddin Abu Bakar (Abu Razak).

Bisa jadi, istilah ini muncul karena ada dugaan bahwa proses informasi atau produk sebuah berita, sarat dengan kepentingan atau dalam bahasa lain disebut; tendensius dan tak jelas narasumber alias hanya ilusi.

Sebaliknya, mengoreng (framing) sebuah berita atau informasi, berdasarkan bumbu masak yang di order si induk semang. Tentu, tidak gratis. Sebab, tidak ada makan siang yang gratis.

Sayangnya, banyak karya jurnalistik yang digoreng, tapi si koki (tukang masak) tidak cukup lihai dan memiliki kemampuan (ilmu), untuk membela atau membalik masakan sang tuan yang mengordernya, sehingga masalah tadi menjadi hangus atau gosong.

Bisa jadi, itu terjadi karena si jurnalis memposisikan dirinya bukan sebagai seorang wartawan, tapi pegiat media sosial (medsos), sehingga lari atau lupa pada kaedah akurasi dan validasi dari sumber utama informasi atau berita.

Tentu, salah satu parameter untuk mengukur kemampuan dan pemahaman seorang jurnalis adalah, pada pengalaman atau jam terbangnya dalam menjalankan profesi ini. Selain itu, sudah mengikuti uji kompetensi dan sertifikasi yang menjadi kewajibannya. Dari sanalah, dapat diukur kemampuan minimal dari seorang jurnalis.

Itu sebabnya, untuk mampu mengoreng masakan “berita atau informasi’ sesuai selera induk semangnya. Seorang ‘koki’ (jurnalis) tak cukup hanya paham dan tahu soal framing, agenda setting dan semiotik dalam memilih kata dan kalimat.

Sebaliknya, harus mampu menelusuri apakah berita atau informasi yang akan digorengnya sudah memenuhi unsur 5W+1H. Misal, narasumber yang jelas, valid, akurat dan dari sumber utama.

Ini menjadi penting, sehingga berita yang akan digoreng, justeru tidak berbalik arah atau kontra produktif terhadap isu serta masalah yang sedang dialami ‘bossnya’ atau pemesan makanan tadi.

Membela boss atau si pemilik modal (pemberi sumbangan tak wajib) itu wajar-wajar saja ditengah persaingan media pers saat ini. Dan itu jamak terjadi di dunia saat ini. Termasuk media nasional dan Internasional. Namun, sebelum mengoreng, sebaliknya seorang jurnalis harus benar-benar paham tentang ‘masakan’ (informasi atau berita) yang akan digoreng, untuk membela TUANNYA!

Jika tidak, sekali lagi, bukan mustahil masakan yang digoreng tadi akan gosong, karena terlalu lama dan api yang dihidupkan terlalu besar.

Dalam konteks pergantian Muharuddin misalnya, masalah goreng mengoreng yang dimainkan media tertentu (membela Muharuddin), tentu tak sesederhana itu. Sebab, dibalik kebijakan pergantian tadi, masih ada sejumlah masalah lain yang bukan tidak mungkin akan terungkap ke permukaan.

Pengalaman pahit ini setidaknya dapat bercermin pada kasus yang dialami Gubernur Aceh nonaktif Irwandi Yusuf yang dijerat OTT KPK, 4 Juli 2018. Saat itu, mayoritas media arus utama dan online, memainkan peran dan mengoreng berbagai pembelaan terhadap Irwandi dengan sangat santun dan lihai. Tapi faktanya, proses hukum (KPK) tak mampu untuk digoreng, sesuai selera sang tuan.

Jadi, sedikit lebih lihailah dalam membela dan ‘mengoreng’ masakan, sesuai resep dan selera sang tuan.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - yuk ikutan polling-nya! -

Komentar

Loading...