Menulusuri Jalan di Banda Aceh

Ketika Warga Kota Lupa Nama Pahlawan

Ketika Warga Kota Lupa Nama Pahlawan
Penulis
Rubrik

Penambalan nama pahlawan di jalur jalan lingkar Kota Banda Aceh tertulis dengan disingkat. Akibatnya, para pengguna jalan terutama generasi muda di Kota Banda Aceh nyaris tak mengetahui dan lupa nama asli  Pahlawan Aceh  yang berjasa itu. Kurang peduli atau lemahnya sosialisasi?

Nama dan sosok Pahlawan Aceh, tak hanya tercatat dalam sejarah Indonesia dan dunia.  Para syuhada itu dikenang, salah satunya dengan menjadikan nama di sejumlah ruas  jalan lingkar, mengelilingi Kota Banda Aceh.

Misal, ada nama Jalan Teungku Syech Abdul Rauf. Ada juga, Jalan T. Daud Beureueh, Jalan Mutia dan Jalan Poecut Baren, Jalan Cut Nyak Dhien  serta Jalan Teuku Umar, Batoh, Lhueng Bata dan lainnya. Namun,  ada beberapa nama pahlawan yang tersembunyi di balik singkatan nama tadi.

Contoh, Nyak Makam.  Nama ini tak tertulis semegah nama pahlawan lainnya. Jika, Anda teliti melihat pamflet nama jalan di Simpang BPKP Ulee Kareng Banda Aceh. Nama ini hanya ditulis dengan singkatan Jln. P. Nyak Makam.

Ada juga nama Jalan STA. Mahmudsyah yang berada di Simpang Peuniti, bersebelahan dengan Kantor Kodam Iskandar Muda. Termasuk papan nama Jalan TWK Daudsyah, yang berada di daerah Pasar Peunayong. Bagi  yang tak sering membaca sejarah Aceh, barang kali tak tahu nama tersebut merupakan Pahlawan Aceh.

Fitri (16), salah satu siswa SMA di Kota Banda Aceh misalnya, saat ditanya wartawan media ini tentang salah satu penguna jalan tadi. Dia justeru mengaku tak tahu asal usul pemberian nama P. Nyak Makam. “Ndak tahu , saya nggak pernah dengar.  P itu itu, mungkin artinya persatuan," jawab Fitri enteng, sambil tertawa.

Miris? Begitulah faktanya. Ada juga Juli (29). Saat ditanya tentang nama Jalan Mochammah Jam. Dia mengaku sama sekali tak peduli. “Kayaknya nama pahlawan, tapi kurang paham juga. Ya kalau lewat jalan, lewat aja sih,” kata perempuan yang mengaku berprofesi sebagai guru itu.

Itu sebabnya, Pengurus Kantor Pusat Lembaga Zuriat Kesultanan Atjeh Darussalam, Teuku Saifullah mengaku sedih. Dia berharap, kondisi miris ini tak perlu dipertahanakan dan mendesak dilakukan pendidikan serta pemahaman sejarah bagi generasi muda Aceh. Mulai dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi.

Sebagai keturunan darah biru atau kesultanan Aceh, Teuku Saifullah mengaku prihatin karena nama seorang pahlawan yang telah mengorbankan diri untuk Aceh, hanya dikenang dengan singkatan nama. Itu pun tak semua peduli. Buktikan Fitri dan Juli. Padahal, seorang guru, harusnya Juli paham dan tahu tentang sejarah kerajaan dan kesultanan Aceh, yang telah syahid dan gugur dalam mempertahankan Aceh dan Indonesia dari penjajahan Belanda.

“Bagaimana kita berharap orang lain menghargai pahlawan Aceh, jika generasi muda Aceh sendiri tak peduli. Karena itu, tak baik menyingkat nama seseorang, apalagi pahlawan yang telah berjuang untuk Aceh. Nama merupakan satu identitas diri seseorang.  Jika memberi nama singkatan, maka akan kehilangan makna sebenarnya,” ungkapnya, 19 April 2019 lalu di Banda Aceh.

