Protes Pengangkatan Plt Ketua MAA

Ketua MAA Sabang: Pak Nova Salah Minum Obat!

Ketua MAA Sabang: Pak Nova Salah Minum Obat!

Banda Aceh l Gelombang protes terus disuarakan, terkait keputusan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah mengangkat mantan Khatibul Wali Nanggroe, Saidan Nafi sebagai Plt Ketua Majelis Adat Aceh.

Kini, Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Sabang, H. Ramli Yusuf, SH menuding Nova Iriansyah salah minum obat karena mangangkat pejabat yang bukan haknya. “Kenapa, saya katakan Pak Nova salah minum obat? Dia (Nova) mengakat pejabat diluar wewenangnya sebagai Plt Gubernur Aceh. Bagaimana mungkin, bisa mengangkat pejabat dalam sebuah organisasi yang telah memiliki aturan (Qanun MAA Nomor 3 Tahun 2004). Ini aneh, belum pernah terjadi di masa-masa Gubernur Aceh sebelumnya,” ungkap Ramli Yusuf pada MODUSACEH.CO, Sabtu (2/3/2019).

Menurut Ramli Yusuf, Nova Iriansyah bukanlah orang yang bisa di dikte karena telah lama dalam kancah perpolitikan Aceh dan Nasional. Namun, dalam kasus ini memperlihatkan bahwa. Sikap Nova terlalu kanak-kanak dan terkesan di dekte dalam pengangkatan Plt MAA, Plt Baitul Mal Aceh dan Plt MPA.

“Sangat terlanjang terlihat, ada unsur politis dalam pengangkatan Plt Ketua MAA. Ini bukan haknya mengangkat. Kita di MAA ada qanun tersendiri terkait pemilihan pengurus. Dan, dalam pemilihan kemarin (Mubes MAA 22-25 Oktober 2019) telah terpilih Badruzzaman Ismail sebagai ketua secara aklamasi dan tidak ada melanggar aturan,” tegasnya.

Ramli Yusuf menilai, seharusnya Nova Iriansyah sebagai Plt Gubernur Aceh tidak terlalu jauh mencampuri urusan orang lain. Apalagi, secara hukum tidak ada aturan yang memperbolehkan Plt Gubernur Aceh mengangkat Plt Ketua MAA. Sementara, persoalan lain terkait pengentasan kemiskinan, kesehatan justru tak mendapat perhatian dari Nova Iriansyah.

“Saya tidak ada urusan dengan hobi beliau naik motor gede (muge). Tapi, saat beliau keliling Aceh dengan motor gede itu seolah-olah Aceh baik-baik saja. Padahal, Aceh merupakan provinsi paling miskin di Pulau Sumatra. Inikan aneh, dengan dana Otsus yang melimpah, belum mampu meningkatkan pendapatan warga. Seharusnya itu menjadi uruasan dia, jangan main Plt-Plt,” ungkapnya.

Itu sebabnya, Ramli mengaku telah mengirim surat protes pada  Nova Iriansyah. Surat Nomor 024/03/2019 tanggal 25 Februari 2019 itu juga ditembuskan kepada Wali Nanggroe, Ketua DPRA, Ketua MAA Provinsi Aceh, Ketua MAA Kabupaten/Kota se-Aceh, dan perwakilan MAA dan meminta Nova Iriansyah membatalkan SK pengangkatan Plt Ketua MAA.

"Pelaksanaan Mubes pemilihan Ketua MAA dan menetapkan Badruzzaman Ismail sebagai ketua secara hukum. Mubes itu dihadiri semua peserta dari perwakilan kabupaten/kota, termasuk Wali Nanggroe. Begitupun, tidak bertentangan dengan Qanun Nomor 3 Tahun 2004 sebagai landasan MAA terkait fungsi dan tugasnya, termasuk melaksanakan Mubes," jelas Ramli Yusuf

Menurutnya,  jika yang dipersoalkan tidak adanya Tuha Nanggroe sebagaimana disebut dalam qanun, Ramli mengatakan, Tuha Nanggroe hingga kini tidak ada orang. Sehingga pihaknya tidak tahu harus mengajukan ke mana undangan Tuha Nanggroe untuk menjadi peserta dalam pemilihan ketua baru MAA.

“Kita minta Pak Nova (Plt Gubernur Aceh) segera mencabut SK tersebut, jika tidak kita akan terus menggalang dukungan  untuk  melakukan  penolakan. Bahkan, kemungkinan akan menggugat ke PTUN," tegasnya.

Sebelumnya, Plt Gubernur Aceh,Nova Iriansyah menolak melakukan pengukuhan Badruzzaman Ismail sebagai Ketua MMA periode 2019-2023. Padahal, Badruzzaman Ismail terpilih dalam Mubes MAA pada 23-25 Oktober 2018. Lantas, Nova Iriansyah memilih mengangkat Mantan Khatibul Wali Nanggroe Aceh, Saidan Nafi sebagai Plt Ketua MAA karena menganggap  pemilihan Badruzzaman Ismail  tidak sah.***

Komentar

Loading...