Parang Terhunus di Pagi Buta (Bagian Keenam)

Kisah Ilyas Abdullah, Nyaris Korban PKI

Kisah Ilyas Abdullah, Nyaris Korban PKI
Penulis
Rubrik
Ilyas  Abdullah (72) lebih banyak diam dan mengaku lupa saat ditanya tragedi yang pernah menimpa dirinya tahun 1965 silam.

Sesekali, matanya menerawang, mencoba mengingat kembali kisah pilu yang ia derita. Maklum, nyawanya nyaris hilang setelah ditebas dengan parang oleh seorang kader PKI. “Tapi, Allah masih menolong saya. Pimpinan PKI itu tertembak dan mati. Setelah itu, saya diberi waktu istirahat untuk perawatan hingga sembuh di Rumah Sakit Umum Takengon,” ungkap pensiunan Polri dengan pangkat terakhir Brigadir Kepala (Bripka) ini.

***
BEKAS hunusan parang itu hingga kini masih membekas di pelipis kiri mukanya. Maklum sajalah, saat itu, tak ada ahli bedah kulit apalagi operasi plastik. Selain itu, kondisi pun tak seaman saat ini. Bisa selamat dari maut saja, diakui Ilyas Abdullah, sebagai bentuk rasa syukurnya tak terhingga pada Tuhan Yang Maha Esa.

“Dulu, tak begitu terasa. Tapi, di usia tua, saya saat ini mulai terasa sakit di seluruh kepala. Mungkin, efeknya baru terasa saat ini,” ungkap Ilyas pada media ini beberapa waktu lalu.

Memang, dia nyaris kehilangan nyawa akibat keganasan PKI di Aceh, khususnya Aceh Tengah. Andai saja tak ada teman yang menolong, bukan mustahil dia ikut tewas seperti rekannya. “Tapi, Allah masih menolong saya. Pimpinan PKI itu tertembak dan mati,” ungkap pensiunan Polri dengan pangkat terakhir Brigadir Kepala (Bripka) ini. 

Pria kelahiran Lhokseumawe, 6 Juni 1944 itu adalah satu di antara puluhan, ratusan atau bahkan ribuan korban keganasan PKI tahun 1965 silam di Indonesia dan Aceh. 

Kisah itu berawal saat Ilyas usai mengikuti Pendidikan Prajurit Pertama (Tamtama) Polri tahun 1965 di Mata Ie, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Saat itu, usianya 19 tahun. Di Mata Ie, Ilyas digembleng selama enam bulan. Setelah dinyatakan lulus, Ilyas tempatkan di Polres Aceh Tengah, Takengon.

Tak lama kemudian, dia ditugaskan pada Pos Polisi di Ronga-Ronga, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah. Saat itu, PKI sedang genjar-genjarnya melakukan gerakan, sejalan dengan yang terjadi di Pulau Jawa dan daerah lain di Indonesia.

Nah, hari itu tanggal 9 Desember 1965, sekitar pukul 4. 00 WIB, subuh seorang warga mendatangi pos mereka. Diperoleh informasi ada sekelompok warga yang ditengarai pimpinan dan anggota PKI mengadakan rapat gelap di salah satu rumah.

Mendapat laporan tadi, Ilyas meneruskan pada komandannya, Inspektur I Hasan Basri dan Wakil Komandan Pos, Aiptu Abdul Latief. Sebelumnya, memang sudah terjadi berbagai pembakaran dan pengrusakan beberapa masjid. Bahkan, sejumlah imam masjid ditemukan terbunuh, bersimbah darah. Diduga, perbuatan itu dilakukan oleh kader, anggota dan simpatisan PKI di kawasan itu.

Mendengar dan mendapat laporan tersebut, Inspektur I Hasan Basri bersama timnya, termasuk Ilyas Abdullah dan seorang Hansip penjaga kebun PTP, langsung menuju lokasi. Bekal mereka senjata moser. Hasyim, seorang teman Ilyas diperintahkan bergerak dan menuju tempat kejadian perkara (TKP). Sampai di Desa Alu Paku, tim berpencar. Ilyas bersama rekannya dan Hansip tadi menjaga di sekitar persawahan. Sementara, komandan pos  melanjutkan perjalanan ke Desa Alu Roka bersama Wadan Pos.

Saat itu, hujan turun rintik-rintik, menebar hawa dingin hingga menusuk tulang.

