Breaking News

Tgk Fit dan Taman Safari Gurun Putri Lestari (bagian dua)

Ketika BKSDA Dinilai tak Sesuai Kata

Ketika BKSDA Dinilai tak Sesuai Kata
Foto: Muhammad Shaleh/MODUSACEH.CO
Rubrik

Kekecewaan Tgk Fit memuncak saat beberapa kali staf Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh datang dan mendata seluruh satwa langka miliknya. Sementara, berbagai keperluan dokumen sebagai keabsahan regulasi (aturan), yang harus dipenuhinya tak kunjung selesai. Bahkan, satu ekor orang utan miliknya hingga kini belum dikembalikan BKSDA Aceh.

SEARAH mata memandang, rasanya tak membutuhkan energi ekstra untuk dapat menghabiskan waktu, menelusuri kawasan Taman Safari (kebun binatang) Gurun Putri Lestari di kawasan perbukitan Jantho, Kabupaten Aceh Besar.

Begitupun, ketika kaki melangkah, menatap dan menelusuri satu per satu koleksi satwa yang ada, terutama burung dan rusa. Dada dan nafas terasa sesak juga. Andai tak ada riuh suara burung elang yang menatap tajam. Bisa jadi membosankan juga.

Tapi ya itu tadi. Seketika terobati, apalagi saat si amang (orang utan) bergantungan di atas dahan, disusul ratusan burung merpati yang malu merapat dan kemudian pergi (terbang) di antara rimbunnya pepohonan.

“Langsung ke kantor induk saja Bang. Kami di sini,” kata Munawar atau akrab disapa Waled di ujung telpon seluler, memberi arah dan petunjuk untuk kami tuju. Waled merupakan orang kepercayaan Tgk Fit.

20190122-burung-unta

Awalnya atau saat memasuki areal tersebut memang agak sedikit menanjak, namun begitu tiba di areal seluas 60 hektar ini, hamparan rumput hijau dan bunga bermacam warna, sungguh sangat mengoda mata. Apalagi, beberapa rusa melirik penuh curiga, diantara kerumunannya.

“Hati-hati, kalau dia sedang marah, dikejar dan tanduknya kita,” kata Tgk Fit, memberi aba-aba, saat kami rehat sejenak di balai utama. Benar saja, usai kami mengelilingi kawasan yang ada, M. Anshar, fotografer Harian Serambi Indonesia, sempat mengabadikan dua rusa jantan yang sedang adu kekuatan, merebut "cinta" dari rusa betina di sebelahnya.

Selanjutnya, Tgk Fit pun bercerita tentang berbagai hal. Mulai dari kehidupan dan masa kecilnya hingga persoalan yang melilitnya, terutama dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

“Mudahnya mereka berjanji, tapi sulit untuk menepatinya,”. Begitu Tgk Fit berkisah, diantara sepoi angin gunung yang mengundang rasa ngantuk. Sesekali, Tgk Fit melantun lagu yang dia sadur dari youtube. Tapi, tak mampu merubah raut wajahnya yang sempat berubah seketika, saat saya menyinggung nama BKSDA Aceh.

Itu wajar saja, sebab sudah tahunan dia menunggu dan menanti kepastian, terkait izin kepemilikan dan perawatan satwa langka yang ada di Taman Safari (Kebun Binatang) yang dia dirinya secara pribadi dan mandiri ini.

“Saya bukan melawan pemerintah dan tidak mau ikut aturan. Yang saya kesal, berbagai syarat saya penuhi secara pelan-pelan. Tapi, bukannya pembinaan yang mereka lakukan, tapi saya selalu disalahkan. Saya tidak mau ikut aturan yang salah dari manusia,” ungkap dia.

20190122-buruang-kasuari

Jika pun masih ada kekurangan persyaratan, menurutnya wajar dan bukan dia tak mau mengurusnya. Tapi, berbelitnya birokrasi, menjadikannya bosan untuk berhubungan dengan aparatur pemerintah. Sebab, Taman Sari tersebut dibangun dengan dana pribadi, tanpa ada bantuan dari pihak lain, satu rupiah pun.

Entah itu sebabnya, saat beberapa kali staf BKSDA Aceh melakukan cek dan survey lapangan, dia mengaku sempat marah dan tersulut emosi. Ini disebabkan, permohonan rekomundasi (legalitas) kepemilikan dan pemeliharaan satwa langka dan dilindungi, yang diajukannya, tak kunjung keluar.

“Padahal, mereka sudah datang dan lihat sendiri, bagaimana saya merawat dan memberi makan “anak-anak” saya itu (sebutan untuk satwa kesayangannya ini). Mereka sendiri tidak merawat dan memberi makan seperti yang saya lakukan,” ungkap Tgk Fit.

Nah, entah itu sebabnya, setelah menunggu beberapa lama, BKSDA Aceh akhirnya mengeluarkan rekomundasi. “Saya mau  BKSDA Aceh jangan memperkaya kebun binatang di luar Aceh. Tolong perkaya kebun binatang di Aceh Besar ini,” tegasnya.

Begitupun, dia mengaku tetap tidak mau menerima hibah satwa dari BKSDA. “Saya tidak mau terima hibah dari mereka. Yang namanya hibah itu harta dari orang tua kepada anaknya atau untuk tujuan agama. Kalau satwa langka bukan hibah dan tidak boleh. Apalagi  dari BKSDA. Bisa jadi, mereka merampas satwa dari orang lain,” kritik Tgk Fit.

