Mahasiswi President University: Jadi Pembicara di BDSC 2017

Mahasiswi President University: Jadi Pembicara di BDSC 2017
Denisa yang mewakili delegasi Indonesia adalah mahasiswi President University Jurusan Hubungan Internasional angkatan 2015. (liputan6.com)
Penulis
Sumber
liputan6.com

Jakarta | Bali Democracy Forum(BDF) yang diprakarsai Indonesia telah diakui sebagai forum internasional yang dinilai turut memberikan kontribusi penting bagi kemajuan demokrasi, khususnya di kawasan Asia Pasifik. Memanfaatkan momentum 10 tahun BDF yang diadakan pada tanggal 7 – 8 Desember 2017 di Nusa Dua, Bali, Kementerian Luar Negeri jugamenyelenggarakan Bali Democracy Students Conference (BDSC). BDSC merupakan forum internasional yang diikuti oleh para mahasiswa Indonesia dan negara sahabat.

Dalam event yang bertujuan mendorong sharing of knowledge mengenai demokrasi kepada generasi muda, setelah melewati tahapan wawancara Kemenlu menunjuk 6 speaker yang berasal dari berbagai negara, yaitu Yousef Nael Abdulraheem Mahmoud  (Jordan), Denisa Amelia Kawuryan (Indonesia), Syed Zameer Raza Safvi (India), Afifah Puti Sholihat  (Udayana),Meaza Haddis Gebeyehu  (Euthopia) dan Rachel Jacob (USA).

Denisa yang mewakili delegasi Indonesia adalah mahasiswi President University Jurusan Hubungan Internasional angkatan 2015. Dara kelahiran Samarinda 21 tahun lalu ini mengatakan,”Saya mengetahui event BDSC melalui sosial media, setelah mendapatkan info dari Widya Dwi Rachmawati, kakak kelas yang sedang magang di Kemenlu. Juga informasi dari  Bapak Purwanto, S.T, M.M  selaku Head of Student Affairs, Alumni and Counseling Bureau Activity of President University. Student Affairs dibawah supervisi Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan & Alumni yang dijabat Dr. Agus H. Canny, M.A., M.Sc.”

Selanjutnya alumni SMAN 10 Samarinda ini mengirimkan essay, surat rekomendasi dan CV ke Kemenlu. Akhirnya putri dari pasangan Bambang Kawuryan & Ni Nyoman Sudarmini initerpilih menjadi salah satu dari 151 pemuda dari 61 negara untuk mengikuti BDSC.

“Setelah terpilih ternyata komite membuka kesempatan bagi siapa saja peserta yang tertarik menjadi speaker untuk mengirimkan ide dan melakukan tahap interview. Setelah berdiskusi dengan teman-teman, saya mengajukan diri untuk mengikuti seleksi dengan mengirimkan ide yang bertemakan pemuda, social media dan demokrasi,” ungkap Denisa yang datang ke konferensi bersama 3 mahasiswa asing President University, yaitu Yu Ziaxing (China), Zabihullah Saleem (Afghanistan) dan Zorigt Tugsjargal (Mongolia).

Mahasiswi yang bercita-cita menjadi aktivis dan peneliti ini merasa senang bisa ikut  event besar sekelas BDSC, sehingga bisa mendapatkan pengalaman yaitu lebih mengerti peran pemuda dalam pesta demokrasi, serta menambah relasi baik dari dalam dan luar negeri. Sedangkan Zorigt mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional asal Mongolia menyampaikan dua hal. Pertama, dalam skala besar, forum internasional tersebut benar-benar bagus yang sukses digelar Indonesia. Ia sangat mengapresiasi kepada pemerintah Indonesia khususnya Kementerian Luar Negeri yang bisa menghadirkan beberapa pemimpin negara dan berbagai organisasi internasional. Kedua, ini kesempatan bagus baginya untuk mewakili bukan hanya President University tetapi juga Republik Mongolia.

Hal sama juga disampaikan Saleem yang menyebutkan BDSC adalah peristiwa besar. Kami memiliki kesempatan bertemu dengan orang-orang dari berbagai negara untuk membahas tentang demokrasi dan cara-cara menerapkan demokrasi dengan lebih baik. “Saya sangat bangga karena saya tidak hanya mewakili negara saya, tetapi juga universitas saya. Dan bisaberbagi pengetahuan yang saya pelajari di sini dengan rekan-rekan saya yang lain,” ujar mahasiswa Afghanistan Jurusan Hubungan Internasional ini.

Segudang Penghargaan

Denisa memang layak terpilih sebagai pembicara dalam forum BDSC, jika dilihat dari berbagai kegiatan yang diikuti dan banyak penghargaan yang diraihnya. Sosok yang memiliki tipe terbuka dan bertanggungjawab ini pernah terpilih sebagai 30 TUTOR pada event Pemuda Mendunia Chapter Malaysia 2017 yang diselenggarakan oleh Studec International. Kemudian meraih posisi tiga dalam “Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa 2017” yang diselenggarakan oleh  Kementerian Ristekdikti bekerja sama dengan Universitas Mercubuana.

Secretary General President Model United Nations 2017 ini juga pernah mendapatkan Best Delegate dan Best Position Paper pada ASEAN Youth General Forum, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 2017. Kemudian meraih Best Position Paper di Jayabaya MUN 2017, Runner up Tazkia English Debate Competition 2016, Finalis di Nanyang Technological University (NTU) Model United Nations 2016, The Most Outstanding Delegate in SOCHUM, Airlangga School of Diplomacy 2016, dan The Most Outstanding Delegate in UNHCR, di Universitas Indonesia 2015.***

Komentar

Loading...