Di Balik Dugaan "Jual Beli" Jabatan Rektor di Kemenag RI (bagian satu)

Mantan Ketua STAIN Teungku Dirundeng Ungkap Ada Kejanggalan

Mantan Ketua STAIN Teungku Dirundeng Ungkap Ada Kejanggalan
Dr. Syamsuar (Foto: Dok. MODUSACEH.CO)

Meulaboh | Terbongkarnya kasus dugaan "jual beli jabatan" di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) oleh Prof Mahfud MD, pada acara Indonesia Lawyer Club (ILC) TV One, Selasa malam lalu, telah mengulir berbagai isu hangat di Meulaboh.

Salah satunya, soal kejanggalan kursi Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Harusnya, yang dilantik adalah Dr. Syamsuar Basyariah. Namun, jabatan tadi justru dipegang  Dr. Innayatillah.

Lantas, apa kata Dr. Syamsuar di balik berbagai dugaan yang menimpa dirinya itu? Kepada awak media pers yang menemuinya, Kamis (21/3/2019) di Meulaboh. Dr. Syamsuar atau akrab disapa Abi ini pun berbicara terbuka.  Katanya, apa yang disampaikan mantan Ketua Mahkamah Konsitusi (MK) Mahfud MD ada benarnya.

Abi merasa ada yang janggal dengan dilantiknya Innayatillah sebagai Ketua STAIN yang baru. Padahal kata dia, saat itu ia sudah mendapat harapan bakal kembali menjadi Ketua STAIN TDM dari Direktur Pendidikan Tinggi, Kemenag RI, Prof Arska Salim.

“Saat saya mencalonkan diri kembali sebagai Ketua STAIN TDM. Saya sempat dipanggil Direktur Pendidikan Tinggi, Kemenag Prof Arska Salim. Kepada saya, dia mengatakan dan memberi izin untuk maju kembali,” ungkap Abi.

Masih kata Abi. "Enam bulan lalu saya sempat mencalonkan diri. Namun saat itu saya hanya menjadi calon tunggal dan tidak ada calon lain. Saat itu berkas sudah  diantar senat. Jadi, karena cuma saya sendiri sebagai calon tunggal, maka saya dipanggil Direktur Pendidikan Tinggi Prof Arska Salim untuk mencari pemdamping.  Sebab, harus ada tiga calon minimal," kata Syamsuar, Kamis (21/3/2019) di Meulaboh.

Nah, karena permintaan tersebut, akhirnya tim panitia seleksi membuka kembali pencalonan Ketua STAIN yang sebelumnya sepi peminat. Bahkan untuk dua calon lain, yang merupakan hasil lobi yang dilakukan Abi dan Muchsinuddin, yang saat itu Ketua Panitia Seleksi (Pansel). Sehingga ada dua calon lain yang bersedia maju.

Calon yang diminta Abi adalah Dr. Azhar, sedangkan Innayatillah yang saat ini menjadi Ketua STAIN Teuku Dirunding diminta Muchsinuddin untuk mencalonkan diri atau mendampinggi Dr. Syamsuar. Ini artinya, Dr. Azhar dan Innayatillah hanya sebagai formalitas saja, memenuhi syarat dalam proses pemilihan ketua.

"Setelah mereka mendaftar, saya dan Dr. Azhar serta Innayatillah ikut melakukan pemaparan visi dan misi dihadapan pansel serta senat. Karena ketiganya dianggap layak, lalu berkas ketiganya diantarkan ke Kemenag RI untuk mengikut fit and proper test di Jakarta," ujar Abi Syamsuar.

Saat fit and proper test yang dilaksanakan Komisi Seleksi (Komsel), Kemenag RI di Jakarta. Biaya dua calon tadi yakni Dr.  Azhar dan Dr.  Innayatillah, ditanggung secara pribadi oleh Abi. Itu dilakukan, karena dirinya merasa tak ada yang janggal dari proses yang ada.

"Memang saat itu mereka sangat serius dan belajar habis-habisan sebelum mengikuti fit and proper test. Namun Abi berfikir positif, mungkin saja mereka belajar agar tidak terlalu janggal berhadapan dengan Komsel saat fit and proper test, yang dilakasanakan di salah satu hotel di Jakarta. Namun Abi lupa nama hotelnya," ungkap Abi.

Usai fit and proper test dilaksanakan kata Abi, Dr. Azhar dan dirinya kembali ke Aceh (Meulaboh). Sementara Innayatillah tidak kembali. Namun, sebelum pulang, Abi Syamsuar mengungkapkan bahwa ada pesan dari Tim Komsel. Kata mereka, jika mau dilantik dirinya akan dihubungi kembali.

Namun, setelah dua hari menunggu kabar, dirinya malah mendapat berita dari rekannya di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh bahwa yang dilantik justru Dr. Innyatillah. Kepastian itu juga didapat dari Wakil Rektor II, Syahbuddin Gadai, ketika dia menghubungi Direktur Pendidikan Tinggi, Arska Salim. Saat itu, Arska beralasan pelantikan tersebut berdasarkan hasil perangkingan dari Komsel personal.

"Abi merasa aneh juga. Karena saat fit and proper test yang ditanya visi misi calon. Aneh kalau visi misi sendiri Abi nggak tahu, apalagi Abi sudah dua periode setengah jadi ketua," sebutnya. Itu sebabnya, dia menduga, saat Innyatillah tidak pulang usai fit and proper test dan tiba di Jakarta, sehari sebelum fit and proper test dilaksanakan. Tentu ada deal-deal tertentu. Tapi, Abi Syamsuar menegaskan bahwa ia tidak menduga-duga, apalagi sampai menuduh adanya “jual beli jabatan” dalam posisi tertinggi di STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.

"Abi nggak mau curiga. Bisa jadi Ibu Innayatillah nggak pulang dulu saat itu, karena ingin liburan di Jakarta bersama suami yang kebetulan ikut saat itu," kata Abi Syamsuar.***

Komentar

Loading...