Buntut Pembatalan Juara FL2SN Aceh Barat Sepihak

Masalah Belum Usai, Berlanjut ke Polisi

Masalah Belum Usai, Berlanjut ke Polisi
Evi Susanti (Kiri), Melda Sari (Kanan) memperlihatkan surat panggilan dari Kepolisian Resort Aceh Barat.

Sekolah akan melaporkan kembali Susan Handayani, pelatih tari SD Negeri 24 Meulaboh kepada polisi atas dugaan sejumlah ancaman kepada guru di Sekolah Dasar Negeri 2 Meulaboh.

Meulaboh | Protes wali murid terkait pembatalan juara 1 Tim Tari Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Meulaboh pada ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN), Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh Barat, kini berbuntut panjang. Karena kesal, sejumlah wali murid melaporkan masalah ini pada jajaran kepolisian setempat.

Dua guru sekolah itu dilaporkan, Rabu (14/8/2019) terkait dugaan pelanggaran Undang-Undang Nomor 11 tahun 2018, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Mereka adalah, Melda Sari dan Evi Susanti. Keduanya, menjalani pemeriksaan perdana atas laporan bernomor LP/71/VII/2019/Aceh/Res Aceh Barat/SPKT, tanggal 7 Agustus 2019.

Laporan tersebut dilayangkan pelatih tari Guru SD Negeri 24 Meulaboh, Susan Handayani. Bukan mengenai pernyataan seperti yang diberitakan sejumlah media. Namun laporannya itu lebih kepada status facebook Melda Sari, guru SDN 2 Meulaboh.

“Ada yang panic seperti nya hahaha hahaha, dari isu melahirkan sampai keorisinil pun jadi alasan, hello buk susan, y d bahas bkn masalah teknik tp psikologi siswa y dijadikan bola2 oleh orang dewasa sperti anda (susan) untuk masalah kami d sni guru bukan pelatih seperti anda y d byar untuk itu.”

Begitu cuitan di akun media sosial facebook Melda Sari yang diunggah, 6 Agustus 2019, sambil membagikan pada salah satu link berita media online lokal.

Nah, dalam surat panggilan terhadap kedua guru tersebut, mereka diduga telah melanggar pasal 45 ayat 3 Jouncto pasal 27 ayat 3 Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008, tentang Infomasi dan Transaksi Elektronik. Usai menghadiri pemeriksaan yang dilakukan penyidik kepolisian, Melda merasa bingung dengan laporan Susan.

“Saya dipanggil polisi atas dugaan pencemaran nama baik terhadap Susan, pelatih SD Negeri 24 Meulaboh. Sudah diperiksa untuk hari ini, selanjutnya ada satu dari sekolah, yaitu ibu Evi Susanti,” kata Melda.

Melda Sari membenarkan bahwa status yang diposting itu merupakan dirinya. Namun dirinya yang kenal dengan Susan (Pelapor) selama ini tidak memiliki sentiment atau perselisihan.

Bahkan sebelumnya, Pelapor juga pernah datang ke SDN 2 Meulaboh untuk meminta meredam kekesalan wali murid yang terus memprotes, karena tidak terima dengan perubahan keputusan dewan juri oleh dinas pendidikan setempat.

Saat mendatangi SDN 2 Meulaboh. Lanjut Melda, Susan menawarkan diri untuk menjadi mediator antara pihak Disdik dengan sekolah terkait dengan permasalahan itu. Namun pihak sekolah tak mengubris dan menilai itu adalah protes wali murid bukan protes dari pihak sekolah.

Melda menilai, dalam percakapan dengan Susan juga terdapat nada-nada ancaman sehingga pihak sekolah juga ikut khawatir dan siap untuk berhenti mengajar apabila salah satu dari mereka akan dimutasi ke daerah pelosok.

“Yang kena bukanlah wali murid, karena bukan di bawah pemerintah, yang di bawah pemerintahan adalah sekolah, ancamannya ya mutasi, namun dijawab Susan bukan mutasi saja kak. Berarti ada ancaman lain diatas mutasi, saya tidak tahu itu apa,” cetus Melda.

