Breaking News

Jejak Islam di Simeulue, Mimbar Berusia Seabad Lebih Ada di Desa Lataling

Jejak Islam di Simeulue, Mimbar Berusia Seabad Lebih Ada di Desa Lataling

Simeulue | Keberadaan agama Islam di Simeulue sudah ada sejak ratusan tahun lalu, dibuktikan dengan adanya benda-benda bersejarah peninggalan Islam yang terdapat di beberapa tempat di Kabupaten kepulauan itu.

Di Desa Lataling, Kecamatan Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, yang berjarak kurang lebih 15 kilometer dari Sinabang, Ibukota Simeulue misalnya, terdapat peninggalan Islam berupa mimbar khutbah yang telah berusia 106 tahun lebih.

Mimbar sederhana berbentuk empat persegi itu dibuat pada tahun 1913, terdapat kubah kecil di atasnya yang bermotif susun sirih.

Saat ini kondisi kubahnya terpisah dari rangka mimbar utama.

"Mimbar ini sudah berusia lebih dari seratus tahun, dibuat oleh nenek moyang kami dulu. Saat ini mimbar bersejarah ini sudah tidak dipakai lagi, sebab kondisinya sudah tidak baik dan telah digantikan dengan mimbar yang baru," kata H. Tardin LN, pada MODUSACEH.CO, Kamis, 30/05/2019.

Dikatakan Tardin LN, mimbar khutbah yang terletak di Mesjid Nurul Sa'adah Lataling itu terbuat dari kayu rasak pilihan. Kondisinya sudah banyak berubah dari aslinya, perubahan itu ada pada bentuk serta pernak-perniknya.

"Dulu mimbar ini ada banyak motifnya, namun saat ini sudah banyak berubah akibat termakan usia, bahkan ada tangga untuk naik yang dipotong karena sudah lapuk," jelas Tardin LN, yang pernah menjabat sebagai kepala desa di situ 14 tahun lamanya.

Lebih lanjut dijelaskannya, selain terdapat banyak ukiran, juga ada bekas telapak kaki salah seorang ulama di atas anak tangganya, telapak kaki itu menempel saat ulama itu menyampaikan khutbah pertama kali di atas mimbar tersebut.

"Dulu pada anak tangga mimbar ini ada bekas telapak kaki yang menempel di atasnya, namun saat ini sudah tidak ada sebab sudah lapuk dan telah dipotong," katanya.

Hal serupa dikatakan Kepala Desa Lataling, Agusman. Menurut cerita nenek moyang yang diceritakan secara turun temurun, mimbar itu sudah cukup lama dibuat sebagai tempat khutbah di Mesjid desa itu, namun dalam dua tahun ini sudah tidak dipergunakan lagi, dikarenakan kondisinya sudah lapuk termakan usia.

Kedepan pihaknya beserta masyarakat setempat akan berusaha memperbaiki untuk dijadikan bukti sejarah perkembangan Islam di Simeulue khususnya di desa itu.

"Kita perbaiki, nantinya akan kita pajang di lokasi yang strategis sehingga dapat dilihat oleh masyarakat yang melintas, ini sebagai bukti sejarah perkembangan Islam di desa yang dulu disebut "Dataren" (ditinggalkan) ini," jelas Agusman.***

Komentar

Loading...