Breaking News

Masalah Tak Kelar, Proses Perkuliahan Kampus STAIN Diundur

Masalah Tak Kelar, Proses Perkuliahan Kampus STAIN Diundur

Meulaboh | Akibat permasalahan tanah tempat berdirinya gedung baru Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIN) Tengku Dirundeng Meulaboh (TDM) yang tak kunjung ada titik temu. Perguruan Tinggi Islam itu terpaksa mengundur jadwal kuliah mahasiswa.

Sengketa kepemilikan lahan di jalan Lingkar UTU, Desa Ujong Tanoh Darat, Kecamatan Mereubo, Kabupaten Aceh Barat itu, memang sudah dimediasikan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) setempat.

Itu dilakukan antara masyarakat yang mengklaim kepemilikan lahan tersebut dengan pihak kampus. Namun hasil mediasi tersebut akan disampaikan tanggal 15 September 2019.

Wakil Ketua III, Dr. Erizar saat dikonfirmasi MODUSACEH.CO, mengatakan. Pemberitahuan perpanjangan masa pengisian Kartu Rencana Study (KRS) dan jadwal perkuliahan disampaikan kepada mahasiswa melalui surat Nomor 4128/Sti.17/PP.00.9/09/2019 hingga tanggal 15 September 2019. Sebelumnya ditetapkan 9 September 2019.

“Kita tunggu hasil mediasi yang dilakukan anggota dewan mengenai permohonan kepada penggugat, agar mereka bersedia membuka akses jalan masuk ke kampus baru kita di Alpen. Insya Allah tanggal 15 September ini akan diberi jawabannya,” kata Dr Erizar, Kamis (12/9/2019).

Pihak kampus berharap, semua unsur dapat bekerjasama dengan baik, menyelesaikan permasalahan tersebut. Sehingga proses sidang yang masih berlangsung atas sengketa lahan Kampus STAIN tidak berdampak pada aktivitas belajar mengajar mahasiswa.

Pada Senin 26 Agustus 2019 lalu, STAIN mencoba memulai aktivitas di sana. Tetap saja mendapat penghadangan dari sekolompok orang yang mengaku sebagai pemilik lahan.

Sebelum ke sana, STAIN juga meminta pengamanan pada aparat Kepolisian setempat melalui surat Nomor 3822/Sti.17/HK 01/09/2019. Tujuannya, untuk memuluskan para akademisi dan mahasiswa beraktivitas di gedung baru.

Sayangnya pemilik lahan sudah siap siaga di sana dan memastikan tidak ada kegiatan apapun di lahan sengketa.

Sebenarnya, soal lahan Gedung STAIN TDM masih dalam tahap persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Meulaboh.  Gugatan ini diajukan Irwan Gunawan TU alias Irwan TU alias T. Ridwan TU, M. Yunus, Syahril Saputra, Rustam Efendi, Herlan Toni dan Suharti yang memiliki lahan di lokasi tersebut.

Sesuai perkara Nomor 2/Pdt.G/2019/PN Mbo, mereka menggugat Bupati Aceh Barat, Yayasan Pendidikan Teuku Umar Johan Pahlawan, Kementerian Agama Republik Indonesia, STAIN TDM, Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Aceh Barat.

Tak hanya itu, ada juga Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Cut Ida Khairani, S.H, M.Kn, PT. Harum Jaya dan PT. Belalang Jaya Prima sesuai klasifikasi perkara tentang perbuatan melawan hukum dengan 13 tuntutan dalam pokok perkara yang dilayangkan.

Karena kondisi mendesak tentang aktivitas perkuliahan, PN Meulaboh mengeluarkan putusan sela, Rabu, 31 Juli 2019, terhadap perkara dengan amar putusan, menolak tuntutan provisi para penggugat.

Selain itu, memerintahkan kedua belah pihak melanjutkan pemeriksaan perkara pokok, menangguhkan biaya perkara hingga putusan akhir.

Provisi dalam hukum perdata diartikan sebagai permintaan pihak yang bersangkutan agar sementara diadakan tindakan pendahuluan, guna kepentingan salah satu pihak sebelum putusan akhir dijatuhkan.

Artinya, karena putusan sela itu pihak STAIN TDM memberanikan diri untuk memulai aktivitas perdana di gedung yang sudah selesai dibangun. ”Kita tidak sedang menunggu hasil sidang, namun menunggu hasil mediasi. Mudah mudahan ada hasil terbaik untuk permasalahan ini,” ujar Dr. Erizar.***

Komentar

Loading...