Ditetapkan Sebagai Tersangka Ujaran Kebencian di FB

Keluarga MW Mengaku Pasrah

Keluarga MW Mengaku Pasrah
ilustrasi
Penulis
Rubrik

“Istri saya gagal ginjal. Dalam satu minggu dua kali harus cuci darah. Kami masyarakat biasa dan berharap polisi adil melihat kasus ini”

Banda Aceh | Adi (42), suami tersangka ujaran kebencian melalui media sosial facebook berinisial MW (37) mengaku tak bisa berbuat banyak, atas status tersangka yang telah ditetapkan penyidik Polda Aceh kepada istrinya. Sambil tertunduk lesu, Adi mengaku pasrah dan menceritakan kondisi istrinya yang sedang sakit parah, karena harus menjalani cuci darah sebanyak dua kali dalam satu minggu.

“Istri saya gagal ginjal Bang. Jadi, ketika racunnya naik, dia (MW) sering ngelantur sendiri. Nah, kebetulan ada kejadian dugaan bom bunuh diri di Kota Surabaya (Jawa Timur) kemaren, dia komen terus, karena dia juga asli orang Suarabaya,” cerita Adi dengan mata berkaca-kaca, ditemui di kediamannya, Gampong Lam Ara, Kecamatan Banda Raya, Banda Aceh, Kamis (17/5/18) siang.

Adi memastikan, istrinya itu tidak terkait dengan jaringan terororis apapun dan komentar mengenai bom gereja di Surabaya beberapa waktu lalu, dilakukan secara spontanitas saja, tanpa bermaksud memposting ujaran kebencian mengandung suku agama dan ras (SARA).

“Dia itu hanya Ibu Rumah Tangga (IRT) dan tinggal di rumah dan tidak pergi kemana-mana, bisa jadi dia dengar dari para ustad yang ceramah bahwa ‘darah orang kafir itu halal’ makanya dia langsung menulis komentar itu pada status kawannya, dari Surabaya,” ungkap Adi.  

Atas komentar tersebut, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh menjemput istrinya pada Senin (14/5/18) siang. Setelah dibawa ke Polda Aceh, langsung ditetapkan sebagai tersangka karena dituduh telah memposting ujaran kebencian yang mengandung suku, agama dan ras (SARA) yang disampaikan melalui media sosial.

Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol Misbahul menyebutkan, perbuatan pelaku WF melanggar Pasal 45A Ayat (2) juncto Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

“Kami memiliki dua anak perempuan, satu masih kelas III Sekolah Dasar (SD) dan satu kelas II Sekolah Menengah Atas (SMA) di Banda Aceh. Kedua anak saya terus menangis takut ibunya ditahan dan dipenjara. Jadi, dengan tangan terbuka kami meminta aparat kepolisian adil dalam memproses kasus istri saya. Kalau diproses, banyak sekali postingan orang yang lebih SARA, tapi hingga kini tidak pernah disentuh,” harapnya.

Sebelumnya, jajaran Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Aceh menangkap dan mengamankan seorang perempuan, pelaku ujaran kebencian mengandung suku agama dan ras (SARA) yang disampaikan melalui media sosial.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol Misbahul Munauwar di Banda Aceh, Selasa mengatakan, pelaku seorang ibu rumah tangga berinisial WF. Pelaku kelahiran Surabaya, Jawa Timur, pada 1981. "Pelaku beralamat di Gampong Lam Ara, Kecamatan Banda Raya, Kota Banda Aceh. Pelaku diamankan Senin (14/5) sekitar pukul 11.45 WIB," kata Kombes Pol Misbahul Munauwar menyebutkan.

Perwira menengah Polri itu menyebutkan, penangkapan pelaku WF berawal dari kiriman informasi terkait kerusuhan di Rutan Mako Brimob melalui media sosial Facebook pada 13 Mei 2018 sekitar pukul 09.00 WIB. "Informasi tersebut milik orang lain. Kemudian, pelaku WF membagikan informasi tersebut melalui akun Facebook miliknya. Kiriman informasi tersebut terkait dengan rusuhnya Rutan Mako Brimob," kata dia.

Masih kata Kombes Pol Misbahul Munauwar, dalam postingan atau kiriman informasi tersebut terdapat komentar dari teman Facebook terduga dengan inisial LFY. Komentar tersebut dengan kalimat "_iya mbak, ini barusan ada bom di gereja santa maria, ngagel sby mbak_". Selanjutnya terduga pelaku SARA WF membalas komentar tersebut, "ya say.. memang halal darah orang kafir say..,"

Kombes Pol Misbahul menyebutkan, perbuatan pelaku WF melanggar Pasal 45A Ayat (2) juncto Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

"Bersama pelaku, turut diamankan barang bukti berupa satu unit telepon genggam merek OPPO F1s serta kartu seluler yang digunakannya. Pelaku dan barang bukti diamankan di Mapolda Aceh guna pemeriksaan lebih lanjut," kata Kombes Pol Misbahul Munauwar.***

Komentar

Loading...