Breaking News

Mantan Dekan Fakultas Pertanian (FP) Unsyiah, Agus Sabti: Kebun Kelapa Sawit Merusak Lingkungan

Mantan Dekan Fakultas Pertanian (FP) Unsyiah, Agus Sabti: Kebun Kelapa Sawit Merusak Lingkungan
Mantan Dekan Fakultas Pertanian (FP) Unsyiah, Agus Sabti.
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Selain menjadi tanaman yang memberikan kontribusi tinggi terhadap devisa Negara Indonesia termasuk Aceh. Mencuat isu negatif terkait perkebunan kelapa sawit yang diduga dapat berakibat buruk terhadap lingkungan. Isu tersebut seperti kerusakan hutan, pelanggaran HAM, hingga tanaman yang tidak ramah lingkungan karena boros air.

Mantan Dekan Fakultas Pertanian (FP) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Agus Sabti MSi saat ditanyai wartawan MODUSACEH.CO membenarkan hal itu. Katanya, tanaman monokultural otomatis merusak lingkungan.

“Yang namanya tanaman monokultur pasti merusak lingkungan, apalagi jumlah yang ditanam tidak terbatas,” ungkapnya usai mengikuti seminar Pengembangan Industri Kelapa Sawit Menuju Kemandirian Energi, di suatu hotel, di Banda Aceh. Rabu,  17 Juli 2019.

Saat ini yang menjadi persolan di Indonesia termasuk Aceh, yaitu mengenai perkebunan kelapa sawit yang tidak dikontrol tata ruangnya.

“Akibatnya, kalau hujan akan menyebabkan banjir dan kalau kering akan kekeringan. Karena sifatnya sudah tidak terkendali,” jelas Agus.

Namun, apabila berbasis tata ruang yang baik. Misal, kelayakan atau luas lahan dibatasi. Kemudian, dikembangkan tanaman lain di perkebunan sawit tersebut. Maka akan sangat sedikit timbul masalah banjir dan kekeringan akibat tumbuhan kelapa sawit.

“Harusnya, di perkebunan yang sama ditanami tumbuhan lain, seperti tanaman karet dan sebagainya. Ini mungkin tidak akan terjadi kerusakan lingkungan dan berefek buruk,” tegas pakar pertanian itu.

Saat ini, Pemerintah Aceh dan para pengusaha Aceh hanya fokus pada hasil dari perkebunan kelapa sawit. Tanpa memperhatikan dampak buruk yang terjadi.

“Sekarang pemerintah nyaman pada income tidak pada outcome-nya. Namun, saat terjadi penurunan harga seperti sekarang baru tidak nyaman. Inilah yang membuat kelabakan. Seperti sekarang begitu berbicara mengenai harga sudah tak mampu lagi,” ujar Agus.

Dia menyarankan, kedepan seharusnya Pemerintah Aceh berkonsentrasi pada masalah tersebut, bukan lagi terhadap perkebunan kelapa sawit.

“Jangan ditanam lagi, lebih bagus jika kita mencontoh seperti Negara Thailand dan Taiwan mereka menanam tanaman multikultural beragam jenisnya. Misal, klaster atau kelompok buah nangka, klaster durian, mangga dan itu dapat dibuat semacam jus. Ada lahan yang masih mungkin bisa dikembangkan, fokus kita lebih ke sana,” sarannya.

“Sekarang arah pemerintah harus ke sana, intervensi sehingga petani tidak selalu menjadi pihak yang dirugikan. Sebenarnya kalau jujur, kelapa sawit ini tidak cocok dalam skala kecil, bagusnya skala besar. Hanya petani yang malas yang sebenarnya fokus ke sawit. Padahal tanaman lain juga menguntungkan,” jelasnya.***

Komentar

Loading...