Pangdam IM, Mayor Jenderal TNI Luczisman Rudy Polandi 

Jangan Ada Yang Ngaku Kebal Hukum!

Jangan Ada Yang Ngaku Kebal Hukum!
MODUSACEH.CO
Rubrik
Sumber
Majalah Inspirator
Banda Aceh | Walau tren kekerasan dan aksi kriminal belum menunjukkan angka meningkat, jelang Pilkada Aceh 2017, namun Pangdam Iskandar Muda Mayor Jenderal TNI Luczisman Rudy Polandi, lebih awal memberi sinyal terhadap  elemen masyarakat, baik para calon maupun tim sukses, untuk tidak melakukan tindakan dan perbuatan yang melawan hukum.

Jika itu terjadi, bersama jajaran Polda Aceh, kata Mayjen Rudi Polandi, pihaknya siap untuk bertindak. “Jangan ada yang ngaku saya kebal hukum,” tegas jenderal bintang dua ini dalam wawancara khusus dengan Majalah INSPIRATOR (kelompok media MODUSACEH.CO), awal Agustus 2016 lalu di Banda Aceh.
 
Menurut Pangdam Iskandar Muda ini, secara garis besar, Aceh saat ini sudah cukup baik dan kondusif. Masyarakat juga sudah cerdas sehingga bisa lebih maju. Dan, para calon atau kandidat pemimpin Aceh juga sudah mulai ada keterbukaan antara satu dengan yang lain, sehingga suasana ini cukup baik untuk menuju Pilkada damai 2017 mendatang.

Begitupun saran Pangdam IM, para pasangan calon (paslon) tetap perlu menjalin komunikasi lebih baik dengan rakyat. Karena rakyat Aceh sudah cukup mengerti tentang persoalan yang ada dan sosok para calon pemimpin tadi. Baik gubernur, bupati maupun walikota, dibandingkan lima atau sepuluh tahun lalu.

Hal yang paling mendasar sebutnya adalah, siapapun yang terpilih nantinya, sektor ekonomi perlu perbaikan secara total, termasuk kemiskinan. Selanjutnya pendidikan, yang harus mendapat perhatian utama dari pemerintah daerah. Dan itu harus didasari pada kemampuan internal (keluarga dan sekolah) serta eksternal pemerintah daerah. Saling mengkait, sehingga pembangunan Aceh ke depan dapat komprehensif dan berkesimbungan.

“Semua harus disinergikan, karena Aceh mayoritas Islam. Jangan sampai disusupi oleh kelompok radikal. Karena, dari kelemahan pendidikan, ekonomi dan kemiskinan tadi menjadi sangat rentan untuk dimanfaatkan oleh kelompok tertentu dalam mewujudkan atau menghidupkan kelompok radikalisme atau terorisme di Aceh. Karena orang yang terkena ajaran dan paham terorisme teracumi pikirannya. Itu disebabkan, mereka kekurangan pangan, pendidikan, ekonomi dan akibat miskin. Karena itu, untuk bisa maju secara komprehensif, maka dibutuhkan dan perlu kerjasama dari semua elemen masyarakat,” ajak Pangdam IM, Mayjen Rudi Polandi.

Selain itu, perlu ada kebersamaan antar aktivis LSM dan ini banyak sekali di Aceh. Ulama dengan pemerintah daerah, pemuda, santri serta politisi. Jangan saling menjatuhkan sehingga masyarakat tidak binggung dengan berbagai informasi yang disampaikan. Jika ini bisa diwujudkan, maka Aceh akan bisa dikelola dengan baik oleh siapapun yang nanti jadi gubernur, bupati dan walikota. Saya yakin mereka bisa memajukan Aceh.

Secara pribadi, saya suka kultur Aceh yang penuh kekeluargaan. Dari pengalaman bertugas di Aceh, budaya itu sangat membantu dalam pergaulan dan komunikasi dengan masyarakat. Di Aceh, begitu kumpul satu atau dua orang, maka kita akan banyak dapat kawan. Saya sudah keliling Indonesia. Mulai Papua, Ambon hingga Aceh. Aceh beda kulturnya. Kedua, tidak ada preman yang berkeliaran. Beda dengan kampung saya di Jawa Barat atau Makasar, banyak geng motor. Tapi di Aceh nyaris tidak ada. Kita pulang jam dua malam pun tidak ada yang ganggu. Jadi, secara umum Aceh itu aman,” katanya.

