Posisi Sekda Aceh

Kursi “Semakin Panas” dan Bola Kian "Liar” (bagian satu)

Kursi “Semakin Panas” dan Bola Kian "Liar”  (bagian satu)
dok.MODUSACEH.CO
Rubrik

MODUSACEH.CO | Minggu, 10 Februari 2019 mendatang, genap satu bulan sejak tiga nama calon Sekdaprov Aceh yang ditetapkan melalui berita acara Nomor: BA/TIMSEL/002/I/2019, tanggal 10 Januari 2019, diputuskan dan ditandatangani Ketua Tim Penilai, Prof Dr Abdi A Wahab MSc. Selanjutnya disampaikan kepada Presiden RI Joko Widodo, untuk kemudian dikukuhkan satu nama sebagai Sekdaprov Aceh.

Itu sebabnya, berbagai rumor dan informasi terus berkembang, seputar nama penganti Teuku Dermawan (Sekdaprov Aceh) yang telah memasuki pensiun, 30 Januari 2019. Selanjutnya, kursi itu diduduki Helvizar Ibrahim sebagai pelaksana tugas atau Plt.

Kabarnya, dalam waktu tak terlalu lama, satu bulan mendatang atau sebelum Pilpres 2019, satu nama tersebut sudah dikukuhkan dan tetapkan.

Makanya, banyak pihak menduga, dari tiga nama tadi, dr. Taqwallah disebut-sebut berpeluang besar. Itu disebabkan, Asisten II Setda Aceh ini, memiliki relasi dan hubungan dekat dengan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Selain itu, dia juga didukung sejumlah petinggi Partai Aceh (PA), satu-satunya partai politik lokal, peraih kursi mayoritas di DPR Aceh.

Sumber media ini di Jakarta mengungkapkan. Taqwallah juga memiliki kompetensi dan pengalaman untuk jabatan tersebut. Sebab, sejak Gubernur Aceh Irwandi Yusuf hingga dr. Zaini Abdullah dan kembali kepada Irwandi Yusuf (Gubernur Aceh nonaktif) karena terjerat OTT KPK, 3 Juli 2018 lalu. Taqwallah selalu berada di posisi pejabat eselon II.

“Tentu dia banyak paham dan mengetahui soal “tubuh” Pemerintah Aceh, dari A sampai Z. Karena itu, kami butuh Taqwallah,” ungkap sumber yang tak mau ditulis namanya ini, Rabu sore (6/2/2019). Namun, tak dijelaskan apa maksud bahwa Taqwallah dibutuhkan.

Begitupun, tak berarti peluang Kamaruddin Andalah pupus begitu saja. Birokrat karir ini memang sempat digadang-gadang menjadi rival kuat Taqwallah. Alasannya, dia memiliki sejumlah relasi dengan politisi dan pejabat berdarah Pidie, baik di Aceh maupun Jakarta.

Tak hanya itu, ada rumor menyebutkan, Kamaruddin juga mengunakan jaringan oknum alumni Universitas Gajah Mada (UGM) di Aceh dan Jakarta, untuk memuluskan langkahnya menuju kursi Sekda Aceh. Sebab, dia lulusan strata dua (S2) di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

Maklum, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc, Menteri Sekretaris Negara adalah alumni UGM. Bahkan, sejumlah menteri dan Presiden RI Joko Widodo juga alumni UGM. Termasuk sejumlah politisi dan penasihat Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarno Putri, juga berasal dari UGM. "Jadi, yang namanya usaha, tentu sah-sah saja mengunakan berbagai link dan jalur yang ada," ucap sumber tadi.

Lantas, bagaimana dengan M. Jafar? Namanya memang sempat nyaris “tenggelam” dari nominasi tiga besar. Namun, tiba-tiba saja melejit kembali. Bahkan, beredar kabar, dua nama yang disebut-sebut saat ini adalah; Taqwallah dan M. Jafar. “Ya, nama M. Jafar menjadi pembicaraan,” ungkap sumber media ini, yang dekat dengan Luhut Binsar Panjaitan di Jakarta, Kamis sore (7/2/2019).

Sumber lain menyebutkan, naiknya posisi tawar M. Jafar, kabarnya tak lepas dari usulan elit Partai NasDem di Jakarta. Pintu masuknya melalui orang dekat Ketua DPP Partai NasDem Surya Paloh serta orang dekat Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indonesia.

Bahkan, beberapa mantan kepala SKPA yang memiliki relasi dengan pejabat eselon I di Kemendagri RI juga mengusung nama M. Jafar. “Kami sudah sampaikan kepada Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Soedarmo dan Dirjen Otda Dr. Soni Sumarsono. Soal goal atau tidak, kita lihat saja nanti,” ungkap sumber media ini di Banda Aceh. (selengkapnya baca edisi cetak, Senin, 11 Februari 2019).***

Komentar

Loading...