Jelang Pilkada, Menristekdikti: Perguruan Tinggi Bukan Pencetak Hoax

Jelang Pilkada, Menristekdikti: Perguruan Tinggi Bukan Pencetak Hoax
(Dok Kemristekdikti)
Penulis
Sumber
okezone.com

SEMARANG | Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyoroti perkembangan kampus agar tidak dijadikan media politik dalam masa-masa Pilkada yang akan dijalani. Ia tegaskan kampus di Indonesia harus menjauh dari hal yang demikian.

Hal tersebut ia katakan saat pelaksanaan kegiatan Kampus Nusantara Mengaji yang dilaksanakan di Gedung Prof. Wuryanto (Auditorium), Kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes), baru-baru ini.

"Jangan sampai Perguruan Tinggi menjadi provokator, jangan sampai Perguruan Tinggi sebagai pencetak hoax, jangan sampai menciptakan permusuhan. Tugas Perguruan Tinggi adalah menciptakan kader intelektual masa depan, maka dari itu kita harus selalu jaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia", ujar Nasir dalam siaran persnya.

Sebagai salah satu inisiator Kampus Nusantara Mengaji, Nasir mengatakan tujuan Nusantara Mengaji ialah meningkatkan ketaqwaan kepada Tuhan YME, dan menjaga kesatuan Republik Indonesia, menjaga perdamaian, dan menjaga keberagaman bangsa Indonesia.

"Tahun 2018 adalah tahun dimulainya Pilkada, mari kita jaga bersama keutuhan bangsa Indonesia. Oleh karena itu tidak boleh adanya perdebatan atau pergesekan umat beragama. Jangan sampai setelah adanya Pilkada bangsa Indonesia terpecah belah," kata Nasir.

Nasir juga menyapa beberapa perguruan tinggi di Indonesia yang melakukan kegiatan Kampus Nusantara Mengaji melalui teleconference, diantaranya, Unima, Unila, Unijoyo,  Unmul, UNS, Unsri, Unsyiah, ITS, Untirta, UNY, Undip.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Unnes Fathurrokhman sendiri mengatakan acara tersebut merupakan sebagian usaha dari menjaga keutuhan negara. Menurut Fathur, hal ini sesuai dengan misi Unnes untuk mewujudkan Universitas yang berwawasan konservasi dan berakreditasi internasional. Ada tiga pilar konservasi yang diemban, konservasi lingkungan, budaya, dan pendidikan karakter.

"Karakter mahasiswa dan dosen harus menunjukkan karakter yang mulia atau akhlakul karimah. Dengan pembelajaran Alquran sebagai pendidikan karakter bagi mahasiswa dan dosen, diharapkan tertanam karakter yang mulia," pungkasnya.***

Komentar

Loading...