Breaking News

Dibalik Pengerusakan Kantor Redaksi MODUS ACEH

Menakar Motif dan Kewarasan Pelaku

Menakar Motif dan Kewarasan Pelaku
Pelaku disidik polisi (Foto: Geunta.com)

Banda Aceh | Usai peristiwa pengerusakan Kantor Redaksi Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, Majalah INSPIRATOR dan MODUSACEH.CO, di Jalan T. Iskandar, Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, sekira pukul 23.00 WIB, Selasa (11/9/18) malam. Kini, muncul berbagai spekulasi, terkait motif dari si pelaku.

Misal, ada dugaan si pelaku Ismayadi alias Adi, kurang waras alias terganggu jiwanya. Selain itu, dari pengakuan awal, pelaku mengaku tersinggung dengan pemberitaan media ini, karena menulis TM. Nurlif, Ketua DPD I Partai Golkar Aceh dan mantan Sekjen Pemuda Pancasila (PP) ini, sebagai mantan koruptor.

Pengakuan serupa juga pernah diucapkan pelaku, saat melakukan aksi serupa, 24 Juli 2017 lalu. Ketika itu, enam kaca depan kantor, juga hancur dan berantakan, setelah dipecahkan, mengunakan batu dan benda keras lainnya.

20180914-adi3

Kondisi Kantor Redaksi MODUS ACEH, hancur dan berantakan (Foto: Kompas.com)

“Dua hari setelah kejadian atau malam lebaran Idul Fitri 2017, saya menemui Ismayadi alias Adi. Dia mengaku tersinggung, setelah mendengar penjelasan dari Pengurus Golkar Aceh soal status Nurlif sebagai mantan koruptor, usai buka puasa bersama di kantor partai politik tersebut,” ungkap Muhammad Saleh, pimpinan redaksi media ini, Jumat, 14 September 2018 di Banda Aceh.

Menurut Shaleh, begitu dia akrab disapa, walau pun kesal dan marah. Namun, peristiwa tersebut dimaafkan dan Adi tak dilaporkan ke polisi. Selain sudah kenal, dia pun maklum. “Saya berpikir, dia hanya orang suruhan. Apalagi jelang Idul Fitri, Allah SWT maha pemaaf, kok saya sebagai manusia tidak,” ujar Shaleh.

Selanjutnya, dalam setiap pertemuan di warung-warung kopi di Banda Aceh. Adi tak berani lagi bicara dengan dia dan menatap wajahnya. “Saat itu saya hanya minta, cukup dan jangan lakukan lagi. Kalau perlu uang, secukupnya saya berikan dan selama ini memang saya berikan kepada Adi sambil sesekali bercanda,” kata Shaleh.

Begitupun, rasa iba dan dugaan Shaleh rupanya meleset. Selasa malam lalu, kejadian serupa muncul kembali. Kali ini lebih dahsyat. Selain memecahkan lima kaca depan, tiga unit komputer dan dua printer dihancurkan. Termasuk sejumlah dokumen penting lainnya. Ditaksir kerugian mencapai Rp 60 juta rupiah. "Ya, setelah kita hitung, jumlah mencapai Rp 60 juta," ujar Shaleh.

“Dari rekaman CCTV yang ada jelas terlihat, aksi ini bukan spontan atau kebetulan. Sudah terencana dengan baik,” ujarnya. Itu sebabnya, jika pihak Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh mengaku bahwa Adi adalah salah satu pasiennya. Maka, langkah selanjutnya adalah sebut Shaleh, pihaknya akan menggugat pihak RSJ Banda Aceh. "Selama ini memang banyak pasien RSJ Banda Aceh yang keluar. Salah satunya Adi. Ini menyangkut tak adanya pengawasan. Maka, saya berencana menuntut pihak RSJ Banda Aceh, karena membiarkan pasien mereka keluar-masuk sehingga merugikan pihak kami," ungkap Shaleh.

Nah, muncul pertanyaan. Benarkah pelaku mengalami gangguan jiwa akut? Untuk menjawab secara pasti memang ranahnya dokter jiwa dan penyidik dari Polrestas Banda Aceh. Sebab, hingga kini pelaku (Adi) masih ditahan. Selain itu, Adi memang sempat menjadi pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Banda Aceh. Namun, itu sudah berlangsung lama. “Karena status itulah, dia berbuat semaunya sehingga dimanfaatkan pihak tertentu,” duga Shaleh.

Dugaan Shaleh memang ada benarnya, jika ditarik beberapa benang merah. Misal, pelaku melakukan itu keduakalinya dengan sasaran yang sama. Kenapa tidak kepada yang lain? Termasuk merusak mobil yang parkir, saat itu berada di lokasi kejadian?

Kedua, kenapa dalam aksi keduanya, dia merusak alat kantor seperti komputer, selain menghancurkan kaca depan? Dan, pelaku menjalankan aksinya pada malam hari atau saat Shaleh tidak berada di kantor? Andai memang dia sakit jiwa, tentu tak mengenal waktu atau bisa dilakukan pada siang hari?

Ketiga, sebelum menjalankan aksinya, pelaku minta diantar pada seseorang, bukan inisiatif datang sendiri. Lazim terjadi, seseorang yang mengalami sakit jiwa tak mampu berinteraksi seperti manusia normal. Lalu, kenapa pelaku mengaku tersinggung karena media ini menulis TM Nurlif sebagai mantan koruptor? Apakah orang yang mengalami gangguan jiwa paham politik?

20180914-adi

Pelaku Ismayadi alias Adi tampak tersenyum dan mengenakan pakaian Pemuda Pancasila. Lengkap dengan sangkur dan baret. Bisakah orang mengalami gangguan jiwa tampil seperti ini? (Foto: Ist)

Menariknya, baik pada aksi pertama dan kedua, pelaku mengunakan seragam Pemuda Pancasila (PP), lengkap dengan pisau sangkur dan baret. Ini identik dengan posisi TM Nurlif sebagai Pengurus MPN PP. Selain itu,  pelaku juga sering berada di Kantor MPW PP Aceh di Banda Aceh serta Kantor DPD I Partai Golkar Aceh. "Membawa senjata tajam, berarti dia benar-benar sudah siap melakukan aksinya. Jika dia kurang waras, tentu kejadian ini muncul secara spontan," ujar Shaleh.

Hal yang janggal lainnya adalah, pelaku lihai mengunakan telpon seluler dan mampu mengendarai sepada motor secara normal. Ini sangat ironis dengan seseorang yang mengalami gangguan jiwa.

Sehari-hari, pelaku juga menawarkan jasa semir sepatu kepada warga, apakah orang mengalami gangguan jiwa bisa melakukan itu? Itu sebabnya dan patut diduga, ada dalang atau menyuruh pelaku untuk melakukan tindakan tersebut. Dan, kondisi ini juga berlaku kepada manusia normal biasa.

“Jadi, ini memang terkesan sangat janggal. Begitupun, semua sudah kami serahkan ke polisi untuk mengusutnya. Saya berharap, dapat diungkap siapa dalang dibalik aksi yang kedua ini. Bisa jadi, jika dia bebas akan melakukan yang ketiga dan mengancam jiwa saya dan keluarga,” harap Shaleh.***

"Pileg dan Pilpres 2019" - yuk ikutan polling-nya! -

Komentar

Loading...