Breaking News

Ketika Ngopi Tak Sekedar Kata dan Rasa

Ketika Ngopi Tak Sekedar Kata dan Rasa
Internasional Festival Kopi 2016, Banda Aceh. (foto: antara)
Rubrik
Sumber
Majalah Inspirator
Banda Aceh | Sebutan Aceh sebagai kota seribu satu warung (kedai) kopi, bukan hanya sebatas kata. Salah satunya Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh. Hampir 80 persen warganya menghabiskan waktu untuk ngopi usai melaksanakan pekerjaan. Tak kecuali kaum perempuan. Dimulai pagi hari, sore hingga larut malam. 

***

MALAM semakin larut, jarum jam sudah bergerak pukul 23-30 WIB. Namun Jalan Teuku Nyak Makam, Kota Banda Aceh masih  ramai disatroni warga. Mereka duduk dan menghabiskan waktu sambil menikmati secangkir kopi bahkan lebih. Sesekali terdengar tawa dan canda, melepas lelah dan penat, setelah seharian bekerja.

Di Banda Aceh, ada ratusan warung kopi yang tersebar di berbagai sudut kota. Mulai dari warung tradisional hingga berbentuk kafe dengan fasilitas ruang pertemuan memakai jaringan wifi (internet) gratis. Bila musim sepak bola dunia dan Indonesia tiba, para pemilik juga memasang layar lebar sehingga mengundang pelanggan untuk datang.

Sejak bertahun-tahun, kondisi ini memang sudah menjadi tradisi di Bumi Serambi Mekah. Minum kopi sambil mengobrol adalah kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Karena itu jangan heran, warung kopi tak hanya sekedar mempertemukan penjual dengan penikmat. Lebih dari itu, tempat berkumpul bersama keluarga, teman dan kerabat, tanpa ada sekat strata sosial.

“Kami sudah sering melayani tamu dari luar Aceh. Mulai dari Pak Menteri hingga wisatawan dari China, Malaysia serta Brunai Darussalam,” kata Aswawi atau akrab disapa Cek Nawi, pemilik Warung Kopi Jasa Ayah di Ulee Kareng, Banda Aceh beberapa waktu lalu.

Seangkatan Cek Nawi ada Cut Nun.  Dua pengusaha ini memiliki lebih dari satu warung kopi yang tersebar di Kota Banda Aceh. Warung Kopi Jasa Ayah merupakan salah satu warung kopi tertua di Banda Aceh. Dari warung inilah lahir sejumlah pengusaha muda warung kopi lainnya.

Sebut saja Taufik dan Chek Yukee. Kedua anak muda ini adalah ‘alumni’ dari Warung Cek Nawi. Sementara Muzakir dengan brand Zakir Kupi-nya adalah generasi pecahan dari Cut Nun. Begitupun, semua mereka mengaku mendapat ilmu dan kiat berjualan kopi dari sang ayah. “Ya, saya meneruskan usaha dari ayah,” kata Cek Nawi.

Menariknya, walau bernama Warung Kopi Jasa Ayah, para tamu dan penikmat kopi di Aceh dan Banda Aceh akrab menyebutnya: Warung Kopi Solong. Sebutan ini sudah mewabah hingga ke Jakarta dan manca negara.

Menurut Cek Nawi, Solong adalah nama panggilan ayahnya saat masih bekerja untuk orang Tionghoa. Pada tahun 1974, Solong—alias Muhammad Solong, mendirikan warung kopi “Jasa Ayah”. Tak banyak kedai kopi di Aceh saat itu.

Karena itu jangan heran bila masyarakat luas mengenal Kopi Solong. Orang-orang berdatangan untuk bersantai sejenak atau asyik berdiskusi dengan tema beragam. Secara tak langsung, “Kopi Solong” menjadi ikon kopi Aceh dan semakin sering direkomendasikan penduduk Aceh kepada wisatawan, pejabat daerah, seniman, tokoh-tokoh masyarakat, bahkan turis mancanegara. Saking larisnya, warung kopi ini tak pernah sepi. Bila musim libur, keramaiannya bisa berlipat. Tak heran bila nama “Kopi Solong” lebih populer dibanding nama “Jasa Ayah.”

Soal kualitas, Solong Kopi, Taufik Kopi, Cek Yuke Kopi serta Cut Nun Kopi tak perlu diragukan. Biji kopi pilihan, dihasilkan dari kebun kopi di Lamno, Kabupatn Aceh Jaya dan Pidie serta dataran tinggi Gayo (Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah), yang dikenal sebagai kopi nomor satu di Aceh. Sebelum digiling, Cek Nawi bahkan masih turun tangan langsung untuk menyortir biji-biji kopi yang layak olah.

Untuk menggiling kopi, Cek Nawi masih memakai mesin giling sederhana di bagian belakang warung kopi “Jasa Ayah.” Ini yang menyebabkan kualitas cita rasa kopi Solong terjaga, sampai sekarang.
Cara meracik kopi Solong pun terbilang unik. Kopi disaring menggunakan kain, lalu dituangkan berpindah-pindah dari ceret yang satu ke ceret lainnya. Tak ada ramuan khusus, tidak campuran lain, hanya gula secukupnya. Duh! Nikmatnya.***

Komentar

Loading...