Pidato Politik AHY (bagian satu)

Jalan Tengah Partai Demokrat Diantara “Ambiguitas” Kepemimpinan Bangsa

Jalan Tengah Partai Demokrat Diantara “Ambiguitas” Kepemimpinan Bangsa
Komandan Kogasma Pemenangan Pemilu Partai Demokrat (PD) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan orasi politik (Foto: Ist)
Penulis

Jumat, 1 Maret 2019 lalu, sejumlah wartawan dari Aceh diundang Wakil Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Partai Demokrat, Teuku Rierky Harsya ke Jakarta, mengikuti pidato politik Komandan Kogasma Pemenangan Pemilu Partai Demokrat (PD) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Sejumlah rekomendasi disampaikan partai yang lahir dari tangan dingin Presiden RI Ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono ini kepada Presiden RI mendatang. Berharap, melakukan perubahan untuk kemajuan Indonesia. Berikut laporan wartawan MODUSACEH.CO, Muhammad Saleh yang ikut hadir pada acara tersebut.

GEDUNG pertemuan (hall) Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Jumat malam, 1 Maret 2019, penuh sesak dengan kader dan pengurus Partai Demokrat (PD) dari seluruh Indonesia. Sedikitnya, ada seribuan lebih kader, termasuk wartawan, ikut hadir di sana.

Tak jangan salah, tak ada Premiere film, tarian, atau komposisi musik terbaru. Sebaliknya, orasi politik putra pertama SBY. "Presiden hasil Pemilu tahun 2019 yang diharapkan bisa terus melakukan perubahan dan kemajuan yang nyata bagi kehidupan rakyat. Partai Demokrat berpendapat bahwa hakikat pembangunan adalah kesinambungan dan perubahan. Continuity and change. Yang sudah baik lanjutkan, yang belum baik perbaiki," tegas AHY, disambut aplus ribuan kader Partai Demokrat.

Dia berterima kasih kepada seluruh kader Partai Demokrat, dan rekan-rekan media. Termasuk para duta besar dan diplomat serta alumni Angkatan I, Taruna Akademi Demokrat, yang baru dibentuk tahun lalu. “Akademi Demokrat didesain untuk membangun karakter sebagai patriot, pejuang dan pemimpin; agar mereka memiliki loyalitas dan pengabdian kepada negara, diatas kepentingan pribadi dan golongan,” jelas AHY.

Pendidikan Akademi Demokrat dilakukan melalui metode tri pola dasar, Tri Sakti Wiratama, yakni gabungan kekuatan mental, fisik, dan intelektual. Ini adalah sumbangsih Partai Demokrat dalam menyiapkan para calon pemimpin bangsa di masa depan.

“Pada malam ini, izinkan saya berbicara kepada seluruh rakyat Indonesia, mewakili kader dan keluarga besar Demokrat di seluruh tanah air, untuk menyampaikan pidato politik Partai Demokrat. Judul pidato ini adalah “Rekomendasi Partai Demokrat untuk Presiden Indonesia Mendatang.” Presiden hasil Pemilu tahun 2019, Presiden yang diharapkan bisa terus melakukan perubahan dan kemajuan yang nyata bagi kehidupan rakyat. Partai Demokrat berpendapat bahwa hakikat pembangunan adalah kesinambungan dan perubahan. Continuity and change. Yang sudah baik lanjutkan, yang belum baik perbaiki,” ucap AHY.

Menurut dia, ada tiga hal pokok yang patut dipikirkan para kader Demokrat dan rakyat Indonesia. Pertama, tantangan Indonesia 2019-2024, dalam perspektif dunia internasional dan nasional. Kedua, persoalan dan aspirasi rakyat, serta solusi dan kebijakan yang ditawarkan Demokrat dan ketiga, ajakan Demokrat menyikapi perkembangan situasi sosial politik dewasa ini. “Kami menyadari, Demokrat tidak memiliki kader utama yang menjadi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden 2019-2024. Karenanya, tidaklah berlebihan jika melalui forum ini, kami menyampaikan rekomendasi kepada Presiden mendatang, sebagai wujud kontribusi Partai Demokrat dalam memperjuangkan harapan rakyat Indonesia,” ujar AHY.

Masih kata AHY. “Seyogianya, pidato politik ini akan disampaikan langsung Ketua Umum Partai Demokrat, Bapak Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, beliau tidak dapat hadir di tempat ini, karena sedang mendampingi Ibu Ani Yudhoyono dalam menjalani pengobatan dan perawatan secara intensif di Singapura. Insya Allah, hati dan pikiran beliau berdua tetap bersama kita, dalam perjuangan yang penting ini. Atas nama keluarga besar Pak SBY, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Indonesia, yang telah memberikan perhatian dan doa yang tulus bagi kesembuhan Ibu Ani. Semoga Allah SWT membalas budi baik Bapak Ibu sekalian,” papar dia.

20190302-wartawan-aceh

Sejumlah wartawan Aceh mendapat undangan liputan khusus (Foto: Ist)

Sebagai anak, AHY ingin mendampingi dan menguatkan hati Ibu Ani. Namun, justru mendorong dirinya untuk tetap turun ke tengah-tengah masyarakat. “Semangat dari Ibu Ani ini, insya Allah, menjadi inspirasi bagi kita semua, untuk terus berjuang, bersama rakyat Indonesia”.

Kepada seluruh kader Demokrat, AHY mengingatkan; Ibu Ani yang sedang terbaring sakit saja, masih memikirkan nasib rakyat; maka kita yang dikaruniai kesehatan ini, harusnya jauh lebih bersemangat lagi, untuk memperjuangkan harapan dan masa depan rakyat yang kita cintai.

“Negara kita adalah negara yang besar; terbesar di ASEAN; anggota G-20; negara dengan jumlah populasi muslim terbesar. Kini, Indonesia kerap disebut sebagai “global player, regional power”. Kata AHY Pada bagian pertama dari pidato itu.

Itu sebabnya, pidato politik AHY, bisa disebut sebuah potret tentang "ambiguitas" pemimpin dan bangsa ini di tengah tantangan yang dihadapi Indonesia lima tahun ke depan, baik dalam perspektif dunia internasional maupun nasional. “Ke depan, kita optimis, Insya Allah, Indonesia akan semakin dihormati dan disegani dunia internasional. Tetapi, optimisme saja tidak cukup. Untuk itu, kita perlu memahami berbagai tantangan yang akan kita hadapi,” tegas AHY.

Sebut AHY, beberapa tantangan global itu antara lain; dinamika hubungan antar negara yang diwarnai kerjasama, kompetisi, dan konfrontasi; masalah sumber daya alam yang makin menipis; perubahan iklim; jumlah penduduk dunia yang makin besar; serta perkembangan teknologi yang sangat cepat.

“Di tingkat nasional, Demokrat juga memotret sejumlah tantangan, antara lain; bagaimana kita dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di atas 6 persen. Tentu, pertumbuhan ekonomi yang inklusif, merata dan berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi yang juga bisa menciptakan lebih banyak lapangan kerja dan sekaligus mengurangi kemiskinan. Artinya, kue pembangunan ekonomi yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat, termasuk the bottom 40, atau sekitar 100 juta saudara-saudara kita, yang terkategori miskin dan kurang mampu,” ujarnya.***

Komentar

Loading...