Ketika Jenderal Gatot Nurmantyo Bicara Konsep Bertani, Nelayan Hingga Ancaman Indonesia Mendatang

Ketika Jenderal Gatot Nurmantyo Bicara Konsep Bertani, Nelayan Hingga Ancaman Indonesia Mendatang
Foto MODUSACEH.CO/Azhari Usman
Penulis
Rubrik

Banda Aceh | Presiden RI Joko Widodo dijadwalkan akan membuka Pekan Nasional (Penas) XV - 2017 Aceh di Stadion Lhong Raya,  Banda Aceh, Sabtu (06/05/17). Namun, sebagai permulaan telah diadakan diskusi publik bertajuk rembug utama Kontak Tani Nelayan Andalan Nelayan  (KTNA) Aceh di Pendopo Gubernur Aceh, Ajong Mon Mata, Banda Aceh, Jumat (05/05/17).

Sebagai pemateri, menghadirkan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo, Menteri Pertanian (Mentan) Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP, Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah, juga disaksikan Kepala Polisi Daerah (Kapolda) Aceh Irjen. Pol. Drs. H. Rio Septianda Djambak, Panglima Daerah Militer (Pangdam) Iskamdar Muda Mayjen TNI Fachrudin serta sejumlah kepala Satuan Kereja Pemerintah Aceh (SKPA) dan unsur Forkopimda.

Pada kesempatan itu, Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan, TNI baik angkatan laut, darat dan udara siap membantu petani dan nelayan Indonesia.. Bahkan ia menyarankan daerah-daerah di Indonesia untuk bekerja sama dengan Bank daerah dan juga Lembaga Ilmu Pendidikan Indonesia (LIPI). Kata Jenderal Gatot Nurmantyo, nelayan akan didampingi TNI Angkatan Laut dalam mencari ikan di tegah laut. Caranya, diperbatasan laut Indonesia akan ditempatkan beberapa kapal induk TNI, yang bisa dijadikan sebagai singgahan nelayan dalam mencari ikan. "Kita tanya sama LIPI di mana ikan yang paling banyak, terus kita tempatkan kapal induk di situ. Nah, hasil tangkapan nelayan akan ditampung Pemerintah Daerah (Pemda), uangnya langsung masuk ke bank, hasil penjualan ikan itu dibagi dua, setengah untuk kebutuhan pakan di laut, setengah lagi untuk istri di rumah," ujar Jenderal Gatot Nurmantyo.

Sambung Pak Jenderal, dengan begitu biaya pulang pergi nelayan dapat dikurangi, karena memanfaatkan kapal induk TNI AL sebagai persinggahan dan juga keselamatan nelayan sudah dijaga TNI AL. Namun, disela-sela tidak mencari ikan nelayan bisa latihan menembak di laut bersama TNI AL. "Intinya Kapal induk tetap di laut, bahkan di perbatasan laut lepas, namun nelayan bisa bergantian selama sebulan, nanti diganti dengan nelayan yang lain, karena nelayan juga butuh di darat," jelas Jenderal bintang empat itu.

Dengan begitu, ia sangat yakin, tidak ada kasus pencurian ikan lagi di laut Indonesia, dan juga negara-negara yang ingin menyerang Indonesia dari laut harus berpikir dua kali. "Kalau ada negara lain yang macam-macam, kapal nelayan langsung merapat membantu TNI, jadi coba bayangkan kalau dalam satu kapal induk ada ratusan kapal nelayan, berapa ribu kapal yang siap menjaga Indonesia dari ancaman laut, nelayan akan menjadi kekuatan TNI AL," papar lulusan Akmil tahun 1982 itu.

Untuk petani, ia ingin setiap daerah ada Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) yang menyediakan lahan satu hektar, didalamnya menyediakan semua kebutuhan petani, baik alat-alat pertanian sampai alat untuk mengolah hasil panen petani. "Jika ada petani butuh biaya dan alat mengolah tanah, maka bisa meminjam pada lembaga ini. Nanti ketika panen, maka akan dipotong secara bertahap supaya petani bisa diberdayakan," saran suami Erni Trimurti itu.

Ia mengingat Bulog jangan hanya mencari keuntungan semata, jauh dari pada itu Bulog lebih diberdayakan untuk memakmurkan semua petani di Indonesia. "Disinilah perlu bank daerah untuk  menampung semua hasil panen masyarakat, kalau ini bisa dijalankan, maka tak ada alasan lagi Bulog impor beras," ungkap putra asal Tegal, Jawa Tengah itu.

Lanjutnya, tantangan Indonesia ke depan semakin kompleks. Indonesia adalah negara kaya Sumber Daya Alam (SDA), yang membuat iri negara-negara lain, karena itu dengan berbagai upaya dilakukan agar bisa menguasai Indonesia. "Sekarang sejumlah  negara berperang karena energi, namun ke depan negara akan berperang karena makanan," jelas Jenderal Gatot Nurmantyo.

Ia mengemukakan, Indonesia berada dalam daerah ekuator, serta agraris yang mempunyai energi terbarukan dan sedikit sekali dimiliki negara lain. Bretis Petrolium mengatakan tahun 2056 minyak akan habis karena meningkat penduduk, 42 persen. Namun, tidak dikalkulasi di tahun 2042 penduduk meningkat 4 kali lipat daerah sementara daya tampung bumi mencapai 12,3 milliar orang, kemana mereka akan mencari energi, sedangkan gas minyak akan habis, dan yang ada hanya di Indonesia," jelas Jenderal Gatot Nurmantyo.

Jelasnya, pada Mei 2017 ini penduduk dunia mencapai 6,3 milliar orang, dan pada tahun 2042 diperkirakan energi akan habis sedangkan penduduk dunia menjadi 12,3 milliar orang, dan 9,8 milliar orang tinggal di luar ekuator. "Yang tinggal diluar ekuator ini, akan mencari makanan, sekarang kita lihat sejumlah orang dari negara yang diluar ekuator sudah mulai berimigrasi ke negara yang mempunyai makanan, sejumlah negara telah menutup kebijakan menerima pengungsi dari negara lain, sedangkan Indonesia belum," ujarnya lagi.

Untuk menguasai Indonesia berbagai cara telah dilakukan. Dimana, terlebih dahulu akan dikuasai media sosial, sehingga dapat memanipulasi semua omongan dari seseorang yang bisa membuat permusuhan antara satu sama lain. Selanjutnya, akan dipasok narkoba dengan jumlah sangat besar, dari kota hingga sampai ke kampung-kampung yang bisa membuat petani dan nelayan ketagihan. Seterusnya akan dikuasai lembaga-lembaga resmi pemerintah seperti Bulog, untuk mengatur dan menjatuhkan harga gabah petani, sehingga membuat petani malas dalam bekerja, impor terus dilakukan di Indonesia.

Untuk itu ia mengajak semua elemen bangsa dari Sabang sampai Merauke, dengan momen PENAS ini dapat lebih mempererat tali silaturahmi, dan menularkan informasi pertanian serta perikanan, sehingga dapat maju serentak dalam menggapai Indonesia lebih maju, makmur dan sentosa, harap Jenderal bintang empat itu.***

Komentar

Loading...