Dia menjelaskan, dalam buku sejaran Aceh, tercatat nama pahlawan seperti Teuku Nyak Makam yang merupakan seorang panglima perang Aceh yang dikenal gigih melawan Belanda.  Sehingga dinamakan Panglima Nyak Makam. Dia lahirdi Gampong Lamnga, Kabupaten Aceh Besar tahun XXVI Aceh atau 1838 Masehi.

Sedihnya, pengadian Panglima Nyak Makam untuk Aceh sangat tragis.  “Bayangkan, di akhir-akhir pejuangannya. Dia dibunuh saat sedang  sakit oleh Belanda. Diseret beserta keluarganya dan memenggal  kepala Panglima Nyak Makam,” ungkap Teuku Saifullah.

Tak sampai di situ, sejarah juga mencatat. Setelah kepala Panglima Nyak Makam dipotong,  lalu dijadikan bulan-bulanan. “Mereka menendang kepala seperti bola. Sedangkan tubuhnya ditembak membabi buta. Kini, mayat beliau dikubur di Lamnga tanpa kepala,” ceritanya.

Yang paling menyedihkan, saat pembunuhan terjadi. Tentara Belanda mengepungnya dengan seribu pasukan. Bukti nyata, jika Belanda sangat takut terhadap Panglima Aceh itu.

Lain lagi dengan sejarah pahlawan Aceh  Mochammad Jam, yang namanya tertera di Samping Masjid Raya Banda Aceh. “Ini Jalan Muhammad Jam setelah saya telusuri merupakan Sultan Jamalul Alam Badrul Mulia, yaitu berasal dari Dinasti Saed yang bermarga  Al Jamalulail,” ungkap Teuku Saifullah.

Selain itu, ada nama Jalan STA, Mahmud Syah, yang merupakan Sulthan Alayidin Mahmud Syah. Dia Sultan kedua terakhir Aceh. ”Jangan disingkat STA. orang tak tahu apa itu STA,"usul dia.

Lain lagi dengan Jalan TWK. Daud Syah yang berada di kawasan Pasar Peunayong. “Padahal ndak ada TWK lagi, beliau bernama Sulthan Alaidin Muhammad Daud Syah. Kalau disingkat generasi muda Aceh tidak tahu itu singkatan nama pahlawan,” jelasnya.

Karena itu usul Teuku Saifullah, nama pahlawan  harus ditulis dengan benar. Pemberian nama singkatan akan menjadi suatu hal yang disalah artikan. “Karena dalam bahasa-bahasa proyek pun, pembangunan kata STA disebut. Misal, pengaspalan STA, artinya sudah lain. Itulah yang harus kita luruskan,” ungkap laki-laki keturunan darah biru itu.

Nah, dari cerita bersejarah itulah, seharusnya Pemerintah Kota Banda Aceh dan dinas terkait duduk bersama kembali.  “Maunya semua nama jalan yang telah tersingkat, baik sengaja maupun tidak oleh orang terdahulu, dikembalikan dengan nama sebenarnya dan selengkap-lengkapnya,” harap Teuku Saifullah.

Selain itu dia mengungkapkan, Aceh merupakan cikal bakal sejarah negeri jiran atau Malasyia, Malaka,  Kelantan, Vatanim, dan  Mindanau.  Jika ada nama jalan pahlawan, para wisata yang datang  pasti merasa bahwa orang Aceh sangat perduli dengan sejarahnya.

Selanjutnya Teuku Saifullah menjelaskan, banyak wisatawan datang ke Aceh untuk melihat kembali sejarah dan hubungan kerajaan di masa lampau. Contohnya, Malaysia. Mereka ke Aceh pasti ingin melihat sejarah Aceh dan juga hubungan kerja sama Aceh dan Melayu.

Selain itu, Aceh memiliki  hubungan dengan Negara Brunei Darussalam. Bila ditarik silsilah nasab garis keturunan Sultan Syarif Alwi atau keluarga beliau. “Jadi orang Brunei datang ke Aceh untuk mencari kemana muaranya serta untuk memperkuat silaturahmi,” jelasnya.