Jenderal yang sudah kenyang asam dan garam bertugas di Aceh ini juga berpendapat. Masyarakatnya terlalu santai ya. Banyak warung kopi dan suka ngomongin orang dan itu dosa (ha..ha). Karena itu jangan berlama-lama di warung kopi, selanjutnya bekerja. Tapi memang ada dilema, karena masih banyak pengangguran di Aceh. Karena itu, atas perintah Panglima TNI, kami (Kodam Iskandar Muda) telah melatih keterampilan seratus orang pengangguran termasuk preman di Rindam. Ada beberapa orang yang telah ditarik oleh perusahaan di Jakarta. Itu kritik saya,” sebutnya.

Terkait jelang Pilkada Aceh 2017, dengan tegas dikatakan. “Pilkada Aceh wajib aman dan damai, bukan sunat (ha..ha). Untuk bisa aman dan damai, tentu harus didasari niat tulus dan ikhlas dari calon maupun pendukung. Siap menang atau kalah. Yang menang jangan arogan dan yang kalah jangan buat onar. Mereka harus tahu, usaha itu wajib tapi  semua itu sudah ada ketentuan dan amanah dari Allah SWT. Jangan karena kepentingan sesat merusak lalu mengusik dan menggadaikan kedamaian rakyat Aceh”.

Dia menghimbau, rakyat Aceh harus berani melaporkan setiap kejadian yang timbul dan terjadi di daerahnya. Mulai dari lingkup terkecil gampong atau desa hingga kecamatan dan kabupaten. Saya sudah perintahkan pada semua tingkatan komando. Mulai dari Babinsa di Koramil, Kodim dan Korem untuk memantaunya. Masyarakat bisa melapor setiap indikasi dan kejadian yang mengarah pada tindak kekerasan serta teror. “Saya sudah koordinasi dengan Kapolda Aceh. Kami sepakat, tidak ada lagi yang bisa mengaku bahwa saya kebal hukum,” tegasnya.

Khusus untuk para kandidat dan tim suksesnya, dia berpesan. “Tidak ada lawan yang ada hanya kawan, karena kita satu aqidah yaitu Islam. Memang yang mengamankan Pilkada di lini satu adalah Polri, TNI siap memback-up. Tapi semua elemen masyarakat, mulai dari pelajar, mahasiswa, aktivitas LSM, politik, ulama serta pejabat daerah maupun tokoh adat dan pegawai sampai tingkat bawah, harus ikut berpartisipasi secara aktif”.

Lantas, jika ada pihak yang menganggu jalannya pilkada?” Saya sudah koordinasi dengan Kapolda Aceh, akan kami disikat! Saya bersama Polri menjalankan strategi negara dengan menghilangkan anasir-anasir yang menganggu stabilitas negara dan daerah. Jika ada yang memprovokasi, tentu kami amankan dan proses. Tidak ada yang kebal hukum! Kami berikan penjelasan, jika tidak akan diproses hukum dan kami serahkan ke polisi atau kejaksaan,” kata Pangdam IM.

Jika ada yang tak patuh? “Yang pasti, jangan ada lagi bicara bahwa saya kebal hukum! Karena akan menjadi besar kalau dibiarkan. Ini  tidak boleh terjadi! Karena itu, jangan ada pejabat yang menyatakan mendukung si A atau B. Tidak boleh ada kecenderungan untuk memihak salah satu calon,” ulasnya.

“Sebagai prajurit TNI, saya lama bertugas di Aceh hingga saat ini. Karena itu saya sangat paham tentang Aceh. Yang penting netral, silahkan atur strategi dengan baik, siapa yang menang itulah yang terbaik untuk Aceh,” himbau Pangdam IM, Mayjen Rudi Polandi.***
 

Komentar

Loading...