Upaya Serangan Balik dari SDN 2 Meulaboh

Secara pribadi, Melda mengaku tidak pernah melakukan caci maki, dan juga menyebarkan berita bohong maupun penghinaan terhadap Susan. Pada postingan facebooknya itu, Melda bermaksud menuliskan klarifikasi pada status atas komentar Susan yang berisikan persoalan protes wali murid, bukan persoalan tekhnis. Namun lebih pada psikologis siswa pasca pembatalan sebagai juara.

Karena telah dimulainya laporan Susan Handayani terhadap dua guru SDN 2 Meulaboh tersebut. Maka, Melda juga berencana melaporkan balik Susan atas dugaan pengancaman yang diterima pihak sekolah saat kedatangannya yang berdalih untuk menjadi mediator.

“Kita akan lapor kembali sesudah menyelesaikan masalah ini, yang kita laporkan terkait pengancaman mutasi dan lain-lain tersebut,” ujar Melda.

Susan Handayani merupakan pihak yang memprotes kepada Disdik terhadap keputusan dewan juri. Susan meyakini bahwa pemenang Juara 1 Lomba FL2SN dengan tema tari kreasi SDN 2 Meulaboh itu, tidak sesuai dengan petunjuk teknis (Juknis) lomba.

Anehnya, jika tidak sesuai dengan juknis (petunjuk teknis), mengapa tim utusan SDN 2 Meulaboh malah mendapat juara 2. Bukan malah digugurkan karena tidak sesuai dengan ketentuan. Kasus dugaan pencemaran nama baik yang menyeret Melda Sari dan Evi Susanti itu, mendapat bantuan hukum dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA).

Saat dikonfirmasi media ini melalui pesan singkat WhatsApp (WA), Susan sendiri enggan berkomentar terkait laporannya. “Langsung tanya ke Polres Aceh Barat saja ya Bang, saya belum bisa kasih keterangan,” katanya singkat.

Hamdani, Ketua YARA Meulaboh meminta pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPRK) Aceh Barat merespon cepat persoalan ini agar tidak menjadi konflik berkepanjangan. Sehingga dapat dimediasikan serta menemukan titik terang agar tidak berlarut.

“Apalagi yang dilaporkan adalah guru, terlepas dari apapun persoalan yang dilaporkan, namun kita melihat ini adalah dampak dari pembatalan pemenang lomba, jika dilanjutkan ke ranah hukum sangat tidak elok,” kata Hamdani saat dikonfirmasi MODUSACEH.CO, Rabu.

Sebelumnya, posisi pertama yang diperoleh Fahratu (11) siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Meulaboh bersama rekannya Cut Putri Widya Weta dan Cut Putri Maulida pada lomba dengan tema Tari Peucicap Aneuk, Selasa, 29 Juli 2019 lalu. Tapi, juara itu dibatalkan menjadi nomor atau juara dua secara sepihak oleh Dinas Pendidikan Aceh Barat.

Akibatnya, persiapan tim dari SD N 2 Meulaboh untuk berangkat ke Banda Aceh mewakili Aceh Barat pupus, meski persiapan sudah sangat matang dari pihak sekolah untuk bertanding dengan daerah lain, Sabtu 3 Agustus 2019. Tapi apa daya, anak-anak tersebut harus pasrah menerima kenyataan.

Salah satu orang tua murid (ayah) dari Fahratu tetap tidak terima dengan perlakuan tersebut. Terus memprotes dari Disdik hingga mengadu ke DPRK. Tujuannya, agar permasalah ini tak berlarut dan terulang lagi di kemudian hari.

Kejadian tersebut berdampak pada psikologi anak didik SDN 2 Meulaboh, yang merengek untuk terus ke Banda Aceh, sementara saat di rumah, Fahratu salah seorang siswa pemenang lomba yang dibatalkan sepihak ini, mulai mengeluarkan kata-kata kotor dan makian, untuk tim yang mengantikan posisi mereka bertanding di Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh.

Padahal lomba tersebut sudah berlalu, dan penganti SDN 2 Meulaboh yang dibatalkan sepihak berangkat ke Banda Aceh untuk berlomba mewakili Aceh Barat juga tidak memperoleh juara. Hingga kini, MODUSACEH.CO, masih belum memperoleh keterangan dan respon dari pihak dinas terkait atas persoalan tersebut.***

Komentar

Loading...