Peringatan 14 Tahun Tsunami Aceh (bagian dua)

Menagih Janji Aminullah Aktifkan Escape Building

Menagih Janji Aminullah Aktifkan Escape Building
Foto: meganusantara.info
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Beranjak dari sana, Gedung Escape Building juga berdiri di Gampong Alue Deah Tengoh. Namun, keadaan gedung ini tampak sedikit bersih karena berada satu halaman dengan satu rumah penduduk.

Bisa jadi, warga di sana sering membersihkan halaman gedung itu sekalian membersihkan halaman rumah mereka. Itu sebabnya, banyak terlihat bunga dari berbagai jenis ditanami di sekeliling gedung tersebut.

Tiga gedung escape building ini memang dikelola Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh pasca dibangun Pemerintah Jepang 2006 silam. Tujuannya, akan difungsikan sebagai pusat komunitas (community center), di samping gedung tersebut tetap difungsikan sebagai tempat evakuasi saat bencana.

Ketiga gedung ini sudah berumur 12 tahun dan selama itu pula fungsi utamanya sebagai tempat evakuasi saat terjadi bencana. Tapi, gedung itu belum pernah terpakai, karena sejauh ini Allah SWT masih menjauhkan rakyat Kota Banda Aceh dari bencana.

Baca Juga : Peringatan 14 Tahun Tsunami Aceh : Merawat Bangunan Saja Begitu Sulit

Mengingat selama 12 tahun ketiga escape building itu tidak dimanfaatkan, sehingga kesannya menjadi kusam, kurang terawat, dan tidak ada aturan tentang kewenangan pengelolaannya.

Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh mengaku akan memanfaatkan escape building itu, sebagai pusat komunikasi masyarakat yang akan dimanfaatkan untuk hal-hal yang berguna, sekaligus mendongkrat perekonomian masyarakat Kota Banda Aceh.

Sejumlah gedung evakuasi bencana atau yang sering disebut Escape Building akan ditingkatkan fungsinya sebagai lokasi untuk memasarkan sejumlah produk lokal, seperti kerajiinan dari UMKM dan industri rumah tangga

Launching gedung escape building untuk model pertama ini bekerja sama dengan beberapa stakeholders. Mulai perbankan, dunia usaha, serta beberapa SKPD dan LSM serta NGO dan BUMN serta BUMD.

Selain itu, gedung ini juga akan dimanfaatkan untuk sejumlah kegiatan lainnya, seperti kegiatan keagamaan, sarana berolahraga dan edukasi kebencanaan.

Sayang, walau program Tsunami Escape Building Community Center Model telah di launching Walikota Banda Aceh, Aminullah Usman, Kamis, (28/6/2018). Namun, hingga kini ketiga gedung tersebut belum dimanfaatkan.

“Keberadaan gedung ini akan kita tingkatkan fungsinya. Bukan hanya dimanfaatkan sebagai lokasi penyelamatan saat bencana saja. Disini juga bisa kita pamer dan pasarkan produk lokal hasil kerajinan kita. Kita juga akan manfaatkan gedung ini untuk pusat edukasi kebencanaan, kegiatan keagamaan, sarana olahraga dan lainnya,” ujar Aminullah saat menyampaikan sambutannya ketika itu.

Harapan Walikota, dengan adanya program ini produk UMKM dan industri rumah tangga penjualannya dapat meningkat sehingga memberikan penghasilan tambahan untuk keluarga. “Warga kota harus mampu mengambil kesempatan dan keuntungan dari program ini,” ujar Aminullah.

Foto: bandaacehkota.go.id

 

“Pemko Banda Aceh juga akan terus berupaya mempromosikan produk-produk unggulan kita seiring dengan menggenjot sektor pariwisata. Dengan begitu, daya beli akan meningkat dan pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Sekedar mengulang, Escape Building adalah gedung evakuasi tsunami yang dibuat pada tahun 2005. Gedung ini bisa menampung 500 orang warga. Di Banda Aceh ada empat gedung tsunami Escape Building, ke empat gedung ini di bangun di kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh.

Gedung Tsunami Escape Building dibangun oleh bantuan pemerintahan Jepang mealui JICS, dengan konsep di buat oleh JICA Study Team dalam Projeck Urgent Rehabilitation and Recontruction Plan (URPP) untuk kota Banda Aceh pada Maret 2005 sampai Maret 2006.

Tiap-tiap Escape Building dibangun dengan luas 1.400 meter persegi. Desain bangunan ini dibuat oleh konsultan Jepang Nipon Koei. Yang tiap bangunan dibangun seluas 1.400 meter persegi.

Gedung ini dibangun dengan luas 1.400 meter persegi. Bangunan tersebut mempunyai 54 pilar dengan diameter 70 cm. bangunan ini berdiri tegak dengan tinggi 18 meter dan memiliki 4 lantai.

Lantai akhir dibiarkan terbuka dan tersedia helipad untuk pendaratan helicopter. Lantai dua memiliki tinggi sekitar 10 meter, mengikuti tinggi gelombang tsunami desember 2004 lalu di lokasi gedung tersebut. Sementara lantai satu dibiarkan kosong tanpa partisi untuk menghindari terjangan tsunami.

Gedung yang dapat menampung evakuasi sebanyak 500 orang tersebut, didesain dapat menahan gempa dengan kekuatan 9-10 skala richter. Karena memiliki ketinggian lebih dari bangunan sekitarnya, dari atas Escape Building kita juga dapat melihat pemandangan alam yang luar biasa terutama sunset dan sunrise. Gedung ini juga digunakan setiap tahunnya untuk kegiatan “Tsunami Drill”.***

Komentar

Loading...