Paska Konflik Internal Golkar Aceh

Kader Senior Golkar Aceh, Arizan Basyah: Harusnya Nurlif Jadi Perekat Bukan Pemecah Belah!

Kader Senior Golkar Aceh, Arizan Basyah: Harusnya Nurlif Jadi Perekat Bukan Pemecah Belah!
dok. MODUSACEH.CO

Banda Aceh | Salah satu tokoh senior Partai Golkar Aceh Arizan Basyah SH, MBA menilai. Kehadiran TM Nurlif sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Aceh, seharusnya menjadi perekat bagi seluruh potensi partai besar ini, bukan sebaliknya sebagai pemecah belah. Ini sangat mendasar, karena Partai Golkar Aceh sempat dilanda konflik internal panjang, paska terjadi tarik ulur di tingkat nasional antara kubu Agung Laksono versus Abu Rizal Bakrie. Sayangnya, Nurlif yang digadang-gadangkan sebagai tokoh nasional itu, justeru menjadi pemicu terjadi pecah belah di tubuh Partai Golkar Aceh. Padahal, ditingkat nasional kondisi itu sudah mencair, seiring terlaksanakanya Munaslub Bali.

Pendapat itu disampaikan Arizan kepada MODUSACEH.CO melalui pesan singkat, Selasa (16/5/2017). Dia mengaku terpanggil setelah membaca pemberitaan di media ini. “Sebagai partai besar dan berpengalaman dalam kekuasaan, seharusnya kepemimpinan Golkar Aceh lebih bermartabat, bukan dengan cara-cara kampungan dan otoriter seperti itu,” kata Arizan. Itu sebabnya sebut Arizan, kepulangan Nurlif dari Jakarta untuk memimpin Golkar Aceh, awalnya menaruh harapan besar bagi seluruh kader dan simpatisan partai ini, walau sempat terjadi kasak-kusuk dengan persoalan masa lalunya sebagai terpidana kasus korupsi.

“Namun, apa yang dipertontongkan hari ini sungguh memalukan dan mengiris-iris hati kader dan pecinta Golkar di Aceh. Salah satunya saya,” kata mantan Ketua Kadin dan Wantim Golkar Aceh Selatan, yang kini menetap di Jakarta itu.

Di mata Arizan, sifat angkuh, arogan dan sombong yang dimiliki Nurlif belum juga hilang hingga saat ini. Harusnya, kasus yang pernah menimpa dirinya beberapa waktu lalu, bisa membuat Nurlif lebih arif dan bijaksana dalam menghadapi berbagai masalah di tubuh partai. Itu sebabnya, jelang Pileg 2019 mendatang, dia khawatir perolehan kursi DPR RI, DPRA dan DPRK akan berkurang. Indikasi ini terlihat dari sejumlah paslon yang diusung Golkar Aceh kandas pada Pilkada 2017 lalu. “Memang belum terbukti dan perlu waktu, tapi indikasi hasil Pilkada bisa dijadikan acuan. Apalagi status Nurlif sendiri pernah terjerat kasus korupsi. Ini menjadi sisi gelap bagi rakyat untuk memilih dia pada Pileg mendatang,” ujar Arizan.

Di sisi lain,  Arizan menilai, perilaku dan kepemimpinan Nurlif juga sangat dipengaruhi oleh staf di sekitarnya. Artinya, berbagai masukan bisa menjadi positif dan negatif. Namun, karena kepemimpinannya lemah, sehingga dengan mudah terombang ambing dan gamang. “Tapi ya itu tadi, walau hari ini sebagai Ketua DPD I Partai Golkar Aceh, tapi dia tidak cukup pengalaman untuk memimpin. Sepanjang karir yang saya tahu, dia hampir tidak pernah menjadi ketua organisasi besar. Paling Ketua Alumni Universitas Nomensen Medan, selain itu hanya jabatan di posisi sekretaris jenderal. Karena itu wajar leadershipnya kurang mumpuni,” ungkap Arizan.***

Komentar

Loading...