Breaking News

Jembatan Gantung Alue Keumang Mulai Dibangun Tahun 2020

Jembatan Gantung Alue Keumang Mulai Dibangun Tahun 2020
Jembatan gantung penghubung Desa Alue Keumang, Babah Lueng dan Meunuang Kinco Kecamatan Pante Cereumen menuju pusat Kota Meulaboh (Foto: Aidil Firmansyah)

Meulaboh | Dinas Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Rakyat (PUPR) Kabupaten Aceh Barat, memastikan pembangunan jembatan gantung penghubung Desa Alue Keumang, Babah Lueng dan Meunuang Kinco Kecamatan Pante Cereumen menuju pusat Kota Meulaboh, yang rubuh pada akhir tahun 2018 lalu akan dibangun pada tahun 2020 mendatang.

"Pembangunannya akan dilakukan pada tahun 2020 sekitar bulan April sudah mulai bekerja. Dananya bersumber dari otonomi khusus (Otsus), kalau tidak kita bebankan kepada APBK," kata Pelaksana Tugas (Plt), Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Pekerjaan Rakyat (PUPR) Kabupaten Aceh Barat, Bukhari kepada MODUSACEH.CO, Kamis (21/3/2019).

Saat ini kata dia, besaran anggaran yang diperuntukan masih dalam perhitungan tim teknis lapangan, melalui dana Otsus ataupun Anggaran Pendapatan Belanja Kabupaten (APBK) Aceh Barat dan  diyakini mampu membuat baru jembatan tersebut. Bahkan dulunya jembatan gantung sepanjang 150 meter dengan luas sekitar 2 meter rencananya akan dilakukan pelebaran.

Dikatakannya, pembangunan jembatan tersebut juga akan dipindahkan lokasinya dari posisi semula. Sebab di lokasi awal sangat tidak layak lagi digunakan karena terkikis sungai, sebab akan digeser sekitar 50 meter ke samping.

"Masyarakat juga menghibahkan tanah untuk pembangunan atbumen jembatan di lokasi baru, sekitar 50 meter ke samping akan dipindah, kita juga akan mengecek lebih rinci tentang kondisi tanah di sana. Dulu hanya bisa lewat sepeda motor saja, kalau ke depan akan bisa dilalui mobil," jelasnya.

Diberitakan sebelumnya, warga dan anak-anak sekolah di daerah itu terpaksa menggunakan rakit seperti dulu sebelum ada jembatan gantung untuk menghemat waktu. Meskipun ada jalur lainnya untuk menuju pusat kecamatan dan perkotaan, enggan digunakan warga karena jarak tempuh yang begitu jauh hingga 2 jam perjalanan.

Sekali menyeberang warga harus mengeluarkan biaya Rp 5 ribu untuk pembayaran jasa penyeberangan rakit apabila membawa sepeda motor, sementara bagi pejalan kaki hanya dipungut Rp 2 ribu saja bahkan bisa gratis. Meskipun berbayar warga tetap saja memilih jalur alternatif itu. Rakit itu dibuat secara swadaya oleh masyarakat.

Badan jembatan gantung yang rubuh akibat diterjang derasnya aliran sungai krung mereubo, masih terlihat didalam sungai, tidak ada yang menyentuh dan mengambil besi tua karatan itu, malah dibiarkan begitu saja, sehingga ketika air pasang sungai naik, bekas dinding jembatan yang terbuat dari besi menyerupai jaring itu membuat sampah dengan mudah tersangkut.

Jalan menuju kedua desa itu masih bebatuan tajam, jika tidak berhati hati dalam berkendara maka sangat berpotensi jatuh sebab kehilangan keseimbangan. Banyak warga yang mengeluhkan kondisi gampong mereka, mau tidak mau tetap saja mereka harus menggunakannya untuk beraktivitas sehari-hari.

"Sebab antusiasnya warga menghibahkan tanah untuk pembangunan jembatan, maka pihak PUPR memastikan pada tahun 2020 tepatnya di bulan 4 akan mulai dikerjakan pembangunan jembatan tersebut," jelas Bukhari.***

Komentar

Loading...