Menurut Tgk Fit, berdalih atas nama menjalankan undang-undang, BKSDA Aceh dengan mudah merampas satwa orang lain, kemudian “dijadikan uang” pada orang lain pula. Nah, cara-cara seperti ini yang dia tidak suka.

“Saya ikut undang-undang agama Allah, merawat dan menyayangi binatang. Mereka boleh bilang menjalankan aturan dan undang-undangan, tapi tetap kalah dengan uang. Apa cara-cara seperti itu sesuai agama (Islam),” tantang Tgk Fit.

Masih kata Tgk Fit. “Saya bukan tidak mau bekerjasama dengan BKSDA. Saya tidak mau terima binatang apapun dari mereka, karena saya sudah berjanji dengan Allah bahwa saya tidak akan terima lagi satwa dari BKSDA Aceh,” ucapnya.

Kenapa? “Karena mereka pernah mencoba membuat dan mengeluarkan semua binatang saya. Termasuk mau menitipkan satwa milik mereka. Caranya, mereka mengeluarkan surat dengan syarat dan status bahwa semua satwa saya merupakan titipan dari BKSDA Aceh. Enak saja! Saya beli dengan harta dan uang saya sendiri. Saya jual kerbau dan sapi untuk saya beli binatang ini. Makanan mereka pun saya dapatkan dengan menjual kerbau. Saya berusaha kemana-mana buat kasih makan binatang ini,” papar dia.

***

“Baik Tgk Fit, boleh kami melihat dan memotret satwa yang ada,” mohon saya, tat kala melihat M. Ansar, fotografer Harian Serambi Indonesia, sudah mulai tak sabar untuk “bergrilya” dan “membidik” tingkah lucu dari domba merino, asal Australia.

“Ya, tapi kalau rusa bagusnya agak sore, ketika mereka berkumpul untuk makan. Sabar sebentar, saya minta anak-anak untuk mengambil makanannya,” tawar Tgk Fit, sambil memanggil satu nama dari pekerjanya.

Lalu, kami pun bergerak, mengitari beberapa ruas  jalan setapak, sambil lirik kanan-kiri. Sesekali, Anshar berhenti, membidik setiap moment indah. Hatinya seketika luluh juga, saat melihat seekor anak domba  merino. Anshar merapat dan minta difoto. “Lucu,” kata Ansar, sambil tersenyum.

Diantara keasyikan tadi, saya melirik arlogi di tangan. Waduh, sudah pukul 17.00 WIB, gumam saya dalam hati. Ada perasaan bersalah, sebab janji saya kepada Masrizal dan Anshar, kami bertahan hingga pukul empat sore. Faktanya justeru sudah lebih satu jam. “Enggak apa-apa, saya masih butuh banyak foto,” jawab Anshar, saat saya tawarkan untuk kembali.

20190122-orang-utan

Ibarat air mengalir. Begitulah Tgk Fit menumpahkan kekesalannya pada BKSDA Aceh. Bahkan, dia sempat buka rahasia bahwa dirinya bisa saja mendapatkan berbagai satwa dari BKSDA Aceh, asal menyerahkan uang. Namun itu tidak dia lakukan. “Saya bisa membelinya sendiri secara halal, bukan satwa hasil rampasan dari orang lain,” ujarnya.

Dan menurut rencana, dalam waktu dekat dia akan mendapatkan unta sebagai hadiah dari Presiden Turki. Itu didapatnya dari rekomundasi serta hibah orang tertentu dari negeri Timur Tengah.

“Mereka tahu asal usul dan siapa silsilah serta keturunan Tgk Chik Tanoh Abe yaitu dari Iraq. Dari pemberitaan dan kabar itulah, saya dihubungi orang kepercayaan Presiden Turki yang ada di Malaysia. Mereka akan menghibah beberapa unta kepada saya. Insya Allah dalam waktu dekat akan sampai. Saat ini sedang dalam pengurusan dan karantinanya sudah saya siapkan,” kata Tgk Fit sambil menunjuk kandang unta, diantara hamparan hijau lokasi Taman Safari (kebun bintang) miliknya.

Kehadiran unta tersebut, akan menjadi “saudara” bagi burung unta (asal Timur Tengah) miliknya, burung rhea (Amerika Selatan), burung emu (Australia), dan kasuari (Papua). Ada juga burung merak, rusa, kambing batu, domba merino, dan satwa lainya. Selain itu, ada datang hewan lainnya, yang hidup di Benua Amerika dan Afrika. Seperti alpaka (binatang menyusui yang berasal dari Amerika Selatan) serta llama asli Amerika Selatan.

Matahari mulai redup, jarum jam sudah bergerak ke pukul 18.00 WIB. Pertanda hari sudah sore dan malam akan segera tiba. Kami pun pamitan, sambil foto bersama. Satu permintaan kami ajukan kepada Tgk Fit, sebelum kaki jauh melangkah, meninggalkan kesan mendalam dari Taman Safari, Gurun Putri Lestari. Izinkan kami untuk kembali bersama keluar, menikmati satwa, makhluk Tuhan, penjaga keseimbangan alam semesta.

Berminat? Sabar dulu. Anda belum bisa melihatnya besok atau lusa. Insya Allah akan dibuka bulan Rajab atau Maret 2019 mendatang.***

Komentar

Loading...