Breaking News

Gedung Baru PT Bank Aceh Syariah Takengon (bagian satu)

Ketika Lahan Panti Asuhan Anak Yatim Budi Luhur Beralih Fungsi

Ketika Lahan Panti Asuhan Anak Yatim Budi Luhur Beralih Fungsi
Panti Asuhan Budi Luhur beralih fungsi menjadi Kantor Bank Aceh Syariah Aceh Tengah (Foto: lintasgayo.com)

SENIN, 29 Juli 2019, Jalan Lebe Kader, Kampung Kemili, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, nyaris macet. Itu sebabnya, sejumlah anggota polisi dari Polres Aceh Tengah dan Satpol PP, berjaga-jaga di sana, sambil mengatur arus lalu lintas.

Tapi jangan salah, tak ada pesta adat atau perkawinan. Sebaliknya, kedatangan tamu penting dari Banda Aceh yaitu, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Kehadiran Ketua DPD Partai Demokrat Aceh ini ke tanah kelahirannya, memang bukan sekali ini saja. Untuk tugas dinas, bisa disebut sudah beberapa kali.

Dan, hari itu, kepulangan Nova Iriansyah ke dataran tinggi Gayo, untuk meresmikan kantor baru PT. Bank Aceh Syariah, Cabang Takengon. Suka cita pun berlangsung di sana. Namun siapa nyana, dibalik gemerlapnya prosesi peresmian tadi, ada 70-an lebih anak yatim Panti Asuhan Budi Luhur di sana, sedang menghitung hari, mengantung asa, menatap masa depan.

Kondisi ini tak lepas dari 9.726 M2 lahan milik panti asuhan itu, telah beralih fungsi seluas 4.735,5 M2 kepada Bank Aceh. Tujuannya, untuk pembangunan kantor baru bank plat merah tersebut. Sebatas ini tentu tak ada masalah, namun yang jadi persoalan adalah, pelepasan kepemilikan lahan tersebut yang dinilai janggal.

“Telah terjadi pelanggaran dari DPRK dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah kepada Bank Aceh. Diluar kewenangannya, mengalihkan hak atas lahan tersebut,” ungkap Ir. Tagore Abu Bakar, seorang tokoh masyarakat Gayo di Takengon pada media ini, Rabu, 31 Juli 2019.

20190731-budi-luhur2

Plt Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah menandatangani prasasti peresmian kantor baru Bank Aceh Cabang Takengon, Senin, 29 Juli 2019 (Foto: serambinews.com) 

Mantan anggota DPR RI Fraksi PDIP asal Aceh ini menyebut. Tanah tadi adalah milik Pemerintah Aceh (provinsi), hasil penyerahan dari instansi vertikal departemen dengan No: 03/3/TM KEPPRES 157/2201, tanggal 22 Maret 2001. Penyerahan ini diperuntukkan bagi komplek sosial (asrama anak yatim) Budi Luhur, dengan sertifikat No. Reg.7745994, surat ukur No:772 tahun 1987.

Nah, pada tahun 2008, atas persetujuan DPRK dan Bupati Aceh Tengah saat itu Nasaruddin, terjadi pengalihan kepada Bank Aceh dengan taksiran ganti rugi Rp 8 miliar. Ironisnya, dana tersebut dijadikan penyertaan modal Pemkab Aceh Tengah pada Bank Aceh. “Tapi itu aset provinsi dan atas dasar apa Bupati dan DPRK Aceh Tengah mengalihkannya (menjual) kepada Bank Aceh. Saya menduga, ada pemufakatan bersama ketika itu,” ungkap Tagore.

Itu sebabnya, Tagore menyatakan akan melakukan gugatan (clas action) terhadap kebijakan atau pengalihan lahan milik Panti Asuhan Budi Luhur tersebut. “Saya akan terus berjuang dengan rakyat Aceh Tengah untuk mengembalikan hak atau lahan anak yatim ini,” ucap Tagore.

Langkah itu ditempuh Tagore karena dia mengaku kesal dengan kebijakan dan keputusan sepihak tadi. Sebab, atas nama anggota DPR RI Fraksi PDIP Periode 2014-2019, dia telah mengirim surat dengan perihal; lokasi tanah panti asuhan.

“Saya anak yatim juga, jadi tahu dan dapat merasakan apa yang mereka rasakan. Saya kesal, kenapa masalah ini tak pernah diselesaikan DPRK dan Bupati Aceh Tengah. Padahal, tanggal 27 April 2016, saya sudah mengirim surat kepada Gubernur Aceh, Bupati Aceh Tengah serta Kepala Bank Aceh Cabang Takengon,” ucap Tagore.***

Komentar

Loading...