Breaking News

Mahasiswa Indonesia di China Raih Medali Emas dalam Kompetisi Penemuan Internasional

Mahasiswa Indonesia di China Raih Medali Emas dalam Kompetisi Penemuan Internasional
ilustrasi
Penulis
Sumber
okezone.com

BEIJING | Pelajar asal Indonesia di Nanjing Polutechnic Institute, China, berhasil menggondol medali emas dari Kompetisi Inovasi dan Penemuan Internasional (IIIC) 2017 di Taiwan atas alat pengontrol listrik yang dikembangkannya.

"Ini langkah awal saya untuk berperan di dunia pendidikan. Bagi saya, bukanlah naik podium untuk dapat penghargaan yang jadi tujuan, namun seberapa bermanfaatnya alat ini dapat diaplikasikan," kata Miftahun Nurrochman, peraih medali emas IIIC 2017 dalam suratnya kepada Antara di Beijing yang dikirimkan melalui aplikasi pesan, Kamis (28/12/2017).

Miftahun berharap penghargaan yang diraihnya atas teknologi baru yang dikembangkannya itu kelak bisa memberikan manfaat kepada masyarakat di Indonesia. Menurut mahasiswa semester V D3 Mekatronika itu, alat pengontrol listrik otomatis (PLC) sangat dibutuhkan dalam dunia industri. Namun PLC di pasaran harganya sangat mahal, sehingga mendorongnya untuk membuat alat serupa dengan harga yang jauh lebih terjangkau bagi masyarakat Indonesia.

 PLC hasil rancangan Miftahun itu diberi nama Petir yang diambil dari nama komunitas pencinta teknologi yang menaunginya, yakni Perkumpulan Teknologi, Informasi, dan Rekayasa.

Dia melengkapi Petir dengan buku panduan tentang tata cara pengoperasian, perbaikan, sekaligus cara perancangannya. "Semua desain saya buka atau dalam istilah teknik disebut 'open source hardware', seperti desain rangkaian listrik, desain keamanan, dan lain sebagainya sehingga siapa pun dapat membuat PLC Petir, terutama untuk kepentingan pendidikan. Perangkat lunaknya juga dapat menggunakan aplikasi Khazama yang semuanya gratis," katanya mengungkapkan.

Dia juga membuka pelayanan untuk konsultasi masalah PLC Petir tersebut secara cuma-cuma. Miftahun menuturkan bahwa rancangannya itu bermodalkan uang pribadi yang diperoleh dari menyisihkan uang makan sehari- hari.

"Beberapa kali gagal karena memang tanpa dosen pembimbing. Tapi saya terus mencoba. Alat yang mulai saya kembangkan pada 21 Mei 2017, akhirnye benar-benar rampung pada 18 Oktober 2017," ujarnya. Kemudian pada 20 September 2017 alat yang dinamai dengan Petir NH19 diikutkan dalam kompetisi yang digelar oleh Chinese Innovation and Invention Society (CIIS) yang 80 persen anggotanya adalah profesor, 10 persen wirausahawan, dan 10 persen penemu senior.

Ajang IIIC 2017 tersebut diikuti 338 penemuan dan inovasi dari 11 negara dengan metode penilaian dari abstraksi berbahasa Inggris dan poster yang berisi penjelasan dan instruksi penggunaan.

Untuk bisa berangkat dari Nanjing ke Taiwan, Miftahun mendapatkan dukungan dari Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. "Bagi saya lomba ini sangat penting karena penemuan anak bangsa Indonesia bisa bersaing di dunia internasional," kata Miftahun.***

Komentar

Loading...