Dari balik gunung dan rindangnya pepohonan, waktu pun berganti. Hasyim, rekan Ilyas meminta izin untuk mencuci muka dan mengambil wudhuk untuk shalat subuh di sungai kecil dekat persawahan.  “Ya, kita bergantian. Setelah kamu, nanti saya yang ambil wudhuk,” kata Ilyas pada Hasyim. Tiba-tiba dari arah belakang muncul seorang kader PKI bersenjata parang arit.

Diduga, dia sudah mengintai sejak awal. Sebab, gerak gerik mereka sudah tercium oleh Ilyas dari rekannya tadi. Seketika, dengan cepat anggota PKI tadi membacok kepala Hasyim. Tanpa perlawanan, Hasyim tersungkur dan roboh bersimbah darah, dia tak berdaya di bibir sungai.

Melihat kawannya tewas, Ilyas langsung memberi tembakan peringatan. Namun, bukannya takut, anggota PKI  itu langsung memberikan perlawanan pada Ilyas. Ayunan parang kader PKI tadi mengenai pelipis kiri dari wajah Ilyas. Darah segar muncrat. Ilyas sempat berteriak dan meminta tolong pada temannya yang lain. Tak lama kemudian, Ilyas terjatuh dan pingsan. Hanya dalam hitungan menit, rekannya di pos menuju lokasi dan mengejar sang eksekutor.

Hasilnya, kader PKI yang kemudian diketahui bernama Aman Cut tersebut, tewas diterjang timah panah rekan Ilyas. “Aman Cut  adalah salah seorang pemimpin PKI di Desa Ronga-Ronga. Dia juga seorang keuchiek atau kepala desa di sana,” kenang Ilyas.

Saat itu juga, Ilyas dan rekannya dievakuasi ke Rumah Sakit Umum di Takengon. Ilyas mendapat perawatan intensif hingga masa pemulihan. Sebab, luka bacokan yang dialaminya sangat parah. “Dalam masa pemulihan itulah, saya lepas dinas dan hanya diberi waktu untuk beristirahat. Gejolak PKI mulai membesar dan dihebohkan dengan pembantaian orang–orang yang diduga sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI),” sebut Ilyas.

Menurut Ilyas, waktu itu di sana ada beberapa tokoh PKI seperti Sareng dan Aman Cut. Mayoritas berasal dari Aceh. Tapi, Sareng sebut Ilyas berasal dari Jawa. Dia salah satu tokoh yang diketahui Ilyas. Dalam operasinya, sebut Ilyas, kader dan anggota PKI di sana sering melakukan rapat-rapat gelap di rumah masyarakat serta merencanakan aksinya secara sembunyi-sembunyi. Mereka juga tak segan-segan menghabisi tokoh masyarakat dan imam masjid, jika tak sejalan dengan ajaran komunis.

Karena kondisi alam Aceh Tengah, mereka menjadikan pergunungan sebagai basis gerakan. Ada juga yang berbaur dengan masyarakat, sehingga susah membedakannya. “Baru kita tahu kalau ada laporan masyarakat bahwa tokoh mereka diculik PKI dan tidak kembali,” ungkap Ilyas.

Seperti halnya di daerah lain, kader PKI di Aceh Tengah umumnya bertani dan berkebun. Salah satunya Aman Cut tadi. Selain petani dia juga sebagai keuchiek (kepala desa). “Berbagai informasi ketika itu kami dapatkan dari laporan masyarakat. Makanya, pembersihan dilakukan TNI, Polri dan juga masyarakat,” sebut Ilyas.
 

Begitupun, sebut Ilyas, banyak juga yang dihukum melalui proses pengadilan. “Masyarakat melapor, kami bergerak dan benar adanya, baru kami tangkap dan proses secara hukum. Tak sulit untuk mendapatkan data dan informasi ketika itu. Sebab, begitu kami proses mereka mengaku dan menyerahkan daftar nama kader mereka. Termasuk posisi markasnya,” ujar Ilyas. 

Selebihnya, Ilyas tak mampu bercerita banyak. Ini disebabkan kondisi tubuhnya yang kian menua. Dia mengaku sudah lupa dengan kejadian yang telah mencacatkan wajah dan hampir menewaskannya dirinya 50 tahun silam.

Tahun 1978, Ilyas dimutasikan dari Polres Aceh Tengah di Takengon ke Polres Aceh Utara di Lhokseumawe. Di kota kelahirannya inilah, dia menjalani pensiun. Tak ada bisnis atau usaha yang dia geluti seperti banyak pensiunan Polri lainnya. Dia hanya mengharapkan gaji pensiun bulanan yang selalu antri di Kantor Pos Lhokseumawe.***

Komentar

Loading...