Aceh juga memiliki pahlawan perempuan terkenal di dunia, yaitu Laksamana Malahayati yang mampu memimpin empat ribu kapal perang di lautan nasional. Dan berhasil melawan Capten VAN Suther dengan tangan kosong. “Sejarahnya masih dicari sampai sekarang,” ungkap Teuku Saifullah.

Menyangkut dengan pahlawan, sejarah sebenarnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat Aceh itu sendiri. Lewat pengenalan sejarah pahlawan terdahulu, karena para turis asing terus berdatangan ke Banda Aceh. Mencari sisa-sisa peninggalan sejarah.

“Orang itu nggak mungkin naik sampan ke Aceh.  Pasti menggunakan pesawat. Para wisatawan tadi  mencari penginapan, rumah makan dan oleh-oleh. Bisa juga menarik turis asing untuk menanam sahamnya, yang menjadi pemasukan bagi Pemerintah Aceh,” jelasnya.

Masih ungkapan Teuku Saifullah. Banyak wisatawan yang ingin mengenang kembali sejarah Aceh dengan mengunjungi Komplek Makam Sultan Iskandar Muda dan lainnya. Namun,  di komplek makam hanya dapat  melihat makam saja.  sedangkan  duplikat, dokumen dan manuskrip tidak tersedia.

Padahal di komplek makam harus dibangun satu museum lengkap dengan sejarah sultan, sehingga setelah ziarah, ada yang lain yang dilihat. ”Manuskrip tercecer dan berada pada pemerhati sejarah. Bahkan ada yang mengumpul manuskrip itu atas nama pribadi. Ini harus disatukan kembali,” harap Teuku Saifullah.***

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman: Demi Pahlawan, Kaji Ulang Sejarah Aceh

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman mengatakan, perubahan nama jalan di lingkar Kota Banda Aceh harus dikaji ulang. Itu dilakukan untuk menghargai pahlawan yang telah berjasa. Dia mengaku setuju dan sepakat untuk melakukan pengkajian secara ilmiah dengan melihatkan ahli sejarah yang ada di kampus maupun pemerhati lainnya.

"Dalam waktu singkat, Pemko Banda Aceh sangat setuju untuk mengantikan dan memperbaiki nama-nama jalan yang menulis nama pahlawan secara disingkat untuk disesuaikan kembali," ucap dia.

Namun kata Aminullah, perubahan tersebut harus disertai dengan kajian sejarah yang akurat oleh para pakar. “Bagi Pemerintah Kota Banda Aceh untuk merubah suatu nama jalan, harus berdasarkan hasil penelitian atau kajian sejarah,” jelasnya saat ditemui media ini, usai Rapat Paripurna HUT Ke-814 Kota Banda Aceh, Senin, (22/4/2019) lalu. 

Dia menjelaskan, selain pengkajian ulang.  Juga perlu adanya kesepakatan bersama,  antara pemerintah, lembaga, dinas terkait dan juga masyarakat. “Mungkin  diharapkan  nanti, perlu ada uji publik. Apakah sudah betul nama-mana yang paling tepat,” ungkapnya.

Menurut orang nomor satu di Banda Aceh ini. Pemberian nama jalan pahlawan merupakan suatu bentuk pnghormatan. Selain itu, bagi generasi muda Aceh saat ini,  sangat perlu untuk ditumbuhkan rasa menghargai jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan Aceh. 

“Kalau kita boleh-boleh saja, tidak ada masalah dan setuju. Karena untuk  menghargai sejarah atau sesuatu tertentu sangat penting. Orang yang tidak menghargai sejarah adalah orang yang gagal. Sehingga kita harus menghargai itu,” kata Aminullah.

Selain pengkajian ulang terhadap sejarah, harus ditelusuri kembali bagaimana asal usul dibuat nama jalan tersebut. “Kami adalah penerus. Masalah ini merupakan  generasi awal. Namun, setuju saja sebagaimana baiknya untuk Kota Banda Aceh dan para pahlawan,” ujarnya mengakhiri pembicaraan singkat siang itu.***

 

Komentar

Loading...