Breaking News

Terkait Berita Potret Dua Tahun Pemerintahan Mawardi Ali-Waled Husaini

Mawardi Ali Sebut Berita MODUSACEH.CO Tidak Beretika

Mawardi Ali Sebut Berita MODUSACEH.CO Tidak Beretika
Bupati Aceh Besar Mawardi Ali (Foto: google)
Rubrik

Banda Aceh | Jika tak elok disebut marah, bisa jadi Bupati Kabupaten Aceh Besar Mawardi Ali gerah, ini terkait dua pemberitaan MODUSACEH.CO, tentang potret dua tahun pemerintahannya. Itu ditunjukkan politisi Partai Amanat Nasional (PAN) Aceh ini, saat membalas konfirmasi media ini, Minggu (14/7/2019) siang.

“Menurut saya tulisan itu tidak beretika, karena sumber tidak jelas dan saya seharusnya dihubungi sebelum berita itu di buat,” kata Mawardi melalui pesan WhatsApp. Tentu hak Mawardi untuk menyatakan pendapatnya. Namun, dia lupa, sebelum berita itu diwartakan, media ini telah melakukan konfirmasi pada, Sabtu (13/7/2019), sekira pukul 17.42 WIB.

Nah, dari rekam jejak digital, pesan konfirmasi yang disampaikan media ini terbaca. Ini ditandai munculnya dua garis berwarna biru. Selanjutnya, pukul 18.02 WIB, berita tersebut baru ditanyangkan, setelah tidak mendapat respon dari Mawardi Ali.

Sebelumnya, media ini telah mewartakan dua berita mengenai dua tahun kepimpinan Mawardi Ali-Tgk Husaini Wahab (Waled Husaini). Pertama dengan judul; “Cermin Retak” di Nanggroe Warisan Raja. Potret Dua Tahun Pemerintahan Mawardi Ali-Waled Husaini, tanggal 11 Juli 2019, pukul  20:52 WIB.

Kedua, Potret Dua Tahun Pemerintahan Mawardi Ali-Waled Husaini. Beredar Kabar Dugaan  Zul Bintang "Kuasai" Proyek di Aceh Besar, tanggal 13 Juli 2019, pukul 18:02 WIB. Sumber dari berita tersebut adalah, orang dekat Mawardi Ali. Termasuk sejumlah mantan tim sukses saat dia maju sebagai Bupati Aceh Besar pada Pilkada 2017 lalu. Namun, mereka minta identitas mereka tidak ditulis dan sebutkan.

Itu sebabnya, mengenai Mawardi menyebut sumber berita ini tidak jelas. Secara kode etik jurnalistik, media ini wajib menyembunyikan identitas narasumber, sesuai permintaan. Ini sesuai Pasal 7 Kode Etik Jurnalistik yang menyebutkan: wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan off the record sesuai dengan kesepakatan.

Penafsirannya adalah, a. Hak tolak adalak hak untuk tidak mengungkapkan identitas dan keberadaan narasumber demi keamanan narasumber dan keluarganya. b. Embargo adalah penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber. c. Informasi latar belakang adalah segala informasi atau data dari narasumber yang disiarkan atau diberitakan tanpa menyebutkan narasumbernya. d. Off the record adalah segala informasi atau data dari narasumber yang tidak boleh disiarkan atau diberitakan.

Tak berhentik sampai di sini. Selanjutnya Mawardi Ali mengirim balasan melalu WA. “Lon mohon bek katuleh yang kon kon ke lon dan ke Aceh Rayeuk karena lon hantom na masalah ngon awak dron  (jangan kami tulis yang bukan-bukan untuk saya dan Aceh Besar, karena saya tidak ada masalah dengan kalian),” balas Mawardi.

Tuduhan Mawardi Ali kemudian dilanjutkan redaksi media ini dengan mengirim sejumlah link berita lain, tentang aktivitasnya sebagai Bupati Aceh Besar. Ini untuk membuktikan tuduhan menulis berita yang bukan-bukan terhadap dirinya dan Aceh Besar, tidaklah benar. Selanjutnya, Mawardi Ali tak merespon.

Sumber media ini yang dikonfirmasi ulang, Minggu (14/7/2019) mengatakan. “Kenapa dia (Mawardi Ali) harus gerah dan marah. Kalau memang dia ndak makan cabe, kenapa harus pedas. Jadi pemimpin harus siap dikritik, bukan hanya menerima berita dan informasi yang manis-manis saja. Tugas media pers untuk check and balance. Memangnya dia pemimpin malaikat yang tidak punya kelemahan,” sebut sumber media ini. Alamak!***

Komentar

Loading...