Iklan Ucapan Selamat Puasa Ramadhan
Iklan TRH sambut Puasa Ramadhan 1439

Terkait Dana CSR

Ketua DPRK Aceh Besar, Sulaiman Ancam Panggil PT. Lafarge Cement

Ketua DPRK Aceh Besar, Sulaiman Ancam Panggil PT. Lafarge Cement
ist

Aceh Besar l Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Besar, Sulaiman SE mengancam akan memanggil menejemen PT Lafarge Cement Indonesia dan Holcim yang berada di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Itu terkait proyek sanitasi air bersih yang dibangun perusahaan tersebut bagi warga enam Gampong (desa) di Kecamatan Luepung, Aceh Besar. Sayangnya, proyek yang dibangun menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) delapan tahun silam ini, airnya belum dapat dinikmati seluruh warga.

"Saya melihat, perusahaan ini (PT. Lafarge) telah melecehkan kita selaku penyelenggara Pemerintahan Aceh Besar, baik itu bupati maupun DPRK. Bagaimana ceritanya, perusahaan sebesar PT. Lafarge,  memberikan bantuan yang tidak bisa dimanfaatkan masyarakat. Seharusnya, perusahaan tidak boleh memberikan tanggung jawab penuh pada Forum Kecamatan, untuk mengelola dana. Intervensi mereka, berupa pengawasan harus tatap ada." Tegas Sulaiman pada MODUSACEH. CO, di Banda Aceh, Minggu, (13/5/18).

Sulaiman menilai, kurangnya pengawasan yang dilakukan Pemkab Aceh Besar, telah membuat perusahaan itu bisa berbuat sesuka mereka. Termasuk, dalam hal pemberian dana CSR secara tertutup, tanpa diketahui khalayak ramai. Itu sebabnya, dalam waktu dekat ini, DPRK Aceh Besar akan mengkaji semua  aturan sebelum memanggil menejemen PT. Lafarge Cement Indonesia dan Holcim, untuk dimintai penjelasan terkait mekanisme pemberian dana tersebut.

"Setahu saya, dana CSR mereka (PT. Lafarge Cement Indonesia dan Holcim) mencapai Rp 3 miliar dalam satu tahun sesuai dengan Memorendum of Understanding (MoU) dengan Kecamatan Leupung dan Lhoknga. Bagaimana mereka menyalurkan? Kemana saja dipergunakan? Bagaimana pertanggungjawaban? Siapa yang mengaudit dananya? Ini perlu kita ketahui, jangan sampai hanya segelintir masyarakat yang menikmati uang yang banyak itu," ungkap politisi Partai Aceh ini dengan suara meninggi.

Tak hanya itu, dia juga meminta Pemkab Aceh Besar untuk mengevaluasi Camat Leupung dan Lhoknga, sebab kedua camat itu bersentuhan langsung dengan masyarakat dan tahu bagaimana proyek itu dikerjakan. "Rasanya aneh, ketika seorang Camat tidak mengambil sikap ketika proyek yang nilainya miliaran rupiah gagal difungsikan masyarakat. Padahal, Camat adalah perpanjangan tangan Pemkab. Seharusnya, dia bisa melapor pada atasannya (Bupati Aceh Besar Mawardi Ali). Pertanyaan saya, Camat ini kerjanya apa?," ungkap Sulaiman merasa heran.

Menurutnya, masyarakat di sekitar perusahaan semen itu harus diperhatikan. Sebab, kekayaan alam berupa semen itu terletak dikawasan tempat tinggal warga di sana. Belum lagi, warga dihantui rasa tak aman karena sewaktu-waktu mendatangkan penyakit akibat pengambilan kapur.

"Kita harus ingat, jika terjadi sesuatu dengan alam di sana (Lhoknga dan Leupung), yang menjadi korban adalah warga sekitar. Maka, sudah sepantasnya masyarakat di sana diperhatikan lebih oleh menejemen pabrik semen. Jangan memberikan bantuan terkesan tidak ikhlas, sayang masyarakat." Harap pria kelahiran Samahani ini.

Sebelumnya, PT. Lafarge Cement Indonesia dan Holcim, membangun proyek penyaluran air bersih bagi warga sekitar. Proyek itu dibangun pada 2009 dan menelan anggaran hingga Rp 1, 4 miliar lebih. Sayangnya, proyek itu belum dirasakan manfaatnya oleh warga sekitar dan dibiarkan begitu saja.***

Komentar

Loading...