Breaking News

KOLOM Otto Syamsuddin Ishak

Demi Waktu, Demi Rakyat

Demi Waktu, Demi Rakyat
dok. MODUSACEH.CO
Penulis
Rubrik

Saya terkaget ketika membaca buku Chomsky pada bagian Demokrasi yang Cacat. Ia mengatakan bahwa peran publik di dalam demokrasi “adalah sebagai penonton.” Bahkan katanya, publik menurut Lippmann adalah “kawanan yang membingungkan.” Dalam teori demokrasi yang lama, dikenal istilah rakyat jelata. Dalam teori demokrasi modern disebut publik.

Jika demikian, saya ini adalah bagian dari “penonton”. Saya ini adalah bagian dari “kawanan yang membingungkan” itu?

Kalau dilihat dari satu seri waktu berdemokrasi, memang ada sebuah siklus bernegara. Pertama, individu mondar-mandir ikut kampanye, dan pulang menggenggam receh, serta pada hari H mencoblos (kandidat partai untuk menjadi eksekutif dan legislatif) pada setiap pilpres, pileg dan pilkada yang diselenggarakan setiap 5 tahunan.

Kedua, terus individu menonton hasil penghitungan suara, dan berlanjut per tahun menonton pertarungan eksekutif dan legislatif, serta persekongkolan mereka dalam membagi kekuasaan di parlemen. Ketiga, individu mulai mendengar atau membaca argumen-argumen apologis dari anggota parlemen dan pelaksana eksekutif sekait penyusunan (selentingan) dan pengesahan APBA (yang relatif mengemuka).

Mari siklus demikian kita letakkan di dalam konteks kompetisi pengesahan APBA 2017, antara pihak yang mau meng-qanun-kan dengan pihak yang hendak mem-pergub-kan APBA senilai Rp. 14,5 trilun. Hal yang pasti nilai tersebut terus meningkat sejak 2012 (bernilai Rp. 9,511 triliun), dengan tak perlu perduli habis atau sisa anggaran itu, apalagi terhadap naik-turunnya angka pengangguran dan kemiskinan “kawanan yang membingungkan” ini.

Saya tertarik untuk melihat perilaku politisi muda, yang beranjak dari latar belakang yang berbeda, dan berasal dari partai yang berbeda pula, namun sama-sama memiliki posisi yang, di atas kertas bisa bermain tiki-taka yang menentukan.

Bagaimanakah mereka berapologi terhadap “kawanan yang membingungkan” ini? Khususnya, mereka yang telah bersikap pro-kontra terhadap tindakan politik untuk meng-qanun-kan atau mem-pergub-kan APBA, yang mereka ekspresikan melalui media arus utama maupun medsos. Suara mereka, rupanya sudah bagaikan suara lebah yang mendengung-dengung, di sekitar telinga politisi di legislatif dan pejabat eksekutif sehingga sangat mengganggu tidur siang mereka? Ikuti pemikiran Otto Syamsuddin dalam tulisan Kolom, pada Tabloid MODUS ACEH, Edisi 38 dan beredar mulai, Senin, 16 Juni 2017.***

Komentar

Loading...