Iklan HUT 16 TAHUN MODUS ACEH

Melirik Kondisi Plakat Terima Kasih Aceh Kepada Dunia

Kenapa Untuk Merawat Saja Begitu Sulit Ya?

Kenapa Untuk Merawat Saja Begitu Sulit Ya?
Kondisi plakat terima kasih dari Aceh untuk dunia di Blang Padang, Banda Aceh (Foto: Muhammad Saleh/MODUSACEH.CO
Rubrik

MODUSACEH.CO | Jika tidak bertugas ke luar daerah. Sedikitnya tiga kali dalam sepekan, saya selalu menyediakan waktu untuk berolahraga jogging di Lapangan Blang Padang, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh.

Kalau tidak pagi hari, usai shalat subuh, sore hari menjadi waktu alternatif untuk membakar sejumlah kalori dalam tubuh. Entah itu sebabnya, dalam waktu enam bulan terakhir, mampu menurunkan delapan kilogram berat badan saya.

Nah, bila kondisi benar-benar fit, saya berjalan sepuluh  putaran atau setara dengan 10 ribu lebih langkah kaki. Tentu, berjalan santai, tanpa harus memaksa.

Olahraga murah dan sehat ini pun saya lakukan, setelah senam jantung sehat yang sebelumnya dilaksanakan setiap minggu dan rabu pagi di lokasi serupa. Namun, saya belum mendapat informasi, kenapa olahraga masyarakat itu sudah tak digelar lagi. Kabarnya, sudah pindah ke arena car free day, kawasan Simpang Lima, Kota Banda Aceh.

Saya memilih Lapangan Blang Padang, karena relatif segar di pagi hari dan bersih serta rimbunnya pepohonan di sekitar. Walau pun sesekali dihiasi suara motor yang meraung-raung serta harus mengalah dengan banyaknya kegiatan di lapangan tersebut.

“Sering jogging di sini Mas,” tanya Anton (40), seorang karyawan swasta asal Jakarta, Jum’at pagi pekan lalu. “Ya, jika tidak keluar kota, saya berusaha minimal seminggu tiga kali. Kalau tidak pagi ya sore hari,” jawab saya sambil rehat.

Awalnya, Anton menduga saya seorang PNS. Namun, setelah saya jelaskan seorang wartawan, Anton pun begitu bersemangat mengajak saya bicara. “Saya menginap di hotel sekitar sini. Kebetulan saya diberitahu ada lapangan luas untuk jogging dan saya kemari,” kata Anton yang mengaku sering menghabiskan waktu di areal parkir Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, khusus untuk jogging.

20190204-monumen-terima-kasih-dari-aceh-untuk-dunia-di-blang-padang-banda-aceh

Anton mengaku baru pertama kali di Banda Aceh, karena ditugaskan perusahaan tempat dia bekerja. “Saya konsultan property Mas. Ada tugas dari kantor,” jelas alumni Tekhnik Planologi, Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Lalu, karena jam masih menunjukkan pukul 07.00 WIB, saya mengajak Anton untuk berjalan satu putaran lagi. “Yuk satu putaran lagi sambil ngobrol,” ajak saya dan aminkan Anton.

Seperti air mengalir, Anton banyak bertanya kepada saya tentang tsunami yang melanda Aceh, 26 Desember 2004 silam. Termasuk soal kondisi musium tsunami yang menurutnya masih belum maksimal dikelola sebagai destinasi wisata di Banda Aceh.

Rupanya, Anton sudah empat hari berada di Banda Aceh dan sudah mengunjungi objek wisata tsunami lainnya. Misal, kapal apung, Masjid Ule-Lhee serta Masjid Raya Baiturrahman. “Masjidnya indah sekali. Tapi kok pengunjung masih ndak disiplin ya Mas. Tega mereka buang sampah sembarangan tempat,” kata Anto bernada kritik.

Sesekali, “matanya liar”, melirik ke kiri dan kanan. Bahkan memegang 53 plakat ucapan terima kasih kepada dunia Internasional yang telah membantu proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh paska gempa dan tsunami Aceh, 26 Desember 2004.

“Wah, ini monumen terima kasih Aceh dan Indonesia untuk dunia ya (Thanks To The Worlds). Menarik juga. Tapi sayang, kenapa dibiarkan kondisinya seperti ini. Tuh lihat, tulisan dan gambar bendera negara donor sudah kabur dan nyaris hilang” ucapnya bersemangat.

Mendengar cerita Anton, saya hanya bisa diam dan mengangguk-angguk kepala. Maklum, apa yang disampaikan Anton, begitulah realita yang ada. Mulai dari sampah yang masih berserakan hingga kesan kurangnya perawatan.

Untuk menghentikan “ocehan” Anton, saya pun bersiasat. “Maaf Mas, sudah pukul 08.00 WIB. Kita bubar dulu dan Insya Allah, kalau Mas ke Banda Aceh kita ketemu lagi,”  kata saya mengakhiri pertemuan tadi, sambil berbagai nomor handphone.

Lantas, saya balik kiri dan Anton ke kanan, masing-masing menuju areal parkir. Dari kejauhan, saya melirik satu unit mobil Kijang Inova yang sudah menunggu dan mejemputnya. Seketika, Anton menghilang dari suasana Kota Gemilang yang mulai tersandera dengan hiruk pikuk warga kota.

Antara mengurutu dan hati berkata  jujur dengan ucapan Anton, tat kala melihat realita kondisi 53 plakat ucapan terima Aceh untuk dunia yang tertancap kaku di Lapangan Blang Padang dalam kondisi yang tidak terurus selama 10 tahun lebih  (sejak 2008-2018). Ya, kenapa untuk merawat saja begitu sulit ya?***

Komentar

Loading...