Breaking News

Menanti Sikap Kesatria Sayid Fadhil, Mundur atau Diberhentikan?

Menanti Sikap Kesatria Sayid Fadhil, Mundur atau Diberhentikan?
dok.MODUSACEH.CO

Ibarat kapal, Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS), bukan hanya sedang diterpa badai dan gelombang tinggi. Kini, moda transportasi laut itu pun mulai mengalami “bocor” di sana-sini. Jika tidak cepat ditambal, bukan mustahil akan tenggelam dan karam di laut dalam.

Sebagai nahkoda, Sayid Fadhil tentu lebih tahu kenapa semua itu terjadi dan harus secepatnya mencari solusi. Sebaliknya, sebagai “pemilik kapal” (Dewan Kawasan Sabang), Gubernur Aceh, Walikota Sabang dan Bupati Aceh  Besar, juga harus cepat mengambil alih dan menilik penyebab dari semua itu.

Disinilah, dibutuhkan pemikiran yang jernih dan objektif, sehingga tak salah obat serta terapy. Maklum, sejak kehadirannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000. BPKS memang tak pernah lepas dari masalah. Tahun dan kepemimpinan boleh saja berganti, namun persoalan yang melilit tak pernah lepas secara sempurna.

Bisa jadi, karena persoalan itulah, Sayid Fadhil berusaha untuk memperbaikinya. Apalagi “anak buah kapal” kadung lihai memainkan peran, karena sebagian “kepentigannya” terusik, jika tak elok disebut; sudah terbiasa minum air susu ibu (ASI). Nah, begitu ditarik atau lepas, pasti akan menanggis dan berontak?

Begitupun, secara jujur harus diakui, semua itu tak lepas dari proses rekrutmen karyawan, staf dan deputi. Faktanya, memang sarat unsur politis dan berasal dari kerabat dekat.

Tapi, cara Sayid Fadhil memotong tali serta menambal bocor dengan serampangan, juga tak elok. Termasuk memberi perintah kepada juru kemudi, saat badai dan gelombang tinggi. Hasilnya, bukan tuntas, justeru menyelesaikan masalah dengan melahirkan masalah baru. Sekali lagi, semua itu sangat kontra produktif dengan latar belakang profesi yang pernah dia geluti yaitu, wartawan dan staf ahli!

Itu sebabnya, berhembus kabar kemudian untuk mengantikan sang nahkoda. Ibarat (maaf) kentut. Terasa ada, terkata tidak tapi bau busuknya menyenggat hidung. Sinyal ini muncul dari sikap anggota Dewan Pengawas BPKS, Plt. Gubernur Aceh Nova Iriansyah serta Walikota Sabang Nazaruddin dan Bupati Aceh Besar Mawardi Ali. Secara internal,  dua Deputi BPKS Agus Salim dan Abdul Manan juga sudah menunjukkan tidak lagi sejalan. Jadi, cukup syarat sudah untuk mengantikan Sayid Fadhil.

Memaknai kondisi tersebut, tentu hanya ada dua pilihan bagi Sayid Fadhil. Mundur secara kesatria dan namanya tetap harum atau diberhentikan dengan meninggalkan sejumlah citra tak elok?

Lahir di Banda Aceh, 12 Oktober 1964. Dr. Drs. Sayid Fadhil, SH  tercatat sebagai akademisi di Unsyiah dan Tenaga Ahli Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (2011-2014). Sempat mengadu nasib sebagai kandidat pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Indonesia Periode 2011-2015. Tapi kandas.

Dia alumni S1 Administrasi Negara, FISIP Universitas Iskandar Muda Aceh (1990). S1 Hukum Dagang, Fakultas Hukum, Universitas Syah Kuala Banda Aceh (1990). S2 Hukum Internasional, Fakultas Hukum, Universitas Padjajaran Bandung dan S3 Hukum Ekonomi, Fakultas Hukum, Universitas Indonesia.

Karirnya memang belum pernah berada di posisi puncak. Apalagi mengelola organisasi sebesar BPKS Sabang, dengan keahlian manajemen yang mumpuni.

Dari data yang diperoleh media ini, Sayid tak hanya dosen Fakultas Hukum di Universitas Syah Kuala Banda Aceh. Dia juga penyiar TVRI Banda Aceh (1993-1994). Penyiar TVRI Bandung (1994-1998) dan penyiar TVRI Stasiun Pusat Jakarta (2000-206).

Selebihnya, Sayid pernah sebagai Staf Ahli Pimpinan Fraksi Utusan Golongan MPR RI (2002-2004). Staf Ahli Fraksi Partai Demokrat di DPR RI. Direktur Sekber APEKSI-ADEKSI Aceh (2006-2008). Senior Consultant German Technical Assistance/GTZ (2008-2010).

Tak hanya itu, anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah /KPID Aceh (2009-2010). Staf Ahli Biro Hukum/Humas Pemda Aceh (2008-2010). Tenaga Ahli Dinas Infokom Aceh (2009-2010) serta Tenaga Ahli Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (2011-2014).

Begitupun, nasibnya lebih beruntung. Setelah sempat gagal masuk nominasi sebagai Kepala BPKS Sabang pada seleksi awal. Tiba-tiba, muncul kembali dan dilantik Gubernur Aceh Irwandi Yusuf sebagai orang nomor satu di BPKS.

Memang, hidup dan kehidupan ini sangat misteri. Adakalanya dipuji, sebaliknya caci maki. Itu sebabnya sekali lagi; Sayid bertahan, melawan “badai dan gelombang tinggi” atau dia menepi, turun dengan kepala tegak dari kapal “bocor” yang butuh perawatan yang sangat teliti? Biarlah waktu menjawabnya.***

Komentar

Loading...