Lahir Tanpa Anus, Fatma Riskia Butuh Uluran Tangan

Lahir Tanpa Anus, Fatma Riskia Butuh Uluran Tangan

Simeulue | Fatma Riskia (4 bulan), tak seberuntung balita lainnya. Bayangkan,balita jenis kelamin perempuan itu lahir tanpa memiliki anus. Akibatnya, dalam usia tiga hari ia terpaksa menjalani operasi pembuatan anus sementara melalui perut, di Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh, bulan Mei 2019 lalu.

Tindakan operasi yang dilakukan pada Fatma Riskia, buah hati dari pasangan Armadin-Darwani warga Desa Maudil, Kecamatan, Teupah Barat, Kabupaten Simeulue itu, untuk mencegah agar tidak terjadi hal yang tidak dinginkan nantinya.

Pasca operasi tiga bulan lalu itu. Fatma Riskia, terpaksa menggunakan alat penampung kotoran (Colostomy Bag) dengan harga Rp 100 ribu per satu kantong. Itupun di daerah Simeulue tidak ada apotik yang menjualnya, kecuali di Banda Aceh. Sebab, pihak RSUZA Banda Aceh hanya memberikan lima buah alat itu pada Fatma Riskia sesudah operasi.

Nah, untuk mengantisipasi keterbatasan alat tadi, sang ibu berinisiatif membuat alat penampung kotoran dari plastik bening yang diolah sedemikian rupa agar kotoran dapat dikeluarkan.

Namun untuk tingkat kebersihannya masih sangat diragukan, padahal harus memiliki tingkat kebersihan yang cukup tinggi agar tidak terjadi infeksi luka pada balita ini.

"Untuk sementara, saya buat alat penampung kotoran dari plastik gula seperempat, yang penting tidak bocor," ucap Darwani, pada media ini, Selasa, 20/08/2019.

Darwani mengatakan, seharusnya pasca operasi pertama di RSUZA Banda Aceh, dia memang disarankan membawa kembali anaknya untuk dirawat lebih lanjut saat usia bayi mereka sudah masuk tiga bulan. Namun hingga saat ini sudah usianya empat bulan pihaknya belum membawa putri mereka kembali, karena terkendala biaya.

"Dulu dokter dari Banda Aceh mengatakan, secepatnya anak kami ini dibawa kembali untuk dirawat lagi. Namun karena tidak ada biaya, kami belum bisa membawa putri kami ini, sebab suami saya kerjanya serabutan. Dia juga menderita penyakit yang tidak sanggup bekerja berat. Biaya operasi pertama itu pun bantuan dari orang lain," jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, ia dan suami sangat berharap ada masyarakat maupun pejabat pemerintah yang mau meringankan tangan, membantu biaya operasi anak tercinta mereka itu. Sebab mereka sangat berharap agar anak perempuannya dapat sehat seperti anak-anak lainnya.

"Kami sangat berharap adanya dermawan yang terketuk hatinya untuk membantu anak saya ini. Kami ingin anak saya ini dapat sembuh seperti anak-anak lainnya," harap Darwani. Nah, adakah kaum dermawan yang mau dan bersedia membantu derita Fatma Riskia, balitu berusia 4 bulan ini? Semoga.***

Komentar

Loading...