Di Balik Aksi Perusakan Kantor Redaksi MODUS ACEH

Menakar Dugaan Gangguan Jiwa Ismayadi

Menakar Dugaan Gangguan Jiwa Ismayadi
Adi saat diperiksa di Polresta Banda Aceh (Foto: dok. MODUSACEH.CO)
Rubrik

Banda Aceh | Setelah sempat beberapa kali tertunda karena alasan kesehatan, Senin pekan lalu, (31/12/2018), persidangan Ismayadi alias Adi (39), pelaku perusakan Kantor Redaksi MODUS ACEH di Jalan T. Iskandar No: 15, Beurawe, Kota Banda Aceh, kembali digelar Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Kota Banda Aceh, Afrimayanti dan kawan-kawan menghadirkan Ismayadi (39) alias Adi, terdakwa dalam kasus tersebut. Namun, baru saja majelis hakim membuka sidang, kuasa hukum Ismayadi, Ramli, SH mengatakan kliennya harus dites kejiwaan.

20190104-keterangan-adi

Menurutnya, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), penyidik Polresta Banda Aceh, tidak menyerahkan hasil lampiran observasi kejiwaan dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh pada JPU Kejari Kota Banda Aceh.

“Kami meminta kepada majelis hakim untuk mengizinkan terdakwa dites kejiwaan. Masalah biaya, akan ditanggung keluarga. Beberapa hari lalu, pihak keluarga menemui kami dan meminta terdakwa dites kejiwaan. Bahkan, mereka mengaku jika terdakwa pernah direhabilitasi di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh di Banda Aceh,” minta Ramli pada majelis hakim,  Rahmawati (hakim ketua) bersama Elfiayanti dan Muzakir (hakim anggota).

Mendengar permintaan tersebut, Rahmawati memberikan waktu satu minggu, untuk melakukan tes. Namun, dia memerintahkan Ramli untuk membuat surat permohonan secara tertulis, dan meminta terdakwa tetap ditahan dan di bawah penjagaan Kejari Banda Aceh, saat tes itu dilakukan.

“Tolong dibuat surat permohonan dan segera dibuat untuk diserahkan pada kami. Nanti, kami akan meminta JPU Kejari Banda Aceh mengawal tes ini dilakukan. Tentu, akan meminta personel kepolisian,” harapnya. Itu sebabnya, sidang tersebut ditunda atau dilanjutkan pada Senin pekan depan, dan menunggu hasil observasi tes kejiwaan terdakwa.

Usai sidang, Ramli membeberkan. Sebelum kasus ini, dirinya tak pernah mengenal Ismayadi alias Adi. Namun, secara mendadak PN Banda Aceh meminta dirinya mendampingi Adi, untuk memberikan bantuan hukum secara gratis yang disediakan negara.

Tentu, apa yang diminta dan dikatakan Ramli sah-sah saja. Memang, sebagai pengacara menjadi tanggungjawabnya membela klien. Apalagi, tugas tersebut tidak cuma-cuma, namun dibayar oleh negara untuk membela Ismayadi. 

Namun, timbul pertanyaan. Apakah mungkin, Ismayadi yang dikatakan terganggu kejiwaannya tahu dan mampu untuk merusak Kantor Redaksi MODUS ACEH, pada Selasa (11/9/18) sekira pukul 23.00 WIB malam? Terlebih, ini bukan kali pertama, pada Juli 2017, Ismayadi juga melakukan perusakan kantor serupa.

Selain itu, jika pun Adi melakukan itu dengan kondisi jiwa terganggu, tentu dan patut diduga ada pihak lain yang menyuruh Adi untuk melakukan perbuatan kriminal tadi (lihat rekaman video).

 Pada sidang perdana dengan mendengarkan keterangan saksi. Seorang saksi mengaku, dia diajak Adi menuju Kantor MODUS ACEH di Jalan T. Iskandar No: 15 Beurawe, Kota Banda Aceh.

Begitu tiba, Adi langsung menuju sasaran dan memecahkan semua kaca, komputer serta sejumlah perangkat lainnya. Peristiwa tersebut, terekam jelas melalui CCTV. Jadi, aksi tersebut patut diduga bukan terjadi spontanitas, tapi sudah direncanakan. Termasuk pelaku membawa sebilah pisau sangkur.

Karena itu, banyak pihak menilai, Ismayadi tidak seperti orang yang terganggu kejiwaannya. Yang ada seperti tidak memiliki rasa malu dan malas. Itu terlihat, dari cara dia meminta-minta uang pada setiap orang yang dia temui. Untuk memuluskan pekerjaannya itu, Adi berlakon sebagai penyemir sepatu.

Kondisi inilah yang sengaja dimanfaatkan segelintir orang yang punya dendam pribadi dengan H. Muhammad Saleh (Pimred MODUS ACEH), untuk menggunakan Ismayadi sebagai suruhannya.

Benarkah? Saat ditanya media ini sebelum sidang digelar, Senin pagi (31/12/2018 di PN Banda Aceh. Ismayadi mengaku ada orang yang menyuruh dia untuk memukul H. Muhammad Saleh. Orang tersebut berinisial AP. ”Saya disuruh AP untuk gebuk Saleh (Muhammad Saleh--red). Tapi, saya berpikir, kalau saya tonjok dia, akan dibalas. Makanya, saya rusak kantornya, biar dia rugi,” ungkap Ismayadi dalam bahasa Aceh.

Terkait dugaan Adi mengalami gangguan kejiwaan, Kapolresta Banda Aceh melalui Kasatreskrim Polrestas Banda Aceh, AKP M. Taufik menjelaskan. “Saat proses berlangsung, tidak ada satu pun dari anggota keluarga atau kolega Adi yang datang dan menyatakan serta menyerahkan dokumen yang menyatakan dia mengalami gangguan jiwa. Selain itu, dari proses BAP yang ada, Adi tidak menunjukkan tanda-tanda mengalami gangguan jiwa. Itu sebabnya proses berlanjut. Kami tidak mau berandai-andai dan tetap berpijak pada aturan hukum yang berlaku,” tegas M. Taufik, Kamis kemarin di Banda Aceh.*** 

"Pileg dan Pilpres 2019" - pilihan Anda sangat menentukan -

Komentar

Loading...